Kenapa di dalam bisnis, orang lebih suka diandai-andaikan? Bukan berarti mereka bodoh dalam berlogika. Hanya saja butuh sudut pandang berbeda agar logika mereka punya banyak perbandingan.
Halo, kembali lagi di sini bersama saya. Dalam tulisan ini saya akan memberimu secercah pencerahan. Terutama dalam urusan komunikasi yang bisa digunakan untuk bisnis bukan cuma untuk menulis fiksi.
Kehebatan Pulpen Gatsby!
Film "The Wolf of Wall Street" merupakan film yang menarik untuk ditonton karena berisi memoar atau perjalanan hidup seseorang dalam hal "nekat" berbohong demi keuntungan pribadi.
Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/pena-hitam-di-buku-2409566/Satu adegan yang menarik adalah tokoh utama menyerahkan pulpen pada sekelompok orang dan meminta mereka untuk menjualnya. Kelompok pertama mengatakan, "It's a amazing pen... for... a professional." Dan tidak menarik untuk siapa pun membeli pulpen itu. Kelompok kedua yaitu temannya bernama Brad diminta untuk menjual pulpen itu. Brad menjawab, "Tulis namamu di serbet itu untukku," Kemudian tokoh utama membalas, "Saya tidak punya pulpen," Lalu Brad menjawab lagi, "Exactly. Supply and demand, my friend!"
Hanya butuh dua adegan berbeda sebagai adegan pembanding, kita telah mampu belajar banyak hal terutama tentang ilmu komunikasi penjualan. Kunci dari film itu adalah tentang analogi.
Apa sih yang dibutuhkan orang agar mereka paham bahkan jika diperlukan menggunakan bahasa bayi?
Sayangnya di Threads sendiri, saya lebih sering orang suka menggunakan bahasa yang rumit agar terkesan pintar, jagoan, dan hebat. Tulisannya tidak kemana-mana. Hanya di situ saja.
Sedangkan saya bolak-balik bisa viral, menaikkan follower, dan menaikkan penjualan secara organik. Langkah sederhana tapi nyata.
Lalu, bagaimana menggunakan analogi dalam kehidupan sehari-hari? Bahkan untuk jualan?