
Ada begitu banyak momen kebahagiaan yang hadir dalam hidup setiap orang dan bahkan, beberapa momen itu sendiri seperti sudah direncanakan.
Liburan bersama keluarga, berkumpul bersama teman-teman, atau, untuk contoh tentang “kebahagiaan yang sudah direncanakan” adalah, pernikahan.
Beberapa momen datang dengan sendirinya dan beberapa lagi datang karena diundang.
Semua orang punya keinginan untuk mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
Kendati demikian, apa yang saya rasakan justru berbeda. Semoga ini bukan termasuk sikap tidak mensyukuri nikmat atau berburuk sangka kepada Tuhan.
Untuk beberapa momen yang memang terjadi secara spontan, semisal bermain bersama teman atau berkumpul bersama keluarga, semua itu belum mencapai tingkat “bahagia”.
Masih sekadar gembira seperti keumuman orang. Belum terlalu bisa dimaknai.
Tapi untuk momen-momen yang sudah terasa “spesial”, yang biasanya orang-orang akan tampak sangat bahagia, di saat itulah justru saya akan terlihat murung.
Hati perlahan dibuat muram karena meyakini bahwa semua momen “spesial” itu bisa lenyap begitu saja, bahkan sebelum sempat merasakannya.
Kita Ambil Tiga Contoh
Esok lusa akan ada acara liburan bersama keluarga. Aura kegembiraan mulai terasa, memenuhi setiap jengkal sudut rumah.
Semua begitu antusias menyiapkan perlengkapan berlibur, diselingi candaan-candaan hangat keluarga. Ini bukan lagi momen bahagia, ini adalah momen spesial.
Tapi siapa sangka, barangkali salah satu anggota akan dijemput kematian sebelum liburan itu sendiri dimulai. Bisa jadi juga, sebuah kecelakaan hebat akan terjadi di tengah perjalanan dan menghancurkan semuanya.
***
Akad nikah baru saja selesai, resepsinya pun berjalan sesuai rencana. Sampai kemudian, salah satu mempelai secara tiba-tiba menemui ajalnya.
Di tempat yang sama, dua momen yang amat bertolak belakang terjadi dalam waktu yang sangat berdekatan.
Kemarin baru saja dilangsungkan akad pernikahan, dan hari ini akan ada prosesi pemakaman.
***
Seorang bayi mungil berwajah rupawan baru saja lahir. Ia lahir dengan nama yang indah.
Tujuh hari berselang, diadakanlah acara akikah untuk menyambut kehadiran sang buah hati sekaligus menebar kebahagiaan kepada para tamu undangan.
Tapi esoknya, berita kematian lagi-lagi tersiar. Kali ini ibu dari si bayi tersebutlah yang wafat.
Sekarang, bila semua itu benar-benar terjadi, ke mana perginya sejuta kebahagiaan tadi?
Naudzubillah, tidak ada seorang pun yang menghendaki hal-hal "buruk" dalam cerita hidupnya.
Tapi begitulah takdir.
Maksud Saya Adalah ...
Saya sudah bilang di awal, bahwa saya hanya takut kalau apa yang saya rasakan ini merupakan sikap berburuk sangka kepada Allah atau “mengharapkan” keburukan yang semestinya tidak terjadi.
Apa yang saya rasakan dan sikap saya terhadap hal-hal tersebut di mata sebagian orang mungkin akan tampak seperti tidak menikmati dan tidak mensyukuri hal-hal baik yang telah datang, momen-momen spesial yang telah lama dinanti.
Bukan itu yang saya maksud.
Saya hanya ingin kita semua sadar, bahwa dengan menyadari betapa mudahnya semua kebahagiaan itu lenyap, hal itu akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih siap menerima takdir.
Walau begitu, segalanya tetap harus dilakukan dalam batasan yang wajar.
- Nikmati semua momen bahagia tadi,
- syukuri segala hal yang telah diberikan-Nya kepada kita,
- dan jangan lupa kalau Dia Mahakuasa menakdirkan apa pun.
Saya hanya ingin merasa lebih bahagia ketika saya sudah lebih bisa menerima takdir. Itu akan membuat semuanya, baik itu momen bahagia maupun momen sedih, menjadi jauh lebih bermakna.
Semoga kalian juga dimudahkan untuk itu.

--------------------
Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻
Traktir saya kopi 📲 di sini 😁
Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini