Masuk ITB Butuh Cara Berpikir Logis dan Panjang

Sebenarnya, kalimat sarkasme dari rektor ITB berujung pada satu ide besar yaitu : untuk anda level mahasiswa, anda membutuhkan cara berpikir yang runut, panjang, dan logis. Dan mengkonsumsi video pendek adalah akar dari semua permasalahan dari hilangnya kemampuan anda untuk berpikir panjang, runut dan logis

Jauh sebelum rektor ITB melemparkan sarkasme tersebut, Daniel Kahnemann dalam bukunya Thingking Fast and Slow sudah mengajarkan kepada kita bagaimana otak bekerja. Otak itu bekerja dengan dua cara, pola ke 1 yaitu berpikir cepat, sedangkan pola ke 2 berpikir secara lambat. Cara berpikir yang cepat (instant) yaitu cara berpikir dengan tanpa usaha, impulsif, mudah menilai, dan hanya menggunakan satu rujukan untuk membuat sebuah opini. Sedangkan cara berpikir lambat membutuhkan perhitungan dan konsentrasi (seperti berap 32x14)

Standar belajar di ITB atau di Universitas Top di Indonesia manapun membutuhkan cara berpikir kedua. Berpikir lambat, penuh perhitungan dan tidak impulsif. Bayangkan jika anda masuk ITB di jurusan Teknik Mesin, dan anda dihadapkan dengan soal tentang Mekanika Fluida yang mengharuskan anda menjawab dengan penuh perhitungan. Sedangkan anda terbiasa dengan cara berpikir instan, karena mengkonsumsi Tiktok atau Video Pendek dengan jumlah time screen yang berlebihan. Ada dua pilihan dari kejadian ini, anda DO dari ITB atau anda akan mengalami stress berat karena anda berusaha untuk mengubah kebiasaan anda berpikir dari yang biasa berpikir cepat, menjadi berpikir lambat

Cara berpikir panjang seperti dalam teori Kahnemann sudah sewajarnya menjadi standar cara berpikir seseorang yang berada di level universitas top. Jadi wajar saja jika Rektor ITB memberikan lontaran sarkasme kepada generasi sekarang. Jika mau masuk ITB ya belajar, kurangi lihat video tiktok, konsumsi video pendek, atau doom scrolling. Tapi belajar itu bikin stress... Iya belajar bikin stress, tapi sama seperti otot, otak kalau diberikan stress yang terukur, akan semakin terasah, akan semakin pintar

Nilai TKA Matematika 36,10

Suatu ketika saya berdiskusi dengan teman yang merupakan Magister Matematika. Bagi seseorang yang tidak begitu menyukai matematika, saya bertanya kepada teman saya "Apa Sebenarnya Fungsi Belajar Matematika?". Teman saya pun menjawab "Matematika Itu Mengajarkan Kita Untuk Berpikir Runut, dan Logis"

Di Tahun 2025, KEMENDIKDASMEN mengeluarkan hasil TKA untuk siswa SMA dan hasilnya nilai matematika mereka hanya 36,10 dari skor 100. Sedangkan nilai untuk bahasa inggirs 24,93

Kita lihat bahwa siswa SMA saat ini adalah generasi yang lahir saat internet sudah ada. Internet menjadi salah satu biang kerok dari munculnya trend effortless dari para siswa. Saya pernah mendapati sendiri, bahwa adik saya menjawab soal matematika dengan bantuan AI. Mengerjakan PR menggunakan bantuan AI, dapat menghemat waktu sekaligus menyebabkan malas berpikir. Waktu luang yang banyak, mereka gunakan untuk bermain game serta doom scrolling

Nilai matematika 36,10 ini merupakan efek jangka panjang dari konsumsi video pendek yang setiap hari mereka lakukan. Sebagai generasi 90an, kita juga bermain game (seperti Play Station & Sega). Namun saat itu tidak ada video pendek serta game online. Kemampuan kognitif kita juga terus diasah di sekolah, kita diajari untuk berpikir kritis, menjawab soal dengan melihat buku atau latihan, bukan menggunakan AI

Wajar jika pada saat melakukan test TKA nilai siswa menurun tajam. Jika biasanya dibantu oleh AI, saat test tidak ada bantuan AI. Dan itulah hasil belajar yang sesungguhnya.

Paparan Dopamine

Video pendek dan AI adalah combo yang mematikan bagi generasi kita saat ini. Konsumsi Video Pendek membuat kita terus menerus mendapatkan paparan dopamine dan membuat ambang kesenangan meningkat. Akibatnya aktivitas yang membutuhkan usaha seperti belajar, membaca buku, mengikuti instruksi, menyusun lego, mejadi hal yang sangat menyiksa.

Otak generasi kita jarang menerima stress yang terukur. Saat menonton konten yang receh otak dalam mode default mode network. Tanpa stress terukur, sirkuit prefrontal korteks—bagian otak yang mengatur fungsi eksekutif dan kontrol diri bisa menjadi kurang aktif. Dengan terbiasa terpapar video receh, kita akan sangat mudah dikendalikan oleh orang yang memiliki agenda tertentu. Padahal saat kita memasuki kampus, kita dituntut utuk berpikir kritis

Kembali Ke Analog

Hanya 0,15% dari total seluruh siswa SMA yang diterima di ITB. Tidak sampai 1%. Tapi, apakah 0,15% siswa tersebut tidak mengkonsumsi Tiktok atau video pendek sama sekali? Mustahil untuk zaman sekarang tidak ada siswa SMA yang tidak terpapar dengan Tiktok. Kecuali dia hidup di pedalaman, dengan akses internet yang sangat terbatas.

Siswa yang masuk di ITB adalah mereka yang ranking satu dan dua di kelasnya. Mereka harus bersaing dengan siswa yang ranking satu dan dua dari seluruh sekolah di Indonesia.

Sarkaseme dari rektor ITB seperti memberikan pelajaran kepada siswa SMA : jika ingin masuk ITB kalian harus bisa berpikir runut, logis, dan penuh perhitungan. Karena nanti pada saat kalian masuk di ITB, soal ujian UTS maupun UAS akan menunut kalian untuk berpikir runut dan logis. Jadi ayo kurangi konsusmsi Tiktok, mulai belajar soal - soal rumit, buat dirimu stress yang terukur, serta banyak berlatih.

Jika kita membiasakan diri dengan berpikir secara perlahan, diri kita secara otomatis akan meninggalkan sosial media, melihat video pendek, ataupun doom scrolling. Ketika membiasakan diri dengan berpikir secara perlahan dan melatih otak untuk menerima stress secara terukur, serta terbiasa mendapatkan ganjaran melalui proses yang panjang, diri kita akan merasakan perubahan dalam diri, merasakan puas dengan level yang berbeda. Otak akan membiasakan diri agar kita melalui proses, dan pada akhirnya kita akan terbiasa untuk memecahkan masalah dengan cara yang runut, logis, dan penuh penalaran

Kontrol diri terhadap rasa puas yang tidak lagi berasal dari konsumsi video pendek juga akan meningkatkan kemampuan kognitif. Kita melihat memecakan masalah rumit tidak lagi menjadikan otak menerima stress yang tiba - tiba, namun stress yang terukur. Dan perlahan kegiatan konsisten ini akan membantu kita meningkatkan kulitas diri, meningkatkan kualitas hidup, serta pendapatan