Shalat adalah ibadah raga yang paling agung; tidak ada satu pun yang akan menyangkal hal itu. Ia juga merupakan ibadah yang berkaitan dengan hak Allah yang akan dihisab pertama kali pada Hari Kiamat.

Tapi ada sebuah kekhawatiran di setiap dada orang yang mengerjakannya (jika dia seorang mukmin): niat yang berubah.

Jika berada di tengah-tengah keramaian, seperti di dalam masjid yang penuh dengan jemaah, menjaga niat akan menjadi sesuatu yang susahnya bukan main.

Bisikan itu bisa jadi akan datang di awal, pertengahan, akhir, atau bahkan beberapa saat setelah seorang hamba mengerjakannya.

Hampir mustahil menjaga niat dalam situasi seperti ini—kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah.

Yang menarik adalah, ketika seorang hamba sedang melakukan suatu ibadah (apa pun itu, tidak harus shalat) dan tidak ada seorang pun yang melihatnya; hanya dia dan Allah.

Seketika, ia merasa telah menjaga niat ibadahnya hanya untuk Allah.

Ia telah berusaha menyembunyikan ibadahnya dari manusia dan ia “berhasil” mewujudkannya. Ia telah menjadi hamba yang ikhlas, pikirnya.

Benarkah begitu?

Kenyataannya, hal-hal yang merusak niat itu ada banyak sekali, dan ia datang pada waktu-waktu yang tak terduga.

Kita ambil dua skenario. Semoga keduanya bisa sedikit memberikan gambaran tentang betapa amalan kita amat sangat mudah lenyap tak tersisa.

Pertama, anggap orang tersebut adalah kita sendiri—dan mau tidak mau kita memang harus membayangkannya, sebagai bahan introspeksi. 

Kita telah melakukan suatu ibadah dalam gelapnya malam, dalam keheningannya.

Kita bahkan sudah bersyukur kepada Allah karena telah diberi taufik untuk melakukan hal tersebut, dan hari-hari pun berlalu dengan tenang ... 

Kemudian, di suatu waktu kita bertemu dengan seorang pendosa.

Mungkin tidak harus pendosa. Intinya, orang yang lalai, orang yang tidak taat, atau minimalnya orang awam. 

Jika ketika itu kita merasa lebih tinggi darinya karena merasa sudah melakukan sebuah amal yang “tersembunyi”, selesai.

Amalan yang kita kerjakan tersebut, naudzubillah, bisa jadi pahalanya sudah lenyap. Bahkan, meski tidak terucap di lisan, hanya sepintas lalu dalam hati.

Kasarnya, sok ikhlas.

Kita sendiri bahkan tidak bisa menjamin apakah amalan itu diterima atau tidak, tapi bisa-bisanya kita malah merasa lebih tinggi hanya karena telah melakukannya.

Sadarlah, tatkala kita merasa tinggi itulah, barangkali ia merupakan pertanda bahwa amalan kita tertolak. Naudzubillah.

***

Kedua, mungkin ini yang paling sulit.

Hari-hari berjalan seperti biasa, tidak ada yang perlu dicemaskan.

Lalu, secara tiba-tiba dan entah kenapa hal itu terjadi, seseorang muncul di hadapan kita.

Dari bahasa tubuhnya atau bahkan dari lisannya sendiri, jelas sekali ia merendahkan kita, menganggap remeh amalan kita, dan seterusnya.

Ia jelas berdosa, tapi respon kita setelahnya juga akan menentukan apakah kita serupa dengannya ataukah tidak.

Bila dalam hati kita merasa tidak terima karena telah dihina, itu adalah penyakit.

Dan bila kita justru menjawabnya dengan lisan, menyatakan secara terang-terangan bahwa apa yang telah kita lakukan itu lebih baik, ini yang paling parah.

Semudah itukah kita terpancing, hanya karena seseorang telah mencela kita?

Dari dua skenario sederhana itu saja, kita harus mengakui bahwa taufik untuk ikhlas dalam beribadah memang hanya datang dari Allah semata.

Karena itu, tiap kali selesai dari sebuah amalan, ber-istighfar-lah.

Ampunan Allah atas segala kekurangan kita dalam menghamba, rasanya seakan lebih berharga daripada penerimaan-Nya terhadap amalan itu sendiri. 

Entahlah, wallahu a’lam.

Meralat Judul

Semua itu belum berakhir. Masih ada lagi yang sungguh membuat kita semua patut khawatir.

Pernahkah terbayangkan, kita yang alhamdulillah diberi taufik oleh Allah untuk beristighfar, malah tertipu dengan istighfar itu sendiri?

Berada di tengah lautan manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing, tiba-tiba hati kita membisiki untuk beristighfar.

Mengingat segala dosa yang telah diperbuat, lalu meminta ampun kepada Dzat Yang Maha Pengampun.

Tapi petaka itu justru muncul tak lama kemudian.

Tatkala kita yakin bahwa kita telah mengucapkan istighfar dalam batin, hanya Allah dan kita sendiri yang tahu, sesaat kita menganggap bahwa diri ini adalah hamba yang:

  • paling banyak bertobat,
  • paling cepat mengingat dosa,
  • dan di saat yang sama menganggap orang-orang di sekitar kita adalah orang yang lalai dan tidak pernah beristighfar.

Sampai sejauh itukah setan membisiki hati kita untuk terus berbangga, bahkan terhadap sebuah amalan yang sejatinya kita sedang memohon ampun?

Kita merasa tinggi dengan istighfar?

Boleh jadi kita memang belum sungguh-sungguh beristighfar. Maka dari itu, rasanya judul yang lebih tepat adalah Tipuan “Istighfar” (dengan tanda petik).

Isitghfar yang kita lakukan barusan barangkali bukan istighfar yang sebenarnya.

Istighfar yang masih disertai perasaan ujub.

Istighfar yang menipu.

Teruslah Memohon Ampun

Lepas beramal, jangan pernah lagi kita ingat amalan tersebut. Kita tidak pernah disuruh menghitung atau bahkan mencatatnya.

Apa yang menjadi beban bagi kita adalah tuntutan untuk mengingat dosa-dosa yang telah lalu; yang meskipun kita semua berat untuk mengingatnya, setidaknya itulah cara untuk menyingkirkan ujub yang hinggap di hati.

Tangisilah dosa-dosa, abaikan orang-orang, dan bawalah hati untuk menyendiri bersama Rabbnya.

Tak masalah jikalau raga bersama manusia, asalkan hati tetap bersama Rabbnya.

Tak ada yang kuasa dan tiada seorang pun yang diberi kuasa untuk mengurusi hati. Ia sepenuhnya berada di antara jemari Dzat yang Mahakuasa membolak-balikkannya.

Mintalah hati yang selalu kembali dan bersungguh-sungguhlah dalam memohon ampun.

Akhir kata, jangan mudah ditipu.

--------------------

Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻

Traktir saya kopi 📲 di sini 😁

Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini