Saya pernah membaca sebuah novel karya seorang penulis ternama.

Saya dibuat terkesima melihat caranya menggambarkan kebijaksanaan salah seorang tokoh dalam novel tersebut.

Nasihat-nasihat yang tertulis begitu menyentuh dan terasa “sempurna”, yang secara tidak langsung seolah menunjukkan bahwa sang penulis juga merupakan seorang yang arif.

Tapi semua itu barangkali sesuai dengan genre buku yang ditulisnya: fiksi.

Pun dengan nasihat emas atau kalimat-kalimat mutiara yang ditulisnya, semua itu seketika buyar menjadi fiksi belaka.

Saya mencari nama sang penulis di internet, kemudian secara tak sengaja menemukan artikel berita mengenai insiden bahwa sang penulis sedang kisruh, cekcok dengan orang lain karena suatu masalah.

Petuah-petuah indah yang pernah ditulisnya dalam sekian banyak buku jadi tak berbekas sama sekali begitu melihat kelakuannya yang, mohon maaf, mengecewakan. 

Apakah nilai-nilai “kebijaksanaan” yang ada di semua buku itu juga sama fiksinya?

Setumpuk Gunung di Atas Selembar Kertas

Pemandangan itu membuat saya pribadi merenung.

Di samping niat yang harus terus dibenahi ketika hendak menulis, ada kewajiban lain yang harus dilakukan begitu tulisan itu rampung: berdoa.

Berdoa memohon kepada Allah agar tidak menjadikan tulisan tersebut sebagai hujah atas kita.

Ya, tidak ada jaminan istiqamah sama sekali, yang diberikan-Nya kepada kita. Ada beban yang begitu berat di setiap karya yang selesai ditulis.

Hari ini, ketika semua tulisan itu telah selesai, bisa saja kita masih merasa “bersih”.

Semoga tulisan ini akan bermanfaat untuk umat, atau bisikan-bisikan indah lainnya.

Setan begitu ahli dalam hal ini. Mengelabui para ahli ibadah, bahkan para ulama.

Tapi esok, bisa jadi kita yang dulunya menulis sebuah kitab untuk membantah sebuah pemahaman sesat, malah menjadi corong bagi pemahaman sesat tersebut.

Kita menghujat diri kita sendiri dan di dalam karya tulis kita sendiri. Semua itu hanya masalah waktu.

Karena itu, kita semua sama sekali tidak memiliki jaminan. Kitalah yang harus terus meminta agar istiqamah itu senantiasa dianugerahkan kepada kita.

Memohon kepada-Nya agar menjadikan tulisan-tulisan itu sebagai hujah bagi kita, bukan hujah atas kita.

Istiqamah itu berat, dan hanya Allah yang bisa menjadikannya mudah.

Akhir Tulisan dan Tepian Jurang

Setiap orang yang telah menyelesaikan tulisannya seolah sedang berdiri di tepian jurang.

Diam di situ dan tidak bergerak. Tidak ada yang mampu menjamin keselamatan untuknya.

Bahkan, sedikit kecerobohan dan kelalaian saja sudah bisa membuatnya terpeleset lalu terhempas menuju dalam dan gelapnya jurang.

Hanya satu yang bisa ia lakukan—dan tidak boleh ditinggalkan: berdoa.

Semantap apa pun langkahmu, jika tidak disertai doa, orang-orang akan dengan mudahnya menghujat begitu melihatmu berbuat menyelisihi apa yang pernah kamu tulis.

Tulisan memang bisa “mencitrakan” diri kita, tapi perbuatanlah yang akan selalu membuktikannya.

Kita terlalu mudah lalai, terlampau ceroboh, teramat congkak, dan sangat zalim.

Sangat mengerikan bila kita hanya bermanis kata. Ada niat untuk menyampaikan ilmu, tapi tidak ada doa untuk mengamalkannya.

Kita terlalu munafik, sampai enggan menerima hujat—yang bahkan mengandung kebenaran.

Maka dari itu, mohonlah selalu agar semua yang pernah kita tulis akan memberikan manfaat kepada kita terlebih dahulu, sebelum bermanfaat bagi orang lain.

Satu lagi: Jangan bermain di tepi jurang, atau kita akan terjatuh.

--------------------

Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻

Traktir saya kopi 📲 di sini 😁

Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini