Imam al-Bukhari hidup pada abad ke-8 masehi, sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hidup pada pertengahan abad ke-12.

Mereka telah wafat beradad-abad yang lalu, tapi harumnya nama mereka masih tercium hingga hari ini.

Kebesaran nama mereka telah melampaui batasan waktu. Tetap harum: lintas masa, lintas generasi.

Namun, yang paling membuat kita iri adalah, tiap kali nama mereka disebut, lisan orang-orang beriman akan secara spontan mendoakan rahmat untuk mereka.

Tak hanya terucap dari satu orang, tak hanya terucap di satu tempat, pun tak juga terucap hanya di satu waktu.

Doa akan rahmat Allah selalu mengiringi nama-nama mereka.

Lalu, dari mana itu semua?

Kenapa kaum mukminin bisa begitu ringan untuk mendoakan limpahan rahmat kepada para ulama Salaf?

Di balik sekian banyak doa rahmat yang dipanjatkan, ada ungkapan terima kasih yang tak terucap.

Tapi kita, kaum mukminin, berharap semoga doa-doa itu bisa memberikan manfaat bagi para ulama Salaf.

Setidaknya itulah yang paling bisa kita lakukan untuk membalas budi atas jasa mereka yang begitu besar.

Pertanyaannya, apa yang telah mereka berikan sehingga kita harus banyak-banyak berterima kasih kepada mereka?

Terlalu mengagumkan.

Apa yang telah mereka berikan itu bahkan tidak akan pernah usang, meski zaman terus saja menua.

Selalu bermanfaat dan tak pandang waktu, itulah ilmu.

***

Ada banyak orang yang dikenal karena suatu kelebihan yang dimilikinya.

Tapi itu hanya sesaat. Sebatas dikenal, tapi tak sampai dikenang.

Orang-orang hanya kagum, karena memang apa yang ia miliki itu tidak bisa diambil manfaatnya.

Apa artinya sebongkah emas untuk orang yang sedang kehausan di tengah gurun?

Tapi hal itu tidak berlaku bagi ilmu. Oleh karena itulah, ia menjadi sangat istimewa.

Dalam hal yang bersifat duniawi pun, hanya mereka yang bisa memberikan manfaat sajalah yang akan benar-benar dikenang—atau dikenal.

Karya mereka terus dipelajari dan dikembangkan karena menyadari besarnya manfaat yang akan didapat untuk kehidupan umat manusia.

Meski begitu, tetap saja, tidak akan ada yang bisa menandingi kemuliaan ilmu agama.

Sebuah ilmu yang membuat orang yang mempelajari dan menyebarkannya, akan meraih kemuliaan tersebut.

Sebab, kemuliaan suatu ilmu bergantung pada apa yang dipelajari.

Tidak ada orang—yang berakal—yang tidak membutuhkan agama, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia untuk dipelajari daripada mengenal Allah dan agama-Nya. 

Dari situlah para ulama Salaf bisa meraih semua kemuliaan tersebut.

Mereka merahmati kaum mukminin dengan mengajari mereka agama rahmat, lalu di kemudian hari giliran kaum mukminin yang mendoakan rahmat untuk mereka.

Ada timbal balik yang saling menguntungkan, insyaallah.

***

Sekarang, apa?

Lautan ilmu mereka sudah ditumpahkan pada lembaran-lembaran kitab.

Tapi yang sangat disayangkan, manusia pada hari ini sudah sangat disibukkan oleh berbagai urusan dan kebanyakan dari mereka terlalu malas membaca.

Jangankan menelaah atau membuka sebuah kitab untuk mencari faedah, judul kitabnya pun tidak tahu.

Maka dari itu, kita yang alhamdulillah sudah dikaruniai hidayah dan taufik untuk mengenal agama-Nya, tidakkah tergerak untuk ikut menyebarkannya, semampu kita?

Dari hal-hal kecil, faedah ringkas mungkin, bisa saja itu akan sangat bermanfaat di kemudian hari.

Beberapa orang ada yang—dengan izin Allah—bisa tersadar dari lamunannya, setelah ia membaca sepenggal kalimat.

Apa kita tidak ingin mengambil sedikit bagian untuk amalan yang semoga pahalanya bisa terus mengalir?

Bayangkan jika suatu hari nanti kita telah tiada, tapi alhamdulillah kita sudah menyempatkan diri untuk sedikit berbagi faedah, semampu kita.

Kemudian, ada seseorang yang tak sengaja membaca faedah tersebut, lalu pada akhirnya “berterima kasih” dan mendoakan rahmat kepada kita.

Apakah selama ini kita tidak pernah berpikir sampai sejauh itu, atau apakah kita terlalu malas memikirkannya?

Di hari yang amat menegangkan itu, rasanya tidak ada yang lebih kita harapkan daripada rahmat dan ampunan-Nya.

Bila dahulu para ulama Salaf bisa mengabadikan harumnya nama mereka melalui sebuah kitab—yang bahkan ditulis dengan tangan, sekarang segalanya telah menjadi jauh lebih mudah.

Internet telah menawari kita untuk “abadi”.

Kini, tinggal kita yang memilih, keabadian seperti apa yang kita inginkan.

“Jika seorang anak Adam meninggal, seluruh amalannya akan terputus, kecuali dari tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang terus-menerus diambil manfaatnya, dan anak saleh yang senantiasa mendoakannya.”

HR. Muslim no. 1631, dari sahabat Abu Hurairah

--------------------

Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻

Traktir saya kopi 📲 di sini 😁

Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini