Salah satu effek negatif dari kebiasaan menggunakan AI yang kurasakan -- aku jadi tergesa-gesa.

Ketika mau nulis, rasanya ingin sekali tulisan itu cepat selesai. Padahal, sebelum AI datang, aku pernah menikmati proses menulis. Merasakan setiap kata yang aku ketik. Merasakan setiap proses berpikir yang ada dikepalaku. Ketika diposting, tulisan itu terasa berarti. Bahkan ketika gak ada yang membaca. Karna menulis itu seringkali tentang diri sendiri.

Sekarang maunya serba instan. Begitu dipost, ia hilang begitu saja. Kita melupakannya karna memang gak ada diri kita didalamnya.

Sekarang coba tanyakan ke diri sendiri:

  • Kenapa harus cepat? apa yang dikejar? mending mana? 100 artikel perhari tapi tapi gak bermakna apa-apa vs. 1 artikel tapi ditulis dengan hati?
  • Apakah berarti kamu gak menikmati dunia tulis menulis lagi?

Dalam hal menulis, cobalah melambat.

Tentukan mana pekerjaan yang harus dikerjakan dengan AI dan mana pekerjaan yang harus kamu kerjakan sendiri.

Menulis, satu-satunya cara agar kita tetap menggunakan kepala kita. Dalam hal menulis, tampaknya gak masalah kalo kita gak menggunakan AI. Mungkin justru sebaliknya, dalam jangka panjang kemampuan menulis manual kita akan jadi lebih cepat. Gambarannya seperti skill publik speaking. Diawal-awal kita gagap, di hari ke 100 bicara kita jadi lebih lancar dan cakap.

100 hari lagi disaat orang lain masih menggunakan AI dalam menulis, kita sudah terbiasa menulis dengan hati. Dan itu menjadi kelebihan kita di tengah lautan informasi yang tercemar.

Seperti kata Paul Graham: menulis itu gym untuk otak. Gak ada salahnya kita menyediakan waktu, rutin menulis setidaknya sekali seminggu demi menjaga kesehatan otak.

Kebiasaan ini akan mengubah segalanya. Kamu jadi lebih mudah menulis essay panjang, atau menulis script youtube dengan durasi 20+ menit lebih. Kontenmu jadi lebih otentik, karna ada dirimu didalamnya.