
Salah satu hal paling beracun di dunia ini boleh jadi adalah sebuah nasihat yang bukan pada tempatnya.
Karena itulah, dalam beberapa momen, tepat sekali hal ini disebut dengan toxic positivity.
Esensi atau kandungan utama dari nasihat tersebut memang benar dan bahkan bagus.
Tapi karena cara dan waktu penyampaian yang kurang tepat, bisa menjadikannya berakibat fatal–akan diuraikan setelahnya.

Ibnul Qayyim sendiri pernah berujar,
“Kebijaksanaan itu adalah melakukan perbuatan yang tepat, dengan cara yang tepat, dan pada waktu yang tepat.”
Madarijus Salikin, 2/449
“Ada enam perangai yang bisa diketahui pada diri orang bodoh:
1) Marah tanpa alasan yang jelas.
2) Berucap tanpa manfaat.
3) Memberikan nasihat bukan pada tempatnya.
4) Suka menyebarkan rahasia orang lain.
5) Percaya pada semua orang.
6) Tidak bisa membedakan mana lawan dan kawan.”
Muhammad bin Manshur ath-Thusi, dalam Hilyatul Auliya (9/216–217)
Keinginan Baik Saja Tidak Cukup
Seringkali orang, bahkan sekalipun dengan niat dan keinginan yang mulia, mudah sekali melontarkan nasihat tanpa mendalami keadaannya lebih jauh.
Saya sengaja menggunakan diksi “melontarkan”, bukan “menyampaikan/memberikan”, karena apa yang keluar dari mulut orang seperti itu seringnya tidak akan tertangkap sebagai nasihat, meski isinya mungkin merupakan sebuah nasihat.
***
Pada suatu waktu, al-Imam Ibnul Jauzi pernah diminta oleh para jemaahnya untuk menyampaikan sebuah motivasi perihal membebaskan budak.
Beliau ini memang sangat terkenal akan kefasihan dan keindahan tutur katanya. Jadi, wajarlah bila beliau yang diminta memberikan nasihat tersebut.
Permintaan itu terus berlanjut, datang bergantian.
Tapi tiap kali diminta, beliau selalu meminta uzur, belum sanggup.
Hingga berlalu beberapa waktu, barulah beliau berkenan dan kemudian maju menyampaikan motivasi yang diinginkan, perihal membebaskan budak.
Kamu tahu apa yang dilakukan beliau dan kenapa beliau selalu meminta uzur tiap kali diminta memberikan nasihat?
“Selama ini aku mengumpulkan sejumlah harta agar cukup untuk membeli seorang budak, untuk kemudian dibebaskan.
Aku tidak suka apabila aku menyampaikan suatu nasihat, tapi aku sendiri belum melakukannya.
Karena itulah aku selalu meminta uzur tiap kali kalian memintaku menyampaikan nasihat.”
NB: Sebatas yang saya ingat, kisah ini dinukil dari kitab Raudhatul Uqala.
***
Semakin jelas di sini?
Ada baiknya–dan justru sangat baik–jika kita mau terlebih dahulu memahami kondisi, keadaan, serta segala hal yang membuat nasihat itu bisa diterima dengan baik.
Bukankah menyampaikan ilmu dengan bahasa dan cara yang mudah dipahami itu adalah setengah ilmu?
Ya, setengah dari ilmu itu sendiri.
Poin Utama
Setelah membual cukup panjang, mari, sekarang saya utarakan apa maksud sebenarnya dari semua ini.
Tanpa mengurangi rasa hormat, kepada para pembaca yang semoga saya tidak salah sasaran, saya ingin bertanya beberapa hal:
- Di umur berapa kalian mulai mengaji, belajar agama, rajin beribadah, dan seterusnya, dan seterusnya?
- Sudah pernah merasakan kehidupan di pondok pesantren untuk waktu sekian tahun?
- Sudah pernah mengurusi bocah-bocah tanggung dan remaja-remaja sok jagoan di lingkungan pondok?
