Kamu Pengen Dikenal Sebagai Apa?

Ini soal personal branding.

Tony Stark adalah orang kaya parlente. Petentang-petenteng begayaan dengan kekayaannya dan sombongnya luar biasa. Dalam perjalanan filmnya, dia diculik dan dilukai. Kini dia punya pilihan.

Merebut kembali hidupnya yang lama walau dia tahu itu mustahil, mencoba bertahan hidup kembali walau tetap harus mikir, dan ya sudah mati saja. Pilihan terakhir bukanlah pilihan. Karena tidak akan ada cerita Iron Man jika Tony Start mati di 30 menit pertama.

Lantas apa yang menjadi korelasi antara Tony Stark dan personal branding? Ini opiniku, silakan membaca.

Kita Punya Freewill yang Tidak Freewill

Saya pernah terkesima dengan teman kantor yang mampu mendesain 3 konten Instagram dengan ciamik dalam waktu kurang dari 2 jam. Buagus banget! Bahkan untuk urusan menabung konten, dia bisa melakukannya sampai 3 bulan ke depan hanya dalam tempo waktu sebulan.

Saya juga punya teman kantor yang mahir baca data. Utak-atiknya cuma pakai PowerPoint. Tetapi hasil data Meta Ads berhasil dia jelaskan dan Pak Bos mendapatkan 2-3 opsi pilihan untuk beriklan di bulan depan.

Saya cuma menjadi penonton saja.

Padahal keduanya memiliki skill yang bisa saya dekati. Skill yang bisa saya pelajari melalui internet, bertanya, ikut kursus atau sampai bootcamp. Kenapa tidak saya lakukan? Kenapa langkah kaki terasa berat dan berhenti? Apakah karena saya ini bodoh? Atau sebenarnya memang bodoh?

Nyata setiap diri dari kita punya kecenderungan atas sesuatu. Tidak sepakat atas kecantikan perempuan, tidak sepakat atas masakan paling enak di kota Jogja, dan lainnya. Kita cenderung atas sesuatu bukan karena kita tidak ingin. Melainkan karena otak kita akan mengajak tubuh kita ke sesuatu yang paling mudah untuk mencapai solusi.

Akhirnya, kita seperti memiliki kehendak bebas yang nyatanya tidaklah bebas juga.

Mari lebih lanjut saya bahas.

Berpikir Itu Melelahkan

Pada tahun 2019, saya berhasil membuat landing page suatu event organizer. Pilihan yang tersedia cuma satu pada saat itu. Memakai mesin Wordpress.

Berdiskusi lama dengan mas Leader, beliau meminta kalau website yang kita harus memiliki warna yang senada dengan kompetitor. Baik benar-benar warna sampai alur ceritanya. Pusing karena menatap layar laptop tidak membuahkan hasil, saya cek saja menggunakan inspect element.

Mata saya tertuju pada mesin bernama Mobirise.

Dengan sedikit bersilat lidah, saya mencoba menego mas Leader agar mau untuk membelikan saya mesin tersebut. Daripada membuat sendiri yang bisa memakan waktu lebih dari setahun, kita pakai dan kita utak-atik saja.

Mas Leader pun setuju. Masalah saya belum selesai. Ternyata dari puluhan tema yang disediakan, memang harus saya custom lagi. Tepok jidat. Saya bukan programmer. Pada saat itu AI juga belum muncul semasif sekarang. Tobat-tobat.

Saya memasuki fase psikologi bertahan manusia yang disebut fight, flight, freeze. Dalam sebulan saya jungkir balik dari ketiga fase itu untuk mengahadapi landing page yang harus bisa menjual tiket seminar seharga 1-1,5 juta rupiah!

Edyan!

Singkat cerita, saya berhasil membuatnya. Masalah juga tidak kunjung selesai. Mas Advertiser meminta saya untuk melunakkan website tersebut.

"Mas, kurangi page speednya ya? Sama buatin konten iklan berupa gambarnya!"

Aduh-aduh. Kepala rasanya kencang!

Akhir cerita, semua berjalan lancar. Bahkan setelah berhasil menggaet 30 peserta, dengan landing page yang sama, diubah sedikit testimoni pesertanya, landing page itu mampu menjual tiket seharga Rp 3 juta rupiah untuk kira-kira kalau tidak salah ingat, 30-40 orang.

Sekarang, apakah saya meneruskan kegiatan membuat landing page berharga itu lagi? Jawabannya? Tidak.

Saya tidak betah ternyata untuk bolak-balik belajar HTML, CSS, dan pemrograman lainnya walaupun sudah pakai mesin. Bahkan sudah ditunjang dengan pembicara yang ciamik, advertiser jagoan, dan desainer andalan, saya tetap tidak mau.

Otak saya terus saya meminta kalau ini bukanlah PASSION.

Passion Bukanlah Segalanya, Tetapi...

Kamulah yang akhirnya menentukan kalau kamu ingin dikenal sebagai apa. Apakah sebagai programmer, pembuat landing page yang keren, menghasilkan jutaan rupiah atau... hal lain yang ingin kamu capai?

Tony Stark memang passion dalam membuat jubah-jubah robotnya. Tetapi dia melakukannya bukan karena untuk banyak-banyakan koleksi. Dia melakukannya agar ada baju tempur yang bisa dia pakai untuk melawan musuh yang tangguh.

Saya sadar programmer bukan jalan ninja saya. Tetapi menulis adalah jalan ninja saya. Mungkin menulis kode-kode dalam bahasa pemrograman telah membukakan saya kemungkinan-kemungkinan lain. Namun untuk saat ini tidak dulu.

Saya ingin dikenal sebagai penulis, pendongeng handal, dan pembuat cerita. Keinginan itu membentuk personal branding yang semakin lama semakin kuat. Saya tidak mendekati dunia program sama sekali. Cuma sebatas pernah kenal saja. Sehingga saya cenderung mendalami dunia tulis menulis baik fiksi maupun non-fiksi.

Akhir kata, kamu adalah tokoh utama di dalam kehidupanmu sendiri. Kamu ingin menjadi apa? Ingin menjadi Tony Stark yang pahlawan atau Tony Stark yang kolektor teknologi-teknologi mutakhir? Semua ada di tanganmu!