Ini adalah edisi #1 dari Five Ideas Weekly, di mana saya berbagi dengan Anda 5 hal ide menarik yang saya temukan minggu ini, dalam 5 menit atau lebih.

Info cepat sebelum mulai: Aku baru aja menyelesaikan ebookku yang berjudul "Creative Thinking with AI". Di ebook ini aku membahas bagaimana proses berpikir kreatifku dalam menulis, mengembangkan produk, memperluas ide, hingga masalah kehidupan sehari-hari. Kalo kamu terbarik boleh CO disini.

Sekarang mari kita mulai.

. . . .

1. Meningkatkan High Agency

https://x.com/george__mack/status/1996292329880047758https://x.com/george__mack/status/1996292329880047758

Ini tentang memastikan diri Anda tetap dalam kendali diri Anda sendiri. Jangan biarkan diri Anda menjadi karakter NPC.

Tipsnya, gunakan dua mode.

  • Mode pertama jadilah pelaku (dirimu yang bertindak).
  • Mode kedua jadilah pengamat untuk dirimu yang bertindak.

Sebagai contoh, bayangkan kamu punya tugas penting menghantar barang ke daerah tertentu. Sebagai pengamat, kamu harus memastikan dirimu menyelesaikan tugas sesuai target, bukan malah teralihkan oleh suasana -- seperti singgah kerumah teman atau nongkrong di warung kopi hanya karna diajak teman.

Manusia high agency adalah manusia yang mampu merencanakan, mampu memerintah dan mau mentaati dirinya sendiri untuk menyelesaikan apa yang sudah ia rencakan. Sebaliknya manusia low agency, hidup terombang-ambing.

2. Pentingnya merencanakan hari.

https://x.com/naval/status/1996857209628868659https://x.com/naval/status/1996857209628868659

Ini masih berhubungan dengan point pertama.

Tipsnya, dipagi hari pastikan kamu sudah membuat 2-3 target atau goal apa yang harus kamu kerjakan pada hari itu. Saya sendiri sudah melakukan ini beberapa bulan ini.

3. Lifelong Learner

https://x.com/RobertGreene/status/1979623533790781826https://x.com/RobertGreene/status/1979623533790781826

“Banyak orang yang sangat terpelajar secara formal justru tidak berpendidikan, dan banyak orang yang sangat berpendidikan justru tidak terlatih secara formal.” — Milton Friedman

Ketika kita tamat kuliah, bukan berarti pembelajaran kita juga selesai. Masalahnya, begitu mendapatkan gelar -- banyak yang enggan menyentuh buku lagi. Padahal ilmu yang didapatkan selama kuliah gak akan bertahan lama alias gak relevan dengan kondisi terkini. Jadi jangan heran banyak pejabat kita gak ngerti apa-apa. Dan perlu diingat, untuk menggapai demokrasi yang open society itu diperlukan masyarakat yang terdidik (minimal pembaca). Sekarang lihat, perwakilan kita di DPR, bupati-gubernur dan presiden yang kita pilih adalah cerminan isi kepala masyarakatnya.

Seperti kata Isaac Asimov "Education isn't something you can finish."

4. Specific Ambition

https://x.com/anuatluru/status/1759602029125632042https://x.com/anuatluru/status/1759602029125632042

Lagi-lagi ini tentang pentingnya kejelasan (clarity). Ambisi yang terlalu besar dan umum hanya akan menguasai pikiran kita, membuat kita ingin banyak hal tanpa tahu harus memulai dari mana. Ambisi yang spesifik, sebaliknya, memberi kita arah.

Untuk mengatasi masalah ini, ini yang aku rekomendasikan:

  • Petakan: Luangkan waktu untuk memetakan apa yang harus kamu lakukan (pecah jadi goal-goal kecil).
  • Design protocol: Ubah step sebelumnya jadi protocol harian. Baca protocol ini setiap paginya. Kenapa? Karna kita itu spesies yang mudah teralihkan. Membaca protokol harian akan membantumu tetap terjaga di path yang udah kamu tentukan.

5. Skill bermain mencerminkan kesuksesan?

https://x.com/naval/status/1998661932572881116https://x.com/naval/status/1998661932572881116

Saya punya pengamatan dan ini mungkin perlu diteliti lebih lanjut. Ketika saya pulkam ke desa saya setelah beberapa tahun merantu, saya mendapati 4 teman saya ini lebih sukses dari saya, meskipun mereka gak kuliah. Mereka punya rumah bagus, mobil bagus, asset seperti kebun (typikal orang sumatra) dan kehidupan yang bagus -- mereka gak ada aturan kerja 9-5, mereka bebas memilih waktu libur. Mereka punya kesamaan yang sama:

  • Waktu kecil mereka adalah pemain yg jago. Mereka adalah pengumpul kelereng dari hasil bertanding, mereka pengumpul kartu. Kebiasaan itu berlanjut hingga mereka dewasa. Sama halnya seperti bermain, uang adalah point yang mereka kumpulkan dari hasil bermain.
  • Pikiran mereka sederhana. Kesederhanaan membuat mereka fokus, mereka tidak perlu bertarung dengan batin karna banyaknya pilihan. Ntah mereka membuka toko kelontong, ntah mereka menyewakan alat pesta, dalam waktu 4 tahun mereka berhasil mengumpulkan kekayaan (4 tahun waktu yang saya habiskan untuk kuliah). Kesedarhanaan dalam berpikir, mereka tidak perlu tahu siapa itu Warrent Buffet, Siapa itu James Clear, siapa itu Dan Koe, siapa itu Timothy Ronald — mereka kaya dengan ide sederhana namun focus.
  • Satu lagi, aku melihat mereka agak berbeda, mereka bukan typikal yang suka ke warung/nongkrong.

Seperti kata Charlie Munger: Pilih ide sederhana, lalu tekuni dengan serius. Ini bukan tentang kuliah, tapi tentang menjalani apa yg udah kamu pilih dengan serius.

Aku yakin, sebagaian dari kamu juga pasti merasakan ini. Kamu kuliah jauh-jauh, merantau tapi kaget — ternyata kamu gak sekeren itu. (yess aku tahu kamu mungkin bilang jangan bandingin diri haha..).

Demikian lima ide menarik minggu ini. Terima kasih sudah meluangkan waktu, selamat menikmati akhir pekan.

. . . .

Rekomendasi bacaan minggu ini:

  1. Tulisan Florin Pop - My $1m Journey. Tantangan menarik yang patut untuk dicoba. Kamu bisa menyesuaikan dengan kontek lokal (rupiah), misal 100juta, 1miliar..
  2. Dunia ini dipenuhi dengan masalah yang gak habis-habis, tapi disinilah letak peluangnya. Manusia secara alami adalah pengusaha.