Artikel ini ditulis bukan untuk diperdebatkan.

Saya harap, kamu bisa mengonsumsi isi artikel ini dengan bijak.

Membacanya:

  • dengan pikiran yang benar-benar jernih,
  • tidak tersulut emosi,
  • dan bisa menimbangnya dengan nalar.

Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, saya menyajikan tulisan ini insyaallah dengan tanpa menyalahi rambu-rambu syariat.

Salam hangat.

Masalah Tempo Hari yang Terus Berlanjut

Ini barangkali akan menjadi sebuah masalah yang akan terus berlanjuttanpa putus jika tidak diselesaikan dan ditangani dengan cara yang tepat.

Semua berawal ketika menjumpai seseorang yang, mohon maaf (meski sebetulnya tidak perlu), miskin. 

Sejatinya tidak masalah bila semata miskin materi, tapi segalanya bisa menjadi rumit jika yang terjadi adalah miskin secara mental. Itu sungguh perlu dibenahi dari dalam.

Bagaimana caranya?

Ajaran agama (setelahnya kita sebut dogma) tidak salah. Ia adalah sesuatu yang baku.

Yang salah adalah orang-orang yang menerapkannya dengan cara yang keliru, entah apa motif dan maksud mereka.

Begini:

Pernahkah kamu menjumpai seseorang yang mengeluhkan kehidupannya yang:

  • serba kekurangan,
  • di bawah tumpukan tanggung jawab yang kian menumpuk,
  • dan di samping itu ia tetap ingin bisa belajar agama/mengaji?

Kita mencoba memberikan solusi, menawarinya suatu pekerjaan atau meminjamkannya modal untuk membuka usaha.

Dan kemudian, jawaban yang diberikan malah membuat kita seketika hilang empati terhadapnya.

Masa bodoh dengan nasibmu.

Apa jawaban yang orang itu berikan?

  1. Bingung cara memulainya,
  2. tidak mau sampai terlalu disibukkan dengan urusan dunia,
  3. ingin kerja yang santai dan banyak waktu untuk taklim,
  4. dan sebagainya ...

Kembali, saya akan menjawabnya: konyol, masa bodoh dengan nasibmu.

Kamu melihat sesuatu di sini?

Ya, terkadang dan bahkan seringnya, orang-orang membuat terlalu banyak alasan. Sudah telanjur bermental miskin.

Masih sudi berempati? Silakan, saya lebih tertarik meneruskan hidup.

Masih sempat membuat alasan lagi?

Silakan googling, lalu baca kisah hidup William Tanuwidjaya (founder Tokopedia) dan Muhammad Iman Usman (founder RuangGuru), dan resapi baik-baik bagaimana mereka bisa mengubah nasib tanpa privilese.

Mau versi yang lebih ekstrem?

Timothy Ronald.

Tonton di sini saja, bisa. Enggak perlu keluar ke YouTube.

Kalau mau skip, silakan:

***

Benteng dan Istananya

Bila ingin bermain lebih “aman”, buatlah perumpamaan untuk Dunia ini bagaikan sebuah benteng, lalu Agama sebagai istananya.

Untuk merespon jawaban bodoh yang diberikan orang tadi, mari kita ambil perumpamaan berikut:

Jika tidak ingin waktu kita untuk bersenang-senang di istana tersebut diganggu, sebelumnya terlebih dahulu kita harus mengerahkan cukup banyak upaya, termasuk berkorban waktu, untuk membangun sebuah benteng yang kukuh. Mengitari istana, menjaganya dari berbagai ancaman dari luar.

Semoga kisah sahabat Salman al-Farisi berikut bisa membantu kita agar lebih mudah dalam memahaminya.

***

Suatu hari di sebuah pasar, beliau terlihat sedang memanggul sekarung bahan panganan. 

Orang-orang yang melihatnya bertanya penuh heran, “Engkau adalah sahabat Nabi. Mengapa engkau melakukan hal ini?”

Sahabat Salman al-Farisi menanggapi perkataan mereka,

“Seorang hamba akan lebih tenang dalam beribadah ketika ia memiliki makanan yang cukup di rumahnya.”

***

Abdullah bin al-Mubarak pernah menangis karena kehilangan hartanya.

Ketika ditanya, beliau menjawab,

"Benar, ini hartaku. Benar, ini duniaku. Tapi karenanya, terjaga agamaku."

***

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata,

"Inti kenikmatan itu ada 3:

1) Nikmat keislaman, yang tidak sempurna kenikmatan kecuali dengannya.

2) Nikmat kesehatan, yang kehidupan ini tidak akan menyenangkan tanpanya.

3) Nikmat kekayaan, yang kehidupan tidak akan sempurna kecuali dengannya."

Hilyatul Auliya, 4/68

***

Orang yang memiliki “cukup” harta akan lebih tenang dalam beribadah, termasuk ketika sedang mempelajari agamanya.

Jangan spontan menyimpulkan “cukup” dengan “merasa cukup”.

Itu tidak akan menutupi kenyataan bahwa kita sedang berada dalam sebuah kondisi serba kurang–misalnya.

Salah dalam menerapkan dogma “merasa cukup”, hanya akan membuat kita terus-menerus terjebak dalam kubangan kemiskinan.

Realistis saja. Jangan fanatik dengan dogma yang penerapannya salah.

Dari semua itu, kenapa mereka yang selalu berusaha memberikan porsi besar dalam rutinitas hariannya untuk menghadiri majelis taklim, tidak mencoba mengamalkannya?

Maksud saya, apakah semata dengan mencari nafkah, sebuah penghidupan, akan membuat seseorang langsung terpalingkan dari akhirat begitu saja?

Tidakkah kita belajar, bahwa niat itu, yang meski selalu berubah, masih bisa dibenahi dan berusaha untuk dijaga agar tetap berada di atas bimbingan-Nya?

Rasulullah pernah bersabda kepada sahabat Amr bin al-Ash,

“Betapa baiknya sebuah harta jika berada di tangan seorang yang saleh.”

Majma’ az-Zawaid: 9/356. HR. Ahmad: 17798, Abu Ya’la: 7336, dan ath-Thabarani dengan sedikit perbedaan lafazh

Dalam bahasa yang lebih sederhana: bukankah mencari rezeki agar kehormatan kita terjaga, itu merupakan sesuatu yang baik?

Sabda Rasulullah kepada sahabat Sa’d bin Malik bin Abi Waqqash az-Zuhri,

“ … sungguh, engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan, itu jauh lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan mengiba kepada manusia.”

Muttafaqun alaih

***

Maka dari itulah saya membuat perumpamaan antara dunia dan akhirat tadi, dengan benteng dan istana.

Semakin kukuh bentengnya, semakin banyak waktu kita untuk menikmati kenyamanan berada di istana.

Saya kira, setiap orang yang sedang mencari rezeki seharusnya sudah paham betul bagaimana caranya mengatur waktu, membagi kesibukan antara bekerja dan beribadah–belajar agama.

Bukannya malah berlagak suci dan bersikap antiduniawi.

Munafik. Tidak ada yang tidak membutuhkan dunia.

Kita lihat sendiri, banyak pegiat dakwah yang dulunya mungkin "lurus dan jujur", bisa dengan begitu mudah digelincirkan oleh dunia yang dipegang orang-orang jahat.

Kenapa?

Karena bisa jadi, faktor terbesarnya, pegiat dakwah tersebut memang miskin secara materi.