Katanya Ekonomi Lagi Sepi. Kok Coffe Shop Rame?

Paradoks Ramainya Coffe Shop ditengah Lesunya Kondisi Ekonomi

Fenomena Menarik

Paradoks ekonomi yang paling nyata saat ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat kita menghabiskan uang untuk kopi ditengah isu lemahnya kondisi ekonomi negara. Kebiasaan masyarakat kota dan sebagian daerah di Indonesia yang gemar mengkonsumsi kopi ini tidak bisa dijadikan satu - satunya parameter untuk mengukur kondisi ekonomi. Perpindahan uang untuk konsumsi masyarakat ini unik, dan menjelaskan bagaimana shifting bagaimana uang bergeser di masyarakat.

Jika dilihat, demografi masyarakat yang gemar kek coffe shop adalah masyarakt usia muda. Coffe shop saat ini banyak diisi oleh Gen Millenial, dan GenZ. Jika ekonomi sedang sulit, bagaimana mereka bisa menghabiskan uang untuk membeli kopi dan makanan di cafe seharga 50 ribu untuk satu kali nongkrong? Lantas, apakah kondisi ekonomi yang sullit ini tidak berdampak kepada masyarakat usia muda?

Ada beberapa alasan psikologis, sosiologis, dan ekonomi mengapa angka pertumbuhan 5,6% terasa kontradiktif di lapangan, dan mengapa anak muda tetap memenuhi coffe shop di tengah kesulitan ekonomi

Perbedaan Struktur Keuangan

Dalam tulisan kali ini, kita akan membatasi pembahasan di seputar masyarakat usia muda. Yaitu usia awal dewasa (17-20 tahun), usia pencari kerja pertama (21-25 tahun), dan usia dewasa yang berkeluarga (26-40 tahun)

Pembuatan rentang usia muda masyarakat ini akan mempermudah kita untuk menganalisa bagaimana kehidupan yang mereka jalani terhadap pola konsumsi.

Di Indonesia, rata - rata seseorang menikah di umur 25-30 tahun. Pada kelompok usia ini, mereka dihadapkan secara langsung dengan inflasi barang pokok yang tidak bisa ditunda : kebutuhan keluarga, sekolah anak, KPR Rumah, beban hutang, dan asuransi. Ketika harga - harga kebutuhan pokok naik, maka sisa uang mereka akan terkuras habis. Berbeda dengan mereka yang masuk di usia dewasa awal atau usia pencari kerja pertama. Beberapa kebutuhan pokok tidak sebanyak usia dewasa yang berkeluarga. Karena tidak memiliki beban tanggungan makro (anak dan cicilan besar), sisa uang yang mereka miliki—meskipun jumlahnya tidak besar—bisa langsung dialokasikan untuk konsumsi gaya hidup.

Beberapa kali kita melihat quote di Instagram atau Tiktok yang berbunyi "Yang Kerja Aja, Masih Nyari Kerja Tambahan". Bagi kelompok usia yang sudah berumahtangga, fenomen side job ini tidak hanya menjadi pilihan, namun sebuah keharusan. Ketika gaji tak mengalami kenaikan signifikan, sedang kebutuhan pokok mengalami inflasi yang begitu besar

Selain Coffe Shop, salah satu hal yang biasanya dijadikan tolok ukur adalah bagaimana mereka menghabiskan uang untuk membeli konser. Seperti yang kita tahu, di tahun 2026 ini, yang saat lesunya ekonomi dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Justru artis dan penyanyi luar negeri berbondong - bondong untuk menyelenggarakan konser di Indonesia. Keberadaan paylater, dan pinjol juga mendukung bagaimana ekosistem mengangkat gaya hidup ini untuk terus eksis di masyarakat.

Cafe : Simbol Kemewahan Yang Terjangkau

Sosial media mengajarkan kita satu hal : Orang Lain Harus Tau Kalau Kita Eksis. Mempertahankan sesuatu bagi sebagian orang adalah hal yang penting, termasuk eksistesi. Ya... meskipun orang lain tidak peduli. Kecuali kalau kita selebgram, artis, atau seleb. Tapi begitulah kehidupan modern saat ini berjalan. Dan pergi ke cafe, sekedar berfoto, atau hanya menikmati momen adalah bagian dari mempertahankan eksistensi

Dalam ilmu ekonomi, ada fenomena yang disebut The Lipstick Effect. Ketika kondisi ekonomi memburuk dan orang merasa tidak mampu membeli barang mewah yang besar (seperti rumah atau mobil), mereka akan beralih membeli kemewahan kecil untuk menghibur diri. Sambil memfoto Secangkir Kopi di Cafe Favorit dengan tulisan "Kita Generasi Perintis Bukan Pewaris. Untuk Itu Asupan Kopi Dulu"

Secangkir kopi seharga Rp35.000 hingga Rp50.000 adalah "kemewahan yang terjangkau". Mereka mungkin sadar tidak punya cukup uang untuk uang muka (DP) rumah, tetapi mereka punya cukup uang untuk membeli "pengalaman" nyaman selama 3 jam di kafe. Kehidupan modern mengajarkan kita bahwa mempertahankan eksistensi lebih penting dibandingkan untuk memperjuangkan sesuatu yang manfaatnya lebih panjang. Membeli Rumah misalnya.

Ironisnya, kondisi masyarakat kita yang "hedon" dalam gaya hidup ini tidak dilihat pemerintah sebagai keresahan kolektif. Harga rumah masih saja mahal, harga bahan pokok terus naik. Kita sudah terlanjur lebih khawatir terhadap kenaikan biji kopi, jadi sudah tidak peduli terhadap harga rumah yang terus melambung tinggi.

Pergeseran Fungsi Coffe Shop : Dulu Leisure Sekarang Jadi Tempat Kerja

Masih ingat quote diatas? "Yang Kerja aja Masih Nyari Kerja Tambahan". Coffe Shop menjadi pilihan yang realistis untuk dijadikan tempat bekerja. Menjamurnya freelance, remote working yang banyak dilakukan oleh masyarakat saat ini, ikut membuat tumbuhnya coffe shop secara signifikan.

Medio 2015-an kita banyak disuguhi co-working space. Hanya saja, co-working space tidak senyaman coffe shop untuk bekerja. Coffe shop lebih dingin, kursi dan meja yang dipakai lebih ergonomis, dan pride untuk bekerja di coffe shop, lebih prestise

Biasanya begini : Foto di Coffe Shop, buka laptop, dan bawa catatan kecil dengan caption (working from cafe)

Ramainya coffe shop oleh usia muda tidak selalu berarti mereka sedang menghamburkan uang demi kesenangan. Struktur lapangan kerja saat ini telah bergeser. Banyak anak muda bekerja sebagai freelancer, pekerja kreatif, atau pekerja remote. Bagi mereka, kafe adalah investasi modal kerja—tempat mereka menyewa WiFi, listrik, dan ruang kerja seharga segelas kopi.

Ilusi Angka 5,6%

Mengapa angka pertumbuhan ekonomi tampak tinggi tetapi di lapangan terasa sulit? Jawabannya adalah Pemulihan Berbentuk Huruf K (K-Shaped Growth).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sering kali didorong oleh sektor-sektor padat modal (seperti komoditas, nikel, digital skala besar) yang hanya dinikmati oleh kelompok masyarakat lapisan atas (lengan atas huruf K). Sementara itu, sektor padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja lokal justru mengalami stagnasi atau penurunan (lengan bawah huruf K).

Anak muda yang berstatus pekerja kerah putih atau memiliki akses ke ekonomi digital kelas menengah ke atas inilah yang mengisi kafe-kafe tersebut. Di saat yang sama, ada jutaan anak muda lain di luar sana yang mengalami underemployment (bekerja di bawah kapasitas/jam kerja kurang) yang tidak terlihat di kafe-kafe premium.

Jadi, apakah ekonomi tidak berdampak pada usia muda? Tetap berdampak, namun dampaknya tertunda.

Dampak bagi usia muda hari ini bukan berupa kelaparan atau tidak bisa membeli makan, melainkan kecemasan masa depan (future anxiety): kesulitan membeli rumah pertama, tabungan masa depan yang tipis, dan kerentanan stabilitas kerja. Membeli kopi di coffe shop, bagi sebagian besar dari mereka, adalah cara untuk bertahan secara psikologis di tengah tekanan tersebut.