Ada perasaan jijik ketika menyaksikan orang-orang, khususnya diri ini, terlihat sama sekali tidak beradab akibat tumpukan “ilmu” yang sudah menggunung.
Sengaja saya beri tanda kutip agar kita semua sadar, bahwa ilmu yang bermanfaat hanyalah ia yang membuat kita bisa semakin baik dalam berperilaku, bukan sebaliknya.
Pernahkah kita sadar, atau setidaknya maukah kita sadar, bahwa dari kelakuan kita yang buruk itu, ada seseorang di luar sana yang menumpuk dendam sampai bertahun-tahun?
Ada di antara mereka yang mungkin sadar kalau kita memiliki ilmu (secara teori) yang memang dibutuhkan.
Tapi berawal dari pengalaman buruk hasil berinteraksi dengan kita, mereka jadi enggan mendekat.
Jangan buru-buru menghakimi bahwa itu karena mereka saja yang bodoh atau sombong.
Seharusnya, diri ini yang perlu dan harus selalu diintrospeksi.
Pernahkah terbayang betapa mengerikannya ketika kita yang pada suatu pagi sedang mengajarkan sebuah ilmu, tapi pada sore harinya justru membuat orang lari dari ilmu?
Parahnya adalah jika hal itu terjadi pada orang yang sama atau bahkan pada anak didik kita sendiri.
Pagi hari ia belajar, sorenya ia sudah pergi dengan perasaan jengkel yang kelak akan terus bertumpuk seiring berjalannya waktu.
Tidak takutkah kita akan dosa yang tampaknya sepele itu, yang membuat mereka tidak segan lagi untuk lari, bahkan sampai membenci agamanya sendiri?
Bila demikian, lantas sekarang ingin menyalahkan siapa?
Banyak-banyaklah berkaca.
Mulut kita begitu memesona, tapi kelakuan kita teramat busuk.
Oh, ayolah, tidak perlu tersinggung.
Jangan sampai banyaknya “ilmu” yang kita miliki justru membuat kita enggan mengakui aib sendiri.
Kerdil sekali diri ini bila seperti itu keadaannya.
***
Jika mau melihat lebih dalam, melihat betapa buruknya kelakuan kita, seharusnya kita lebih dari sekadar malu.
Jangan hanya sibuk menambah ilmu, tapi sibukkan juga untuk terus membenahi perilaku.
Yang bisa dilihat orang adalah akhlak kita, bukan ilmu yang kita miliki.
Bahkan, mereka pun tidak akan menaruh peduli terhadap banyaknya ilmu jika kita, yang katanya berilmu ini, justru tak ubahnya seperti orang-orang yang hidup di jalanan.
Pakaiannya saja yang beda, kelakuannya sama.
Di luar sana, di kehidupan masyarakat yang mayoritasnya memang masih belum berilmu, ilmu yang kita miliki itu justru seolah sama sekali tidak berharga.
Yang lebih mereka hargai adalah akhlak kita; dan ilmu akan menyusulnya kemudian, nanti, setelah akhlak kita benar-benar sudah terbenahi.
Jangan berharap mereka akan dengan senang hati menerima dakwah bila kalian saja, yang merupakan para pelaku dakwah, tidak bisa mengambil hati mereka dengan akhlak yang baik.
Sebagian ulama Salaf mengatakan,
“Sedikit adab itu lebih kita butuhkan daripada banyaknya ilmu.”
Madarijus Salikin, 2/376
***
Jangan sesumbar ingin menonjolkan diri dengan ilmu atau merasa lebih tinggi karena ilmu.
Padahal, justru karena ilmu yang semakin bertambah itulah, seharusnya kita semakin merendah.
Seakan sedang memanggul beban yang kian hari terus bertambah berat, seperti itulah ilmu.
Jika memang bermanfaat, ilmu tidak akan membuat pemiliknya menjadi sombong.
Tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, yang perlu dilakukan adalah mempertanyakan niat: untuk tujuan apa ia menuntut ilmu?
Merendah dan tunjukkanlah akhlak baikmu, maka dengan itu perlahan orang-orang akan bisa melihat sejauh mana dan sedalam apa ilmumu.
Terus membenahi akhlak nyatanya memang jauh lebih sulit daripada “hanya” menambah ilmu.
Ilmu yang terlupa masih dapat dicari, tapi hati yang terluka seringnya sangat sulit diobati.
--------------------
Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻
Traktir saya kopi 📲 di sini 😁
Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini