Apa Jadinya Kalau di Fase Quarter Life Crysis Mengalami ADHD

Fenomena ADHD Pada Kelompok Usia Kerja dan Korelasi Dengan Kesejahteraan Hidup

Kenapa Terjadi di Usia Kerja?

Saya tidak ingin menyalahkan internet dan konsumsi video pendek sebagai satu - satunya pemicu seseorang yang memasuki usia kerja (20-25 tahun) mengalami ADHD. Mereka yang sedang di fase shifting dari pelajar menjadi pekerja adalah seseorang yang hidup dimana internet sudah ditemukan. Sosial media bukan satu - satunya penyebab seseorang mengidap ADHD. Seseorang tidak bisa dengan sendirinya mendiagnosa mengidap ADHD. Kita tetap membutuhkan diagnosa Psikolog dan Psikiater untuk memastikan gangguan ini ada di dalam diri. Sedangkan Media Sosial adalah salah satu katalisator (mempercepat pemicu terjadinya ADHD) yang banyak diidap oleh masyarakat usia kerja

Konsumsi video pendek (tiktok, instagram reels, dan short) memberikan otak simulus visual secara instan. Bagi seseorang yang mengidap ADHD sosial media memberikan pelarian yang sangat adiktif untuk menghindari kecemasan akibat tingkat regulasi dopamine yang kurang efisien. Seseorang tidak begitu serta merta mengidap ADHD. Faktor genetik dan lingkungan menjadi sumber dari gangguan produktivitas ini. Khusus untuk faktor lingkungan, generasi pekerja awal saat ini dibesarkan dengan era internet, seperti di era Covid-19 misalnya. Kondisi pandemi membuat mereka hidup begitu melekat dengan Internet dan sosial media

Ketidakmampuan mereka dalam melakukan management waktu untuk bersosial media serta mengkonsumsi internet, membuat gejala ADHD semakin buruk. Algortima media sosial yang memberikan reward secara instant ke dalam tubuh, tanpa banyak mengeluarkan effort. Sehingga kegiatan yang membutuhkan fokus seperti mengerjakan hal sulit, berkonsetrasi untuk mengerjakan tugas menjadi sesuatu yang sangat membosankan dan menyiksa

Tingkat Kecemasan Hidup Yang Tinggi

Media sosial juga kerap menyajikan komparasi kehidupan. Di Usia 20-25 tahun, seseorang cenderung membandingkan diri dengan apa yang dicapai orang lain. Banyak Influencer muda yang mempertontonkan kehidupan mewah. Kita sebagai audience hanya sibuk scrolling sambil meratapi menunggu panggilan kerja. Kebiasaan membandingkan diri yang disebabkan oleh sosial media ini menjadi hal yang begitu lumrah kita temui di usia 20 - 25 tahun.

Tingkat kecemasan yang tinggi (anxiety) yang banyak diderita oleh usia pekerja, secara tidak langsung mempengaruhi produktivitas seseorang. Beberapa konten di Instagram atau Sosial Media bisa kita temukan, bagaimana audience sekarang begitu mengalami kecemasan. Membuat konten tentang rasa cemas, berharap mendapatkan atensi dari orang yang merasakan hal yang sama, dianggap jauh lebih penting daripada meluangkan waktu untuk meningkatkan skill

Kecemasan yang mereka rasakan, menghasilkan penundaan yang begitu kronis. Menunda merupakan salah satu gejala ADHD. Banyak seseorang di usia kerja memilih untuk menunda untuk melakukan hal penting, dan mengalihkan perhatian ke hal yang tidak penting, hanya untuk sekedar mengalihkan diri dari rasa cemas

Misalnya mereka memilih untuk pergi doom scrolling tiktok daripada sibuk melamar kerja atau menambah skill. Memilih untuk melihat streaming artis daripada melakukan networking untuk memperluas relasi. Kebiasaan menunda ini merupakan bagian dari coping capacity dari rasa cemas yang mereka rasakan. Dan rasa cemas, berasal dari banyaknya mengkonsumsi sosial media

Efek Kebiasaan Menunda Untuk Lingkungan Kerja

Di bangku kuliah kita diajarkan untuk mengatur waktu secara mandiri. Mulai dari memilih berapa SKS yang kita ambil, dan berapa waktu yang harus diluangkan untuk ikut organisasi. Namun setelah lulus kuliah, kita diberikan kebebasan yang begitu besar untuk menentukan kemana arah selanjutnya yang harus kita tuju. Dan sayangnya banyak yang gagal dalam fase ini

Banyak dari kita menunda untuk segera apply pekerjaan. Kondisi mental yang cemas juga memberikan efek impulsif pada penderita ADHD di usia kerja. Seperti misalnya asal - asalan apply job. "Yang penting segera bekerja, udah capek nganggur". Saat kuliah, kita terbiasa melakukan penundaan misalnya menunda untuk mengerjakan tugas. Kita terbiasa untuk mengerjakan tugas H-1 sebelum dikumpulkan. Kebiaaan menunda ini yang kadang menjadi obstacle (penghalang) bagi jobseeker.

Bagi perusahaan, waktu adalah sumber paling berharga selain uang. Mereka ingin siapapun yang bekerja di perusahaan memberikan manfaat dalam bentuk tambahan pendapatan, dan menuntut pekerja untuk bekerja semaksimal mungkin

Kebiasaan menunda dan impulsif serta mudak terdistraksi yang menjadi gejala ADHD ini banyak terjadi di usia kerja sekarang. Perusahaan menuntut KPI yang tinggi untuk bisa dicapai oleh pekerja. Kebiasaan untuk menunda pekerjaan, tidak jarang akan menjadikan pekerja tidak berhasil mencapai KPI. Dampaknya adalah mereka cenderung tidak loyal pada perusahaan.

Jika kita lihat trend, dalam satu tahun kita menemui seseorang berganti pekerjaan sebanyak 3 kali. Dalam sudut pandang pekerja, mereka selalu merasa bahwa sistem kerja tidak supportif. Padahal bisa jadi pekerja yang mengalami kesulitan beradaptasi dan berkompetisi di lingkungan kerja. Menjadi kutu loncat dalam mencari kerja, bukanlah sinyal yang baik untuk seseorang memulai jenjang karir

Kita juga sering melihat, bagaimana pekerja sekarang mudah terdistraksi karena minimnya daya juang (grit) akibat kebiasaan menunda. Kemampuan untuk fokus mengerjakan hal sulit menurun dari generasi ke generasi. Di dalam satu jam bekerja, fokus kita mudah sekali terdistraksi. Rata - rata seseorang terdistraksi sebanyak 10X dalam satu jam bekerja. Scrolling sosial media, order makan online, atau merokok sekalipun.

Banyak pekerja merasa beban kerja saat ini dirasa terlalu berat. Padahal penyebabnya karena kemampuan fokus kita saja yang menurun

Konklusi

Gangguan ADHD tidak bisa kita diagnosis sendiri, membutuhkan bantuan Psikiater ata Psikolog. Namun gangguan ADHD bisa kita sadari dengan melihat gejalanya dan mengenali pemicunya. Sosial Media adalah salah satu pemicu gangguan ADHD. Pada kelompok usia kerja 20 - 25 tahun, gangguan ADHD tidak hanya berdampak pada hidup, namun juga berdampak pada tingkat kesejahteraan hidup. Pekerjaan yang bernilai tinggi menuntut kualitas SDM yang tinggi. SDM kualitas tinggi membutuhkan grit (daya juang) yang tinggi untuk menyelesaikan hal sulit. Sedangakan gangguan ADHD membuat seseorang sulit untuk menyelesaikan hal sulit dalam pekerjaan, dan sosial media mempercepat gangguan ADHD hadir di kehidupan kelompok usia kerja