
Dari sekian “bukti” dan “fakta” yang disajikan, satu hal yang benar-benar membuat saya kagum adalah narasinya.
Benar, saya sering berpikir—kalau bisa, menyarankan—sepertinya lebih baik mereka menjadi content creator di suatu perusahaan ternama daripada membuat konten yang menyesatkan.
Saya akui, narasi yang mereka buat itu memang sangat cetar membahana, sensasional. Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk membuat semua narasi yang sedemikian panjangnya itu.
Satu video saja minimalnya berdurasi sekitar dua puluh menitan, dan mereka bisa membuatnya untuk sekian banyak video (episode).
Mengagumkan, tapi sayang, salah arah.
Rumus Praktis nan Efektif
Kalau mau lebih diperhatikan, narasi yang mereka buat ini, disadari atau tidak, sudah memenuhi salah satu kaidah atau rumus copywriting, yang menjadikannya laris manis di kalangan orang-orang latah.
Rumus atau kaidah itu biasa disingkat menjadi PAS (problem-agitate-solve).
Alurnya, calon konsumen akan dipaparkan sekian banyak skenario atau masalah yang mungkin saja terjadi dalam kehidupannya, lalu ia akan diagitasi (dihasut, dipancing, dsb.), dan pada akhirnya ia akan diberi “solusi”.
Setidaknya mungkin inilah yang terjadi pada dunia pemasaran secara umum.
Mirisnya, teori konspirasi juga menjadi salah satu dagangan yang laris manis berkat rumus ini. Bravo!
Kriteria copywriting yang bagus adalah yang bisa membuat konsumennya segera mengambil tindakan (dalam pemasaran, itu berarti membeli). Istilahnya, CTA (call to action).
Biasanya bagian itu terletak di bagian akhir sebuah konten agar para konsumen bisa langsung bertindak menurut intuisinya, yang muncul secara tiba-tiba begitu ia selesai menikmati konten tersebut.
Dan teori konspirasi benar-benar menerapkannya dengan baik.
Kita bisa melihat sendiri, biasanya para penggila teori konspirasi ini adalah orang-orang yang paling “berani” (lebih tepatnya sok berani).
Demi kemanusiaan, katanya.
Lihat, tindakan mereka hampir selalu dilatarbelakangi oleh emosi semata, bukan nalar.
Karena itulah, betapa pun “mengagumkannya”, saya tidak akan pernah menyebutnya sebagai ilmu karena nyatanya, yang benar-benar mengagumkan adalah narasinya. Sangat-sangat menjual.
Terasa berat untuk mengakuinya?
Mari, dinalar, jangan hanya selalu dirasa.
Perjalanan Mencari Sebuah “Kepastian”
Seberat apa pun kenyataan yang ada, segera sadari bahwa teori konspirasi bukanlah rujukan yang sehat.
Ia muncul hanya pada topik tertentu, yang dirasa menarik dan kemungkinan besar akan laris.
Hanya muncul untuk mencari sensasi. Kalau mau lebih kasar, hanya ingin mencari duit.
Buktinya?
Bila ada suatu kejadian “normal-normal” saja yang biasa terjadi di sekitar kita, kita akan segera mencari informasinya di internet (seringnya portal berita), dan kemudian kita akan segera memercayainya.