"REKOSO". Itu yang Gw Bangga-banggain. Sampai Gw Sadar Keluarga Gw Cuma Dapat Remah-remahnya.

Ada beda tipis antara kerja keras untuk keluarga dan kerja keras sampai keluarga jadi gak tahu ada kamu.

Gw menyadari sesuatu setelah bertahun-tahun: Orang yang paling gw cintai dapat versi gw yang paling lelah, paling kosong, si paling harus diturutin maunya. Sedangkan orang di kantor dapat versi terbaik gw.

Dan parahnya… Gw sudah lama ngerasa itu hal yang wajar.

Pulang malam atau dini hari jadi rutinitas. Bahkan bisa gak pulang-pulang. Semuanya atas nama bertanggungjawab.

Gw anggap kerja banting tulang inilah sebab gw bisa nafkahin keluarga gw tercinta. Banting tulang alias “REKOSO” inilah core-nya dari makna bertanggungjawab. Dan kerja itu part dari ibadah. Itulah LAKI!

Itu baru fisik. Pikiran? Lebih absurd lagi. Gak cuma fisiknya yg selalu stay di kantor, pulang paling belakang. Pikiran juga selalu kebawa Fokus ke kerjaan. Gw all-out buat kerjaan mah.

Pulang kantor masih buka laptop. Weekend masih ngurus kerjaan.

Kumpul keluarga? Gak Ikut. Tepar. Kalaupun ikut kumpul, itu juga masih telponan sama WA-an urusan kerjaan.

Fisik hadir, tapi pikiran gak di tempat. Hadir pun sekedar dapat remah-remah gw aja karena udah lelah.

Jargon, “Jangan Totalitas Buat Kantor” gak gw anggap sama sekali.
Time Management? Bullshit di Indonesia kalau kata gw mah.

Ironis ya? Keluarga yg kita perjuangkan untuk dihidupi, cuma dapat versi lelah dari kita sedangkan orang kantor dapat versi terbaik kita.

Versi yang Gesit. Reliable. Cerdas.

Di rumah? Boro-boro. Buang sampah aja mesti disuruh 15x baru bergerak.
Kalau Di kantor? Beuuh. Siap Pak, Ijin Pak! Mah selalu dikedepanin. Inisiatif.

Gw juga berpikir untuk nuntaskan kerjaan biar dirumah bisa tenang, walaupun takes time lebih. Bisa me atau quality time.

Ternyata itu Blunder. Itu bukan time management, itu sebenarnya gak punya visi.

Dan itu jadi looping kehidupan. Terus menerus. Malah jadi anxiety kalau gak mikirin kerjaan akhirnya.

Jadinya, gw secara gak sadar “minta” excuse atas keegoisan dan juga blunder secara pemikiran terhadap orang-orang terdekat gw.

Gw gak “hadir” secara rutin di keluarga gw dgn alasan pekerjaan, tanggungjawab paling tinggi.

Seharusnya bekerja itu bagian dari hidup, bukan menyedot kehidupan kita.

Dan pelajaran yang gw dapat?
Hadirnya kita di tengah keluarga (fisik dan mental) itu sama pentingnya dengan tanggungjawab finansial yang kita emban.

Walaupun lu saat ini lagi ngejer mimpi finansial itu yang ujungnya untuk orang-orang tercinta dan terdekat bisa hidup lebih nyaman.

Gw lama berpikir ini semua masalah gw sendiri. Soal karakter. Soal lemahnya gw atur waktu.

Tapi ternyata ini lebih sistemik dari itu. Apa yang terjadi sebenarnya adalah:

Kualitas Hubungan RUSAK

Pasangan yang kerja di atas 50 jam seminggu — pasangannya mengalami stres lebih tinggi, ngerasa waktu bersama tidak pernah cukup, dan kualitas hubungannya lebih rendah. Ini bukan kata istri-istri yang sensitif. Ini data dari National Institutes of Health.

Jadi kalau pasangan kamu sering grumpy, cari ribut, atau merengut — mungkin bukan mereka yang berlebihan. Mungkin kita yang sudah lama tidak benar-benar ada.

Jangan juga dikira kalau sudah hadir, itu menjadi sebuah “quality time” untuk keluarga. Itu pandangan yang menyesatkan. Karena kalaupun hadir tanpa kualitas, bosan juga.

Ada bedanya antara pengorbanan yang dikomunikasikan dan pengabaian diam-diam.

Penelitian menunjukkan bahwa willingness to sacrifice (kesiapan untuk berkorban yang dikomunikasikan) berkorelasi positif dengan well-being individu dan pasangan.

Artinya: masalahnya bukan di pengorbanannya, tapi di kurangnya komunikasi dan persetujuan bersama soal pengorbanan itu. Bicarakan soal waktu dan pekerjaan ini kepada pasangan. Transparan saja.

Dan mulai membangun habit untuk pulang kerumah pada jam-jam yang manusiawi.

Kalau tidak bisa? Plis. Itu sinyal. Sinyal buat berstrategi untuk jangka panjang yang lebih serius. Atau bangun bisnismu sendiri, cicil secara bertahap.

Semoga dalam 2-3 tahun kedapan secara finansial hasilnya sudah bisa dituai.

Finansial aman. Waktu dengan Keluarga aman.

Ini yang sekarang sedang gw lakukan.
Cicil pelan-pelan, sambil tetap kerja, sambil tetap hadir.

Kebayangkan Gimana kalau kuantitas kehadiran disertai dgn kualitas yang rendah?

"Hadir tapi tidak ada" lebih merusak dari sekadar sibuk

Jangan dikira kehadiran kita saja itu cukup, No!

Pasangan kita juga manusia. Mereka juga bisa merasakan kalau mereka diabaikan. Sekedar disapa tanpa adanya interaksi yang manusiawi. Bahkan ngerasa ditinggal.

Dan ini bukan soal jam kerja yaa…

Bahkan waktu yang dirumah juga bisa “hilang”.

76% pekerja di AS melaporkan stres pekerjaan membocor ke kehidupan pribadi mereka.

Kelelahan emosional setelah bekerja membuat seseorang lebih mudah tersulut, kurang sabar, dan kapasitas untuk koneksi emosional menyusut.

Kamu tidak bisa memberi dari tempat yang kosong.

Dan kalau terus meminjam waktu pasanganmu untuk mengisi ambisimu — suatu hari kamu akan menoleh, dan menemukan dia sudah tidak menunggu lagi.

Dan tidak banyak pasangan yang memanfaatkan “membeli waktu” karena miskonsepsi soal hemat.

Pasutri kebanyakan memilih hemat (anggap aja pelit) di hal-hal simpel tapi berdampak ke kualitas hubungan dalam jangka panjang.

Misalnya, jasa bersih - bersih, atau layanan makanan.
Kadang sisa waktu dan energi dirumah tidak dimanfaatkan untuk membangun kualitas itu.


Misal waktu yg dibutuhkan untuk setrika itu 2 Jam.
Kalau 2 jam itu ditukar dengan biaya Rp100.000 maka yg didapat adalah:

  • Waktu tidur/istirahat
  • Baca Buku untuk nambah pengetahuan
  • Ngobrol sama pasangan

2 jam waktu dirumah bersama itu saat ini bisa dipakai untuk membangun kebersamaan dan kualitas yang dampaknya bisa bertahun-tahun yang akan datang.

Ini tidak hanya berlaku bagi suami, tapi juga untuk sang istri lho yaa..

Pasangan tidak selalu butuh 4 jam bersama — kadang 20 menit yang benar-benar hadir lebih bermakna dari 3 jam sambil scroll HP.

Namun ini tidak membenarkan kondisi "sisa energi" yang kronis — ini sekadar mengatakan bahwa kualitas kehadiran bisa dikelola, bahkan dalam keterbatasan.

Energi kita adalah kunci untuk menjalani dan membangun kualitas. Fokuskan saja ke arah itu.

Dampak dari absennya kita secara mental dengan pasangan saja bisa menyebabkan keterasingan emosional, merasa kurang diapresiasi, kebutuhan emosional/seksual tidak terpenuhi, bagaimana kalau anakmu yg mengalami?

Kalau Lagi Bangun Bisnis Sambil Kerja?

