Aku menonton suatu band indie di Youtube. Mereka melakukan cover atau menyanyikan ulang lagu milik penyanyi lain dengan ciri mereka sendiri. Seperti menggubah lagu bernuansa pop menjadi rock. Ada sesuatu yang menggelitikku.

Kenapa mereka sebagus ini tidak juga terkenal? Kenapa dengan alat-alat musik mahal, studio mahal, sound system mahal, dan segala hal mahal lainnya itu tidak juga membuat mereka melambung tinggi ke angkasa? Why?

Bukankah kita hidup di dunia kapitalis? Di mana modal adalah penentu utamanya. Mereka yang tidak bermodal akan sulit untuk menaiki tangga piramida kesuksesan. Mereka akan terus terjebak di golongan ekonomi kelas bawah.

Aku tidak berhasil menemukan jawaban kecuali hoki. Peran kekuatan yang lebih besar dari manusia ada di sini. Tidak mungkin tidak.

Mungkin kamu mengira kalau aku mengada-ada. Baiklah. Mari lihat screenshot ini.

Channel Youtube itu bernama Goose House. Aku sengaja mengambil yang bukan dari Indonesia agar tidak ada ketersinggungan secara langsung. Mereka memiliki kualitas bermusik yang menarik, unik, bagus, bahkan video-video mereka ada yang mencapai angka-angka tontontan tinggi.

Jumlah subscriber pun sudah 2,5 juta. Jumlah video pun sudah sampai 771. Namun video terbaru mereka ada di 4 tahun yang lalu.

Mereka berhenti.

Bukankah mereka sudah berhasil mengetuk pintu HOKI? Lantas kenapa BERHENTI? Bukankah bisa saja tinggal sedikit lagi untuk menjadi musisi papan atas itu? Tampil ke panggung-panggung besar, berkeliling dunia, tidak sebatas panggung dalam negeri atau dari rutin menggungah video baru di Youtube.

Momentum Itu Nyata, Tetapi Melelahkan Juga

Goose House adalah bukti nyata bahwa bermusik akan tiba masanya mendobrak pintu HOKI. Dengan izin Tuhan, suara-suara mereka akan menggema di hati dan pikiran banyak orang. Namun, momentum itu tidak pernah KEKAL. TIDAK PERNAH. Kekekalan adalah milik Tuhan semata.

Masuk akal ya? Kita tidak bisa terus menerus mempertahankan apa yang ingin kita capai. Bahkan perusahaan raksasa pun akan bangkrut juga. Tinggal menunggu waktu KEMATIANNYA.

Kita hanya perlu menikmatinya saja. Rasanya ini bukan nasihat. Tetapi logika dasar. Aku bahkan tidak mampu membedakan Goose House dengan musisi di Jepang lainnya yang sudah punya album dan panggung mewah mereka sendiri.

Namun sekali lagi, kesabaran punya batasnya. Jika ada yang bilang kesabaran itu tidak terbatas, oh, please, jangan pernah mengambil peran Tuhan! Kesabaranmu terbatas. Kesabaran mereka pun sama. Goose House berhenti juga setelah susah payah untuk terus bermusik. Lelah itu nyata. Tidak peduli sehebat apa pun keahlianmu, modalmu, tidak ada yang benar-benar bisa bertahan lama mengendarai momentum.

Hoki itu Akan Menjadi Kenangan

Keberuntungan itu harus kamu manfaatkan, bukan semaksimalnya. Tetapi semenyenangkannya. Aku sudah banyak membaca buku self-help terbaru. Gerakan-gerakan kesuksesan lahir karena mereka berusaha untuk enjoy melakukan yang mereka mau.

Contohnya Ali Abdaal, Jacob Nordby, dan Chase Jarvis. Mereka menjelaskan kalau enjoy bisa mendatangkan keberuntungan. Perjalanan untuk mencapai momentum itu membosankan. Jika kita tidak mencapainya dengan cara seperti bermain game, kita akan kelelahan.

Jika sudah berhasil mencapai HOKI maka nikmatilah! Bisa jadi Tuhan akan mengambilnya besok hari setelah kamu bangun tidur.

Maka rasakanlah biasa saja. Bahagia secukupnya, sedih secukupnya, dan semua akan menjadi kenangan juga pada akhirnya.

Hoki adalah keajaiban dunia kedelapan. Bagiku. Tidak ada riset pasti. Namun kamu pasti pernah mengalaminya. Seperti halnya hoki terhindar dari bencana kecelakaan di jalan. Apakah kamu akan terus menerus nekat untuk mengetuk pintu HOKI berikutnya? Atau malah mengetuk pintu malaikat maut?

Aku rasa kamu tahu jawabannya.

Sekarang, apa kesimpulanmu? Benar! Kita hidup di zaman kapitalisme. Tetapi Tuhan itu ada dan nyata. Sehebat apa pun modal mereka, bisa jadi, mereka tidak seberuntung dirimu. Loh? Apa keberuntunganmu? Tidak dikejar-kejar KPK mungkin... Ups. Hehehe.