Seseorang yang tidak perlu lagi saya beri panggung di sini, habis dirujak warganet. Bukan tanpa alasan. Dia menunggangi karya seseorang yang lagi viral yang berujung pada dia menjual produknya sendiri tentang keimanan. Jagalah iman anak! Saya mau tertawa akan hal ini.
Fearmongering. Kekuatan dari kata-kata yang dikumpulkan menjadi kalimat negatif. Seakan-akan kapling neraka menjadi pihak yang tidak sependapat dengannya. Berusaha mengambil peran Tuhan dalam menentuan takdir manusia. Sudah berantakan isi pikirannya. Dibaliknya hanyalah cuan semata.
sumber: canvaSaya Tidak Pernah Lagi Membeli Karena Rasa Takut!
Ketakutan dimunculkan oleh sebagian besar orang untuk keuntungannya sendiri. Dalam dunia copywriting yang saya pelajari, mereka suka dengan hal itu karena manusia memang cenderung mengenali pola-pola ketakutan.
"Eh, kamu yakin ngasih nonton film anakmu itu? Nanti dia tidak beriman loh."
Maka akan kujawab, "Kalau benar tidak beriman terus apa?"
"Loh, kok gitu kamu jadi orangtua?"
"Emangnya kamu tahu batas keimanan anakku?"
Ketakutan dalam dunia seni penjualan sering kali menyasar hal-hal abstrak dalam diri kita. Iman, kecantikan, kemapanan, ketertinggalan, hal-hal yang tidak bisa diukur.
Bagaimana caranya mengukur iman anakmu sendiri? Memantaunya sholat 5 waktu? Bagus. Lalu apa lagi?
Saya sendiri setiap kali mendapati sodoran fearmongering ini, lebih anti dan sulit untuk beli. Sehebat apa pun produknya. Kenapa? Seperti obat, ketakutan bagi saya sifatnya sudah resistance. Sudah kebal. Saya lebih takut pada hal-hal fisik yang tidak bisa kita atasi. Klitih, jambret, kehabisan uang, tidak bisa berobat, dibandingkan hal-hal abstrak seperti hantu, monster, apalagi kurangnya iman.
Hanya saja, teknik penjualan ini memang ada dalam dunia copywriting. Paling mudah dilakukan.
Beri Harapan Bukan Ketakutan
Kontenku sudah sering viral. Tidak satu pun menakut-nakuti orang. Tetapi memberi harapan. Kita lelah dengan ketakutan yang sedang kita alami di dunia nyata. Indonesia gelap, korupsi tiada henti, judi online sampai Kamboja, dan lain-lain. Seakan-akan kita ini tidak mungkin bisa bahagia.
Sedangkan bahagia itu perlu. Jika kamu berislam tapi tidak bahagia, buat apa? Islam isinya ketakutan begitu? Selalu takut begitu? Mana harapannya? Mana doa-doa yang kita panjatkan selepas sholat? Seakan-akan semua itu hanya ritual omong kosong?
Jika kamu ingin menjual sesuatu, cobalah untuk mengambil sudut pandang berbeda. Sudut pandang harapan. Aku lebih yakin produkmu laku keras daripada memakai sudut pandang rasa takut.
Kok bisa? Lah, sudah kucoba! Hahaha.
Sekarang cek ke toko buku. Cari judul buku yang memiliki nuansa harapan dan nuansa ketakutan. Ingat ya, dari judulnya saja. Tanpa pikir panjang aku yakin 100%, hatimu nyaman membawa buku-buku yang memiliki judul nuansa harapan.
Sekarang, aku mengajakmu untuk tidak membeli dari copywriting apa pun yang menebar ketakutan. Biarkan mereka rugi. Biarkan mereka mikir. Ketakutanmu tidak boleh sampai jadi komoditas FOMO oleh mereka.
Bagaimana kalau anakmu kurang beriman? Halah. Tambal imannya! Dulu imanku ditambal sejak SD ikut ESQ. Easy! Memang mahal. Tetapi layak. Cari tambalan lainnya. Ajak anakmu umroh! Beres!