
“Seandainya mereka masih hidup,” gumamnya dalam hati.
Jika orang lain bisa mendengar isi hatinya, mungkin mereka juga akan bergumam dengan kalimat serupa.
***
Di zaman ini, ada segelintir orang, minoritas, yang mendambakan sebuah ketentraman di tengah kacaunya kehidupan; berharap semuanya kembali normal ketika orang-orang justru semakin tak bermoral.
Hal itu bisa saja terwujud, bahkan sangat mungkin untuk diwujudkan.
Mereka paham betul bahwa hanya ada satu jalan untuk mewujudkannya: mempelajari ilmu agama.
Kaum hedonis tak akan pernah bisa mengerti jika mereka sendiri tidak mau menyadari; bagaimana mungkin agama—yang katanya adalah khayalan dan candu—bisa membuat hidup menjadi teratur, bahkan nyaman, kata mereka.
Ada satu hal yang belum bisa mereka jawab, padahal mungkin mereka telah “menikmati” dunia ini sejak muda hingga tuanya:
Jika memang faktor kebahagiaan itu adalah materi, berapa jumlah minimalnya agar seseorang bisa dikatakan bahagia?
Mereka tidak akan pernah bisa menemukan jawabannya karena memang satu-satunya faktor kebahagiaan itu bukanlah materi. Bahkan, dunia satu genggaman pun tidak akan bisa mereka nikmati seluruhnya sampai mati.
Mereka, para "minoritas", benar-benar mengerti bahwa ilmu agama akan memberi mereka kebahagiaan, di dunia dan akhirat.
Tapi mengerti saja tidaklah cukup. Harus ada usaha untuk mendapatkannya dan upaya untuk membagikannya kepada orang lain.
Lantas, di mana mereka bisa mendapatkan hal itu?
Kitab-kitab para ulama salaf (pendahulu).
***
Para ulama salaf jelas sangat memahami hakikat kebahagiaan.
Oleh karena itulah mereka, dengan perjuangan yang bahkan tidak bisa kita bayangkan, amat bersungguh-sungguh meraih kebahagiaan tersebut.
Akan tetapi, ternyata kebahagiaan yang hakiki itu tidak ada di dunia ini, ia hanya ada di akhirat.
Karena mereka yakin bahwa ajal pasti datang dan sebelum itu terjadi, mereka ingin agar orang lain, bahkan yang tidak pernah mereka temui sekalipun, juga mengetahui jalan menuju kebahagiaan hakiki.
Ya, mereka menulis.
Tulisan bermanfaat yang akan dibaca oleh orang-orang setelah mereka, hingga akhir zaman.
***
Ada kenyataan pahit yang tidak bisa dihindari: zaman yang semakin memperlihatkan kerusakannya.
Orang-orang, mayoritasnya, tak lagi memiliki pandangan yang jauh ke depan. Pandangan mereka hanya terbatas pada dunia yang justru kian rusak.
Mereka sudah tak lagi sabar demi mendapatkan kebahagiaan hakiki; yang mereka cari selalu materi. Sedih memang. Tak semua orang mau sadar.
Tapi di balik kenyataan pahit tersebut, ada harapan yang kian merekah.
Harapan yang dijumpai pada orang-orang yang eksistensinya akan tetap terjaga walaupun mereka adalah minoritas.
Sebab, mereka juga selalu berusaha menjaga cahaya agama Allah agar tidak padam. Mereka yang tak pernah menghiraukan celaan, meskipun muncul dari keluarga sendiri.
Mereka inilah orang-orang yang mewarisi peninggalan para ulama salaf, dan kelak mereka juga harus mewariskan peninggalan tersebut.
Oleh karena itu, jangan pernah menjadi bisu.
“Semoga Allah merahmati siapa pun yang menolong agama Allah walaupun hanya dengan satu kalimat. Kebinasaan itu hanyalah bagi seorang hamba yang enggan mendakwahkan agama ini, padahal dia mampu.”
asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa'di, dalam al-Qaulus Sadid, 1/37
--------------------
Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻
Traktir saya kopi 📲 di sini 😁
Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini