Mari Kita Mulai Latihan Menulisnya

Pertama-tama, selalu tekankan tentang CUAN.

Cara berpikir baik atau mindset soal menulis di era internet sekarang ini adalah cuan. Apakah tulisanmu bisa menghasilkan uang atau tidak? Karena tanpanya, tulisanmu hanyalah sebatas diari yang terlepas di media sosial, platform online seperti blog, dan pengisi forum-forum seperti Quora.

Tidak ada yang salah selama memang itu tujuanmu.

Hanya perlu kamu ketahui jika memang itu tujuanmu, maka tulisan-tulisanku yang mengajakmu menghasilkan cuan dari menulis tidak perlu kamu baca.

Kenapa?

Karena semua bisa bertentangan dengan sistem kepercayaanmu. Believe system yang bentrok tidak akan membuka wawasanmu untuk belajar.

Ini sama halnya dengan ketidakpercayaan banyak orang bahwa MLM itu hanyalah media untuk menghasilkan pendapatan. Mereka lebih memilih MLM sebagai tipuan para oknum yang ingin cepat kaya. Ya, bentrok.

Ini juga sama dengan ketidakpercayaan banyak orang bahwa Bitcoin adalah media untuk berinvestasi selain saham. Mereka tutup mata atas bukti-bukti orang bisa kaya rasa dari Bitcoin.

Sama saja. Sulit membuka pikiran jika rasa ketidakpercayaanmu begitu besar. Jutaan bukti tidak akan membuatmu sadar bahwa cara itu bisa ditempuh.

Tarif nafas panjang dulu. Kalau kamu masih tidak percaya menulis menghasilkan uang, tutup artikel ini. Kalau kamu masih selalu ngotot bahwa menulis hanyalah untuk kesenangan diri sendiri dan uang hanyalah bonus, tutup artikel ini.

Uang tidak akan pernah menjadi bonus jika memang kamu tidak meniatkannya untuk mendapatkannya.

Aku beri waktu lima menit.

.

.

.

.

.

Sudah?

Bagus kalau sudah. Mari kita lanjutkan.

Kedua, Tekankan Soal Fleksibilitas

Dunia menulis itu luas.

Bisa saja Raditya dika tidak bisa menulis SEO. Bisa juga Pandji Pragiwaksono tidak bisa menulis esai tentang konservasi alam Papua.

Itu artinya kamu hanya perlu mencoba banyak sekali jenis tulisan sampai menemukan yang paling bekerja untukmu. Tulisan yang akan mengantarkanmu untuk mendapatkan uangmu sendiri.

Saya penulis blog pada tahun 2008 sampai 2013. Apakah ada uangnya? Tidak. Apakah berhasil? Tentu. Saya menulis dengan baik hingga ratusan artikel. Lalu apa kesimpulannya? Saya tidak lagi melanjutkan blog karena saya telah membuang waktu dan juga membuang kesempatan untuk mendatangkan uangnya.

Saya penulis Threads pada tahun 2024. Apakah ada uangnya? Awalnya belum karena saya belum punya ebook yang bisa orang download dan baca sendiri. Apakah berhasil? Tentu. Banyak sekali artikel saya yang telah dibaca di atas 10.000 views. Apakah akhirnya mendatangkan uang? Jelas. Lebih mudah menjual produk digital berupa ebook di Threads daripada di tempat lain.

Mulai punya pijakan? Saya coba yang terakhir ini.

Saya tidak menulis sastra. Bukan perkara tidak bisa. Lebih kepada banyak bingungnya. Tentu saja juga terlalu keras kritiknya. Tidak percaya diri duluan. Minder.

Apakah itu salah? Tentu saja. Saya harusnya mencoba menulis sastra. Apakah akan mencoba lagi suatu hari nanti? Tentu saja. Tidak dalam waktu dekat. Jadi penulisan sastra tidak saya ambil.

Saya juga tidak menulis jurnal ilmiah. Sebagai lulusan S1 yang jauh dari akademik kampus, saya memutuskan untuk tidak terlibat jauh dalam penulisan jurnal ilmiah. Saya cuma takut hati dan pikiran malah ingin belajar S2. Wah, uangnya tidak ada.

Sekarang kamu tahu apa yang aku bisa dan yang aku tidak bisa dalam menulis. Fleksibel. Kita tidak harus bisa semuanya. Tetapi kita harus mencoba semuanya.

Ketiga, Nikmati Perasaan Tidak Nyaman Itu

Apakah kamu ingin cepat-cepat dan buru-buru menghasilkan uang dari menulis? Kalau iya, pikirkan lagi. Itu mustahil.

Sama seperti skill atau kemampuan lain yang ada di dunia ini. Coding, desain, public speaking, dan lainnya, bisa dipelajari dan bisa kita latih. Namun perkarya menghasilkan uangnya merupakan zona ketidaknyamanan lain.

Pikirkan ini.

Ada dua zona tidak nyaman.

  1. Zona tidak nyaman belajar.
  2. Zona tidak nyaman jualan

Keduanya butuh kesabaran ekstra. Benar-benar ekstra.

Saranku jika terpepet uang, carilah pekerjaan. Apa saja. Bebas. Yang penting halal. Di bawah UMR juga tidak masalah. Dapatkan dulu pekerjaan itu baru kembali lagi ke sini.

Saya dulu juga begitu. Bekerja apa saja untuk bisa menyambung hidup dan terus menulis.

Sayangnya, zona tidak nyaman belajar bisa kita taklukkan jika telah mengalahkan standar yang diberikan oleh orang lain.

Contohnya, kalau kamu ingin bisa menulis esai, kamu belajar menulis esai. Lalu kamu kirimkan ke media koran digital, website portal berita, atau apa pun. Lantas tulisanmu ditolak. Kamu coba lagi hingga percobaanmu terjadi sebanyak lima kali dalam waktu setahun. Tidak berhasil juga.

Di percobaan kedelapan, akhirnya ada yang memuat tulisanmu. Itu membutuhkan waktu satu setengah tahun. Itu keberhasilan. Maka itu adalah bukti bahwa tulisanmu telah melewati batas zona ketidaknyamanan belajar. Kamu telah mengetahui di area mana kualitas dari tulisanmu.

Lantas di mana zona tidak nyaman jualan?

Sekarang, anggap saja kamu sudah berhasil mengirimkan tulisanmu ke website portal berita. Kamu ingin mengirimkan tulisanmu selanjutnya. Dan yang terjadi tidak diterima.

Kamu kirimkan lagi dan lagi. Tidak kunjung diterima juga. Perasaan ragu itu datang. Kamu mulai tidak yakin menjadi penulis adalah jalan hidupmu. Kamu mulai turun semangat. Tidak lagi termotivasi seperti sebelumnya.

Inilah zona tidak nyaman jualan itu. Bisa saja website portal berita itu butuh memasukkan nama penulis lain. Gantian. Agar websitenya juga dibaca lebih banyak orang dengan membagi rezeki pada penulis lain. Sayangnya, kamu tidak bisa meneria alasan itu.

Kamu lantas mencoba mengirimkan tulisan-tulisan itu ke website portal berita lain. Jawaban yang sama kamu temui. Tolakan demi tolakan terjadi. Kamu mulai putus asa dan hilang arah. Dan ya, ini sering terjadi.

Ini artinya, kamu harus mulai menambah ilmu baru. Ilmu yang disebut ilmu jualan. Aku akan bahas nanti di artikel lain.

Terakhir...

Aku punya pesan penting.

Sebagai orang yang doyan baca buku self-help, aku punya satu kunci penting yang bisa kubagikan untukmu.

Manusia itu suka pada jumlah. Aku tidak berdusta. Orang bisa memandangmu penulis yang baik jika kamu produktif. Kamu punya 100 artikel itu biasa. Tetapi kamu punya 1.000 artikel itu tidak biasa.

Maka, untuk keluar dari zona ketidaknyamanan dan mendapatkan hasil, teruslah menulis apa pun yang terjadi. Orang akan memandangmu sebagai pekerja keras dan punya kredibilitas jika rutin melakukan apa yang kamu sukai.

Saya sendiri yang mengalaminya.

Walaupun sebagian penulis memang punya bakat dan beruntung untuk bisa menghasilkan karya tidak harus menulis sebanyak 1.000 kali.

Kalau kamu salah satu di antara mereka, ya, anggap saja artikel ini lucu-lucuan saja.

Tetapi jika bukan, kamu sama sepertiku, seorang medioker, kamu butuh kerja keras dan kerja keras. Kamu butuh konsistensi dan juga ambisi. Kamu butuh persistensi, tangguh, dan keras kepala.

Lalu tulislah sebanyak yang kamu bisa hingga jalannya terbuka lebar.

Selamat datang di dunia menulisku. Silakan subscribe karena setelahnya hanya member yang bisa membaca rahasia-rahasia menulisku.

Member akan dibedakan menjadi dua. Yang berbayar dan yang mendaftar. Yang berbayar nantinya tiap bulan akan mendapatkan latihan dan diskusi melalui email. Sedangkan yang hanya mendaftar, akan mendapatkan rahasia-rahasia tanpa konsultasi personal lebih lanjut.

Putuskan yang mana yang kamu butuhkan.