
Menulis itu mudah.
Ya, sudah ratusan bahkan ribuan orang yang mengatakan itu, meski jujur saja, kita selalu saja punya alasan untuk menyanggahnya.
Benar, menulis itu sulit. Setuju, ‘kan?
Tapi ketika saya menyadari adanya sebuah alasan besar dan penting untuk menulis, saya mencoba semampu saya, untuk memetakan dan merunutkan aktivitas tulis-menulis dan mengapa ia begitu penting.
Mulai dari bagian pertama—sekaligus paling membingungkan.
Apa yang Mau Ditulis?
Kita coba permisalan yang paling sederhana dan sesuai dengan realita.
Anggaplah kita adalah seorang pendatang di sebuah negeri antah-berantah yang kita sama sekali tidak mengerti bahasanya.
Kita membisu, tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana cara mengatakannya.
Maka dari itu, hal pertama yang paling kita butuhkan adalah berinteraksi.
Dengarkan orang-orang berkata apa, lalu berusahalah untuk memahami maknanya: kapan mereka mengucapkan suatu kalimat dan kepada siapa kalimat itu layak ditujukan.
Kemudian, terus tingkatkan.
Perbanyak interaksi dengan mereka hingga kita bisa mengucapkan sebuah kalimat yang bisa dipahami dengan baik. Itu sudah cukup.
Untuk pemula seperti kita, sekadar orang lain bisa mengerti apa yang kita katakan, itu sudah sangat bagus.
Kita sudah bisa mengutarakan maksud kita dengan baik. Sesederhana itu. Jadi, jangan dibuat sulit.
Nah, maksud saya:
boleh jadi kita masih belum bisa menulis sesuatu karena memang belum ada sesuatu yang kita baca.