Semua orang ingin sukses. Tetapi faktanya memang tidak semua orang bisa untuk sukses. Ini bukan permainan kata. Ini adalah kenyataan yang ada di lapangan tentang "pendidikan" mampu mengubah "mindset" yang melahirkan "tindakan". Apakah "mindset" ini awal dari "segalanya?"
Saya ingin bercerita salah satu pihak keluarga. Bukan dalam rangka membuka aibnya. Saya juga akan menutupi semua identitasnya hingga yang saya ceritakan adalah murni tindakan-tindakannya. Saya akhirnya menemukan jawaban kenapa sukses itu berawal dari mindset atau cara seseorang berpikir.
Dia Percaya, Dialah yang Paling Merasa Benar!
Saya berdialog dengan paman ini.
"Kenapa dijual murah mie ayamnya?" Karena dia menjualnya seharga Rp 10.000.
"Ya, saya cari pelanggan dulu. Kalau orang sudah kenal, kan, mereka akan beli juga."
Kemudian saya diam cukup lama. Jualan bukanlah soal cari pelanggan. Tetapi mencari keuntungan. Dalam sesi dialog dengan beliau, saya sadar kalau mindset yang dia miliki berantakan. Dengan harga yang murah, dia berusaha mengambil margin kotor yang rendah. Maka yang tersiksa adalah modalnya.
Ternyata nasihat percaya pada diri sendiri bisa jadi salah 100%. Apalagi jika tidak diimbangi dengan kenyataan dan fakta di lapangan.
Apa jadinya? Ternyata dugaan saya benar. Beliau kehabisan modal. Tidak lagi buka jualan mie ayamnya.
Dia merasa benar untuk mencari pelanggan terlebih dulu karena harga yang murah. Namun faktanya tanpa selisih keuntungan yang besar, dia tidak mampu bertahan di saat-saat tidak ada orang yang mau membeli jualannya. Akhirnya, mindsetnya menjadi orang yang suka menyalahkan keadaan.
"Di sana kan sama lagi musim hujan. Masalahnya kalau musim hujan itu gak ada orang pergi-pergi. Maklum di desa. Jadi kalau hujan ya lebih milih makan di rumah."
Akhirnya saya menyerah setelah mencoba berdialog panjang lebar dengannya. Saya sudah memberinya saran untuk mencari keuntungan dan tidak perlu memikirkan pelanggan terlebih dahulu. Karena keuntungan yang nyata dan besar mampu membuatnya bernafas.
Menurut Norm Brodsky dan Bo Burlingham di bukunya berjudul Street Smarts, nafas penjual amatir atau rintisan adalah waktu. Bukan banyak-banyakan sales. Jumlah penjualan yang banyak dengan margin kotor yang tipis hanya akan menghambur-hamburkan tenaga dan waktu.
Ya, itulah mindset. Seseorang bisa terjebak lama di mindset yang salah, mempercayai dirinya sendiri, dan gagal terus menerus hingga tua.
Percayalah Pada Lingkungan Sosialmu
Tidak semua harus kita selesaikan sendiri. Ada kalanya kita menaruh harapan dan ekspektasi pada lingkungan sosial. Masyarakat ada untuk membantu kita. Tidak perlu merasa harus mengerjakan semuanya sendiri.
Jordan B. Peterson dalam bukunya berjudul Beyond Order menjelaskan bahwa kita tidak perlu mengandalkan sumber daya diri sendiri yang terbatas hanya untuk mengingat suatu jalan. Kita bisa mengandalkan maps online, petunjuk jalan, dan juga lingkungan sosial yang mana mereka telah dengan susah payah melakukannya lebih dulu dari kita. Ini artinya sama dengan jualan.
Jika Paman itu tahu kompetitornya menjual mie ayam seharga Rp 10.000 dan laku, maka dia harus tahu margin kotor yang diperoleh bisa sampai 50%. Artinya cukup membutuhkan modal untuk satu mangkok mie ayam adalah Rp 5.000.
Margin kotor = laba dibanding harga jual → makin mahal jualnya, makin besar marginnya (selama biaya tetap).
Sederhana, kan? Kalau paman tidak mampu menciptakan mie ayam yang enak itu dengan modal Rp 5.000, maka naikkan harganya. Jangan berkompetisi di harga yang sama Rp 10.000. Lingkungan sosial telah memberinya tanda. Tidak perlu ngotot.
Bukankah nanti tidak ada yang membeli ya? Sebaliknya, justru jika ada yang membeli, dia telah memberi nafas pada bisnisnya. Dia cukup menciptakan rasa yang enak, porsi yang layak, sehingga konsumen bisa datang lagi dan lagi. Konsumen pada akhirnya tetap akan berkompromi dengan harga.
Kita Butuh Pendidikan Mindset!
Kita butuh pendidikan soal mindset! Sayangnya mindset yang buruk selalu ada di mana saja. Tidak hanya pada paman saya yang hidup di desa dan berpendidikan tamatan SMA. Karena semua kembali pada lingkungan tempatnya berada.
Bapak adalah orang yang sukses dalam menata mindsetnya. Dengan gaji yang sangat layak, mampu untuk menabung lebih dari cukup demi menghidupi seluruh anggota keluarga setelah beliau pensiun. Bapak bahkan tidak pernah berhutang dan kami tidak pernah dikejar-kejar debt collector! Bapak hanyalah tamatan SMA.
Namun berbeda dengan paman yang hidup dari modal ke modal yang tidak pernah besar. Secara impulsif juga menghabiskan modal dengan cepat jika sudah memiliki modal jutaan. Tetapi tidak ada hasil karya dan hasil kerja yang mampu membuatnya berdikari.
Bapak cukup beruntung berada di lingkungan yang tepat. Lingkungan sosialnya mampu memberikan pendidikan yang sangat layak baik langsung dan tidak langsung. Tidak FOMO terhadap pencapaiannya selama bekerja dan memilih menabung. Tidak juga merasa harus hidup menghambur-hamburkan uang berlibur ke sana-ke mari. Padahal, bapak bisa saja melakukan itu.
Semua demi hidupnya yang sederhana. Kenyamanan pun diterima di saat tua. Bukan berarti tidak ada teman bapak yang jatuh bangkrut dan gagal. Ada. Bahkan menjadi obrolan di komunitasnya sendiri.
Sekarang, kita butuh pendidikan mindset. Dunia terus berubah. Jika tidak mengupgrade diri, yang terjadi, kita tetap akan kalah dengan dunia. Dimulai dari mana? Dimulai dari tidak merasa paling benar!