Pajak Kebodohan

Konsekuensi dari kebodohan

Ternyata bodoh itu banyak ruginya.

  • Rugi karena gak tau ilmunya
  • Rugi kesempatan yang hilang karena gak tau caranya

Yang paling parah → rugi uang karena kebodohan.

Inilah yang namanya The Dumb Tax alias Pajak Kebodohan.

Istilah ini saya dapat beberapa hari yang lalu setelah melihat beberapa video Youtube tentang bedah buku dengan judul The Road Less Stupid yang disampaikan oleh Mas Army Alghifari.

Ada kalimat menarik yang kaitannnya dengan dunia bisnis.

Kalau bisnis itu sebenernya adalah olahraga intelektual, bukan sekedar transaksi uang.

Seringkali yang jadi penentu sukses atau tidaknya bisnis itu berakar dari cara berfikir ownernya, bukan dari faktor eksternal.

Karena itu sebagai seorang owner bisnis sudah seharusnya punya waktu untuk berfikir.

Tujuannya apa?

Biar tidak salah langkah dalam mengambil kebodohan dan menanggung pajak kebodohan.

Yang kalau sekali kena pajak ini bisa ngeluarin uang banyak yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lainnya yang lebih mendatangkan keuntungan.

Apa sih penyebab dumb tax ini?

Menurut penulis buku The Road Less Stupid, dumb tax ini disebabkan 3 faktor utama :

  1. Excessive optimism
  2. Uneximined assumption
  3. Igoner risk

Yang kalau disimpulkan jadi → Dumb tax muncul karena kita terlalu pede, malas mempertanyakan asumsi sendiri, dan menutup mata terhadap risiko yang jelas-jelas ada.

  1. Excessive optimism

Terlalu optimis ini bahaya, dan sangat bahaya.

Saya udah lihat banyak sekali orang di sekitar saya yang terlalu optimis akhirnya terjebak dalam hutang.

  • Optimis pasti untung
  • Optimis pasti berhasil

Yaa, memang optimis itu harus tapi jangan lupa selalu ada resiko di setiap keuntungan.

High risk high return. Semakin tinggi keuntungannya pasti akan semakin tinggi juga resikonya.

Jadi harus perhatikan resiko-resiko yang sekiranya akan terjadi.

Jangan sampai all in di satu jenis usaha atau investasi tanpa memikirkan resikonya dan hanya modal optimis saja.

  1. Uneximined assumption

Semua hal yang tidak kelihatan itu asumsi.

Contoh dalam konteks bisnis :

“Semua orang butuh ini, jadi market-nya gede.”

“Harga murah pasti lebih laku.”

“Aku udah pengalaman, jadi aman.”

Dan lainnya.

Ini masih asumsi yaa, harus dipertanyakan lebih detail dan diuji.

Bener gak tuh asumsinya?

Atau selama ini cuma ngarang aja atau cuma pendapat pribadi aja?

  1. Igoner risk

Tutup mata terhadap resiko.

Setiap keputusan yang kita buat pasti ada resikonya.

Setiap bisnis pasti ada resikonya.

Setiap investasi pasti ada resikonya.

Berapa banyak orang yang terjebak di investasi atau bisnis bodong cuma karena satu kalimat:

“ini gak ada resikonya loh!”

atau

“ini resikonya kecil loh!”

Bukan berarti kalau ada resiko gak diambil kesempatan itu sama sekali, cuma kita harus banyak2 berfikir sebelum ambil keputusan.

Karena itu karena bisnis itu olahraga intelektual, sebagai seorang pebisnis harus punya waktu untuk berfikir.

Thinking Process

  1. Sediakan waktu paling gak 2-3x seminggu, bukan setiap hari biar lebih fokus
  2. Pasang timer 60 menit
  3. Brainstrom pakai kertas dan pena, bukan diketik.
  4. Buat 3-5 pertanyaan.
  5. Ikuti pikiran yang ada.
  6. Capture hasilnya.

Gimana Kerangka berfikirnya

1. Find the unasked question

Cari pertanyaan yang belum ditanyakan

Biasanya kita sibuk jawab pertanyaan yang kelihatan, padahal pertanyaan terpenting justru seringnya gak kelihatan.

Contoh:

  • Pertanyaan yang ditanya:

“Gimana caranya ningkatin penjualan?”

  • Pertanyaan yang belum ditanya:

“Kenapa orang nggak beli padahal sudah lihat produknya?”

“Apakah problem market-nya real atau cuma asumsi saya?”

Banyak keputusan mahal lahir karena kita nggak nanya hal yang paling tidak kelihatan.

2. Separate the problem from the symptom

Pisahkan masalah asli dengan gejalanya

Gejala itu kelihatan.

Masalah asli seringnya tersembunyi.

Contoh:

  • Gejala:

“Closing WA rendah.”

  • Sering disangka masalah:

“Kurang follow-up.”

  • Masalah sebenarnya bisa jadi:

Value nggak jelas

Offer nggak relevan

Target market salah

Kalau cuma obati gejala, masalahnya bisa balik lagi.

3. Check assumptions

Uji semua asumsi yang ada

Asumsi itu kayak bom waktu: gak keliatan tapi tiba-tiba aman bisameledak.

Contoh asumsi umum:

  • “Market ini mau edukasi panjang.”
  • “Harga saya sudah masuk akal.”
  • “Customer paham manfaat produk.”

Cara ngeceknya:

  • Mana yang fakta?
  • Mana yang cuma perasaan?
  • Apa buktinya?

Banyak dumb tax terjadi karena asumsi diperlakukan seperti fakta.

4. Consider 2nd order consequences

Pikirkan dampak lanjutan, bukan cuma efek langsung

Keputusan yang kelihatannya bagus sekarang, bisa nyusahin di masa depan.

Contoh:

  • Keputusan: diskon besar-besaran
  • Dampak langsung: sales naik
  • Dampak lanjutan:

5. Create the machine

Bangun sistem untuk menyelesaikan masalahnya.

Tujuan akhirnya bukan “selesai sekarang”, tapi selesai seterusnya.

Contoh:

  • Bukan: follow-up manual tiap hari
  • Tapi punya sistem:

Intinya dari pesan ini adalah

Keputusan bodoh biasanya bukan karena kurang cerdas, tapi karena kita nggak mikir cukup dalam, cukup lama, dan cukup jujur sebelum ambil keputusan.