Belajar Menulis Panjang

Apakah kamu bisa menulis panjang dalam satu kali duduk?

Pada artikel sebelumnya, saya berhasil menulis panjang untuk dibaca selama 13 menit. Salah satu prestasi kecil yang patut dirayakan.

Biasanya saya menulis sebatas untuk dibaca 5 menit saja.

Ini bukan tanpa alasan. Dulu saya cukup lama terpapar konten berita dari Detik. Sehingga artikel harus ditulis padat, ringkat, dan tidak makan waktu lama.

Kalau bisa di bawah 5 menit ya, tulis!

Namun semakin ke sini, penulisan artikel pendek akan kalah oleh A.I.

Semakin pendek suatu tulisan semakin tidak bisa menaruh suara personal dalam artikel tersebut. Sedangkan orang-orang tidak lagi mencari berita melalui portal berita. Melainkan melalui A.I terlebih dahulu.

Kita Akan Kalah dengan Fakta A.I

Kalau mau memaksakan diri membuat 1.000 artikel dengan metode ala Detik, maka kita tetap akan kalah dengan A.I.

A.I mampu menulis dengan mengumpulkan banyak data dan menyusunnya runut sehingga enak dibaca.

Kalah dengan kecepatan menghadirkan fakta, mau tidak mau harus menulis artikel panjang. Sepanjang apa? Kalau bisa, artikel tersebut cocok dibaca dengan menghabiskan waktu 15 sampai 20 menit.

Saya pernah mengikuti kelas Bang Tira atau TanganBelang dan dia mengulas beberapa videonya.

Video tersebut mengandung setidaknya 2.500 kata dan berdurasi setidaknya 15 sampai 20 menit. Durasi yang ideal agar kita bisa menghasilkan video yang nyaman dibaca. Begitu juga dengna tulisan atau artikel.

Kita tidak sedang bertarung dengan A.I. Kita hanya menghadirkan kedalaman suatu artikel dengan bumbu-bumbu pengalaman pribadi. A.I tidak bisa melakukan hal tersebut.

Kita akan kalah dengan A.I jika kita dengan sadar menulis layaknya suatu berita dengan data dan fakta.

Agar bisa tampil memukai dan berbeda dari tulisan-tulisan A.I, maukah kamu membawanya ke arah yang lebih personal?

Mari Menulis Esai Panjang

Kunci menulis efektif adalah penyampaian pesan yang jelas. Tidak bertele-tele, tidak juga memiliki jembatan yang terlalu panjang.

Lantas bagaimana mungkin bisa menulis panjang jika tidak bertele-tele?

Jawabannya ada pada kekuatan dari riset.

Riset dalam dunia menulis dibagi menjadi dua.

  1. Riset terlebih dahulu baru menulis.
  2. Menulis dulu dan mentok baru riset.

Sayangnya, siapa pun yang enggan untuk riset akan mengalami penulisan yang tumpul dan dangkal. Bahkan saking dangkalnya, seringnya kita akan menuliskan kata-kata berulang. Itu tidak masalah jika memang bertujuan demikian. Tetapi kalau pesannya juga berulang, wah, kacau.

Uniknya lagi, ini tidak menyerang para penulis pemula saja. Penulis yang telah berpengalaman pun sering terkenal hal ini. Dia merasa tidak perlu lagi riset sehebat dulu. Entah karena tulisan-tulisannya telah laku dan mudah laku, dia sudah memiliki nama besar, atau hal lain yang membuatnya lalai dalam melakukan riset.

Riset tidak perlu rumit. Kita tidak sedang menulis artikel ilmiah atau jurnal ilmiah. Kamu hanya perlu mengusir kebingunganmu dengan data terbaru.

Kuncinya adalah mengusir rasa bingung.

Anggap saja kamu ingin menulis esai panjang tentang perubahan ekonomi yang kamu alami sejak masa sekolah hingga masa kuliah. Kemudian kamu ingin memasukkan unsur harga di sana. Kamu tidak yakin perubahan harga mi instan yang tertera di saat kamu sekolah, kamu perlu riset.

Bagaimana cara riset? Bertanya pada orang lain, membaca buku, mencari artikel di internet, tanya pada A.I.

Beres? Tentu.

Perlu saya beri tips agar risetmu punya daya dongkrak. Riset harus menutup celah rasa penasaran atau curiosity gap pembaca. Celah yang mana selalu bisa kita hasilkan uang dari sana.

Ini juga yang sering muncul dalam HOOK atau kalimat pertama atau judul dari suatu artikel. Contohnya,

"Cara Membuat Artikel Ini Tidak Biasa dan Menghasilkan 10.000 Views dalam Waktu 1 Jam!"

Tampak seperti hiperbola, kan? Kita melebih-lebihkan sesuatu. Namun kalau memang benar, apakah kamu tetap akan mengabaikannya?

Inilah pentingnya riset yang tepat. Usahakan informasi yang kamu punya tidaklah mudah ditemukan bahkan melalui Chat GPT. Jika mudah ditemukan maka orang-orang tidak akan mau membaca esai atau artikelmu.

Terakhir, Buatlah CTA di Akhir Esaimu

Saya selalu mencoba untuk menyimpulkan kembali tulisan panjang saya ini ke dalam satu kalimat atau satu paragraf. Itu juga disebut dengan CTA atau call to action.

Kita berusaha untuk mengajak pembaca melakukan sesuatu yang kita perintahkan. Semisal dari artikel ini saja, saya bisa menuliskan CTA seperti ini,

Aneh rasanya jika kamu masih kalah dengan A.I setelah duduk berjam-jam menulis esai sepanjang 2.500 kata atau untuk waktu baca 15 menit. Padahal sudah kuberi tahu jurus jitunya berupa riset yang tepat berupa curiosity gap. Jadi, apa yang masih salah? Kamu bisa membaca di artikelku selanjutnya tentang menyelesaikan problem pembaca lebih baik dibandingkan memberinya vitamin. Silakan subscribe dulu ya.

Itu adalah contoh paragraf penutup yang bisa kugunakan untuk artikel ini. Ada ajakan untuk subscribe ke artikel ini agar saya lebih banyak mendapatkan pembaca setia. Tentu juga agar pembaca setia ini bisa membaca lebih dulu artikelnya daripada harus menunggu saya mempromosikannya di media sosial.

CTA tidak boleh tertinggal. Tulisan panjang sangat erat kaitannya dengan daya ajak yang tinggi. Siapa pun yang membaca hingga akhir artikel maka dialah yang akan suka rela melihat sekilas ajakan kita melalui pranala luar (link) yang kita berikan.

Awalnya, saya tidak mempercayai itu. Sampai akhirnya di Threads, saya sering menyematkan link keluar untuk sekedar mempromosikan ebook atau hal lain. Tentu saja antusiasme setiap pembaca berbeda-beda. Namun, kenyataannya tetap ada yang menuruti perintah saya menjadi sebab kalau cara ini mujarab.

Kita tidak ujug-ujug dijualin. Kita merasa telah tepat diberi penawaran.

Sekarang, apakah kamu mau men-subscribe ke buletin saya ini dan menantikan tips, trik, serta latihan menulis selanjutnya?