- Sudah pernah diberi amanah mengurusi anak-anak orang, mendidiknya di kelas ataupun asrama?
- Dan pertanyaan inti, sudah punya anak, baik laki-laki maupun perempuan, yang sekarang sudah menjadi dewasa dan alhamdulillah lurus, tidak terpikir melakukan kenakalan lagi?
Dari seluruh pertanyaan yang kemungkinan besarnya akan dijawab “tidak” dan “belum”, saya hanya ingin bertanya dengan penuh hormat,
“Apakah adil jika kalian menyuruh dan bahkan sampai menuntut kami agar menjadi layaknya seorang ulama sekelas ulama salaf?”
Sebagai catatan, saya menulis artikel ini, hari ini, di usia saya yang masih 22.
Saya sama sekali tidak ingin memancing keributan atau membuat gaduh, atau bahkan mengadu domba antara orang tua dan anak remajanya.
Sama sekali tidak.
Berbicara saja pilih-pilih orang, apalagi harus berdebat. Malas sekali saya.
Yang saya maukan adalah, hendaknya kita semua berusaha bersikap dengan penuh kesadaran diri.
Remaja jenuh belajar, itu wajar.
Remaja sedang malas, itu wajar.
Remaja berulah (selama dalam batasan syariat dan norma), itu wajar.
Remaja ingin bersenang-senang, liburan, dan sebagainya, itu juga sangat wajar.
Saya tegaskan kembali: semua itu amat sangat-sangat wajar.
Apakah hanya karena kalian baru saja mengenal dakwah dan sedang berada pada masa-masa puncak semangat, kemudian melihat sejumlah “keganjilan” tadi terjadi pada kami, lantas kalian spontan:
- merendahkan kami,
- memandang kami dengan sinis,
- dan bahkan sampai mengadukan ini kepada para ustat?
Pada momen-momen semacam inilah biasanya banyak “nasihat” beracun akan keluar, dan itu mungkin akan sama sekali tidak berguna.
Toxic positivity.
Hei, pada usia tersebut, apa yang sedang kalian lakukan?
Bersyukur kami masih memperhatikan pelaksanaan shalat-shalat kami–meski tentu dengan penuh kekurangan.
Tapi bukankah hal itu (rajin shalat) adalah suatu prestasi besar bila dilakukan pada masa kalian?
Saya tidak merasa perlu untuk meminta maaf atas kata-kata yang mungkin terdengar kasar.
Sebab, beberapa orang memang boleh jadi sangat pantas diperlakukan seperti itu.
Ringan sekali ia memberikan “nasihat” dan melupakan begitu saja masa lalunya. (Baca kembali perkataan para ulama yang saya sebutkan di atas agar tidak emosi)
Kalau memang ingin disombongkan, dalam banyak hal, kami jelas menang.
Tapi jelas bukan itu yang kami maksud. Kami sama sekali tidak berkeinginan demikian.
Kita Selesaikan Bersama
Bagaimana, tegang sekali, ya, membaca artikel saya barusan? 😁
Sama. Saya pun ketika menulisnya juga sangat tegang.
Daripada disimpan terus di kepala dan malah bersungut-sungut sendiri, menuliskannya ke dalam blog pribadi semoga bisa menjadikannya pelampiasan yang bermanfaat.
Jadi, singkatnya, sebelum berkomentar atau mengutarakan sesuatu, apakah tidak lebih baik bila kita berilmu terlebih dahulu?
Ilmu bukan hanya sekadar ajaran agama atau hukum syariat.
Ilmu juga bisa berupa:
- pemahaman kita yang bagus mengenai kepribadian seseorang,
- kejelian melihat situasi,
- dan kesadaran diri yang baik.
Semoga masa depan kita semua akan menjadi lebih cerah dan tidak ada lagi tuntutan konyol yang terulang.
--------------------
Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻
Traktir saya kopi 📲 di sini 😁
Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini