
Kalau diminta menyebutkan berbagai macam permasalahan yang ada di dunia ini, meski sedikit, saya pribadi jelas tidak kuasa dan tentu saja tidak mau.
Tapi dari sekian banyak permasalahan itu, terkadang ada beberapa hal yang sanggup membuat diri ini buta.
Ya, buta.
Bahkan, ia mungkin terlalu sepele untuk disebut sebagai suatu masalah.
Entah itu hanya gesekan kecil, ketersinggungan, salah paham, atau apa pun itu. Yang jelas, ia benar-benar bisa membuat diri ini buta.
Puncak
Hanya karena suatu hal yang mungkin terlihat sangat sepele, saya merasa bahwa saya merasa sebagai pihak yang paling benar, paling berhak, dan paling segalanya.
Pada kondisi tersebut, hati sudah tidak bisa lagi dan tidak akan mau disalahkan, apalagi dituntut.
“Saya merasa sudah menunaikan kewajiban saya, tapi kenapa saya belum juga mendapatkan hak saya?
Intinya, saya harus mendapatkan itu, saya harus begini, saya tidak mau dibantah, saya mau ini, dst.”
Pernah merasakannya?
Ya, saya pun tak jarang dihinggapi perasaan semacam itu.
Momen ketika hati seakan sudah mencapai puncak keegoisannya. Ia tidak mau kehendaknya ditolak atau bahkan diacuhkan.
“Pokoknya, harus!” gertak si hati.
Ketika mencoba menyadarkannya dengan berbagai nasihat pun, ia tetap kukuh pada pendiriannya.
“Kamu itu masih mending. Coba lihat orang-orang selainmu.”
Nasihat semacam ini juga tidak akan mempan jika hati sudah menapaki puncak keegoisannya. Ia sama sekali tidak bisa diajak “turun”, meski selangkah.
Sebuah kehendak yang membutakan. Kurang lebih seperti itu yang saya rasakan.
Datar Saja
Di sini, saat semua itu sedang terjadi, saya pribadi kembali mencoba dan terus memaksa diri ini untuk diam.
Benar. Sekali lagi, diam.
Saya tidak pernah membungkam hati yang terus saja berteriak. Tapi saya juga tidak serta merta menuruti kehendaknya.
Saya sadar, jika dibungkam paksa, akan semakin keras pula teriakannya. Semakin ditahan, semakin berontak.
Karena itu, walau saya biarkan ia berteriak, pada waktu yang sama saya juga mengajak raga ini untuk diam. Tidak melakukan apa pun dan tidak berkata apa pun.
Biarkan hati mengeluarkan isinya. Hati berteriak, tapi raga tetap diam.
Lalu apa?
Pada momen ketika kita diam inilah, beberapa teriakannya yang penuh gelora itu perlahan mulai bisa terurai dan dinalar.