Gw ngerti. Mungkin lu lagi bangun sesuatu. Side Income. Bisnis sendiri. Apalagi umur udah 40an.

Cita-cita yang mulia sih. Pengen keluarga lu tercukupi. Aman secara finansial. Antisipasi dari PHK yang sedang terjadi dimana-mana.

Tapi tetap tidak boleh menghancurkan peran lu disisi lain. Tugas kita gak cuma sekedar memenuhi kebutuhan Finansial. Ada peran sebagai suami, kepala keluarga dan orang tua juga.

Peran yang gak bisa dibayar pakai transfer bulanan.

Bedanya simpel, tapi dampaknya jauh:

Versi yang merusak: "Aku kerja keras untuk kita." — Diputuskan sendiri. Dijalankan gak transparan. Pasangan tinggal terima.

Versi yang membangun: "Ini rencanaku 18 bulan ke depan. Ini batasnya. Ini yang aku minta dari kamu. Dan ini yang aku janjikan."

Satu kalimat itu beda dunia. Karena pasangan yang tahu batas waktu bisa bersabar.

Pasangan yang tidak tahu batas waktu — yang mereka dengar adalah: pengorbanan tanpa ujung.

Dan jangan berasumsi pasangan "pasti ngerti" — karena mereka tidak membaca frame yang sama dengan kita.

Mereka merasakan absennya koneksi, bukan memahami alasanmu. Perbedaan frame itulah yang perlahan mengikis kepercayaan.

Bicarakan dengan baik. Atur waktu secara proporsional.

Jangan sampai pasangan dan keluarga kita merasakan ketimpangan. Punya keluarga yang ideal, harmonis juga jadi cita-cita mereka.

Studi 2018 di Administrative Science Quarterly menunjukkan bahwa saat salah satu pasangan mengorbankan ambisinya untuk mendukung tujuan pasangan lain, hal itu menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan dan penumpukan resentment diam-diam — terutama ketika pihak yang berkorban merasa tidak lagi terlihat dan terpenuhi.

Pasangan yang "menunggu" tanpa kepastian waktu, berbeda dengan pasangan yang diberi kerangka waktu yang jelas. Tanpa batas waktu yang eksplisit, pasangan mendengar: "pengorbanan tanpa akhir yang jelas.”

Dan jangan kira hal ini dampaknya buat ke lu aja, ini juga berdampak ke pasangan.

Oke. Gw gak mau cuma cerita masalah.
Ini 3 langkah yang gw pikirin buat ngatasin itu semua.

Caranya?

Audit dulu waktunya selama 1 Minggu.

Jam berapa kamu “hadir” tapi absen secara mental?
Jujur saja sama diri sendiri. Dan hal ini sebenarnya membawa clarity ke diri kita sendiri. Kita di posisi apa saat ini.

Kedua, buat ritual keluarga.

Misal, kalau makan malam harus bareng. Tanpa HP. Atau cuci baju weekend di tempat Laundry kiloan. Jangan dirumah.

Bisa juga sebulan sekali ambil jasa bersih-bersih harian.

Untuk apa? Menghadirkan lagi nuansa keluarga yang rileks, yang jadi tempat pulang.

Ketiga? Komunikasikan effort atau planningmu ke pasangan.

Baik itu mimpi atau rencana-rencana lainnya. kasih konteks saja ke mereka. Bukan sekedar izin. Tapi tetap proporsional ya.

Gw sendiri sedang dalam proses ini — bangun sesuatu yang bermakna, tapi tidak dengan mengorbankan orang-orang di rumah.

Kalau kamu juga sedang di jalan yang sama dan mau tahu sistem yang bisa dijalani sambil tetap kerja, sambil tetap hadir di rumah — gw tulis itu semua di Rise To Monetize.

Bukan tentang jadi viral. Tapi tentang bangun dari dalam, pelan tapi pasti.

Look…

Waktu sudah berlalu begitu cepat. Dan itu gak terasa.

Sepuluh tahun dari sekarang, pasangan dan keluargamu akan ingat bukan seberapa sukses kamu — tapi seberapa hadir kamu.

Kenangan apa yang lagi kamu bangun?