
Jika ada seseorang yang bertanya seberapa pentingnya membaca, saya sudah merumuskan jawabannya jauh-jauh hari dalam kalimat berikut:
“Kalau mau, kita bisa saja menguasai dunia seluruhnya.
Tapi mungkin penghalang terbesar kita hanya satu: rasa malas.”
***
Suatu waktu saya pernah melihat beberapa orang dengan penuh keheranan.
Saya memang tidak melihat mereka secara langsung, hanya melalui layar HP.
Aktivitas yang dilakukan ketika itu adalah jual-beli; dan keheranan itu bermula dari perasaan jenuh saat melihat mereka hanya melakukan hal yang sama tiap harinya: mem-posting iklan yang materinya itu-itu saja: persis, tidak pernah berubah.
Rezeki memang di tangan Allah, tapi di sana ada hal-hal yang bisa diusahakan untuk mendapatkan hasil yang lebih dari biasanya, insyaallah.
Jangan selalu dipahami bahwa ini adalah ambisi yang berlebihan terhadap dunia. Jangan.
Yang saya maksud, setidaknya semakin hari kualitas kita juga harus semakin bertambah.
Bukankah kita dituntut untuk terus belajar?
Ada Harga, Ada Rupa
Bila ada dua buah kue:
- kue pertama dibuat dengan bahan apa adanya dan dengan cara yang biasa-biasa saja,
- sedangkan kue kedua dibuat dengan bahan yang sedikit lebih berkualitas dan dengan cara yang lebih unik, misalnya.
Dari perbedaan ini saja, harga jual kedua kue itu sudah beda. Nominal modal sama, tapi tahap dalam proses pembuatannya berbeda.
Kita pun begitu: sama-sama dikaruniai akal, tapi tidak banyak yang mau memanfaatkannya dengan baik.
Selalu ada nilai tambah untuk sesuatu yang memiliki kualitas.
Jika itu adalah manusia, semakin berkualitas isinya, akan semakin berharga pula dirinya.
Jendela yang Tidak Pernah Dibuka
Tidaklah berlebihan jika ada pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia.
Sebuah rumah saja akan terasa sumpek jika jendelanya tidak pernah dibuka, apalagi bila itu adalah akal.
Tiap hari tidak pernah diberi asupan nutrisi. Lalu bagaimana ia akan segar?
Persis seperti rumah yang jendelanya tidak pernah dibuka. Tidak ada udara yang mengalir, pengap.
Alhamdulillah, hari ini segalanya telah jauh menjadi lebih mudah.
Internet benar-benar membuat kita bak seorang raksasa yang bisa dengan leluasa menggenggam dunia: memutar-mutar, lalu membolak-baliknya semau hati.
Dunia sudah dalam genggaman. Jadi, apa lagi yang masih kurang?
Sayangnya, kita sama sekali belum bisa menguasai dunia.
Dunia yang dalam genggaman itu nyatanya malah membuat kita bagaikan seorang budak.
Padahal, kalau mau dimanfaatkan dengan baik, kita akan sadar bahwa di dalam dunia yang kini telah "menjadi kecil" itu, ada begitu banyak hal yang bisa dicari dan ditelusuri.
Kita saja yang (mungkin) masih terlalu malas.
Adalah sebuah ironi, ketika dunia yang dalam genggaman itu kian hari kian canggih, kita yang sudah menggenggamnya malah tak henti-hentinya menjadi semakin bodoh.

***
Dulu, jika ingin mencari referensi, mungkin orang tua kita harus mencarinya di tengah ratusan buku di perpustakaan.
Sekarang, semua itu sudah dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah genggaman.
Kalau begitu, bukankah ini adalah peluang?
Faktanya, kemajuan teknologi malah membuat banyak dari kita menjadi lebih rentan.
- Lekas percaya pada berita-berita receh,
- sibuk berdebat di kolom komentar,
- dan keranjingan mengobrol menggunakan aplikasi pesan singkat
... adalah sedikit dari sekian banyak contoh yang bisa diberikan.
Iya, ‘kan?
Kita jarang sekali, bahkan enggan, memberikan nutrisi yang bergizi untuk diri sendiri. Akibatnya, kita masih belum juga menjadi pribadi yang lebih berkualitas.
Hari sudah jauh berjalan, sementara kita masih berdiam di tempat.
Segalanya sudah serba canggih, tapi kita malah semakin primitif; dan dunia yang kita genggam itulah salah satu penyebabnya.
Mau Tidak Mau, Ia Memang Harus Dibuka
Rasa penasaran semata belumlah cukup. Ia harus disertai dengan kesungguhan untuk terus mencari.
Tidak melulu dari artikel panjang atau jurnal ilmiah yang terlampau berat. Dari artikel-artikel yang ringan pun, asalkan sumbernya jelas, ia sudah bisa membuat kita lebih “berbobot” dari hari kemarin.
Bagaimana kita bisa tahu bahwa sebuah sumber bisa dipercaya?
Nah, makanya, teruslah bertanya dan mencari.
Percayalah, membaca itu menyehatkan dan tulisan itu memiliki rasa.
Jika sudah terbiasa, nanti akan kelihatan sendiri mana artikel yang berbobot dan mana artikel yang receh. Ada artikel yang netral, ada pula yang memiliki tendensi.
Meski bukan sesuatu yang bergerak, tulisan bisa membuat kita semakin jeli dalam melihat sesuatu.
Seiring berjalannya waktu, jika senantiasa ditekuni, kelak kita akan melihat diri kita telah banyak berubah dibandingkan kita di masa lalu.
Tapi jika ternyata kita masih belum berubah padahal sudah berlalu sekian tahun, bisa jadi itu adalah akibat kita yang menganggap bahwa membaca itu tidak ada gunanya.
--------------------
Beberapa tips membaca buku dari Pak Fikry Fatullah, founder & CEO KIRIM.EMAIL dan Utas.
Artikel menarik lainnya:
--------------------
Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻
Traktir saya kopi 📲 di sini 😁
Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini