Ini adalah edisi #13 dari Five Ideas Weekly, di mana saya berbagi dengan Anda 5 hal ide menarik yang saya temukan dari para makers, saintis, engineer, filsuf, hingga seniman.
Sekarang mari kita mulai.
. . . .
1. Magang di Internet
Mas Muji kemarin ngetag aku di threads. Ia mengingatkan ku pada satu konsep yang dulu pernah aku bahas di salah satu ebookku. Konsep itu adalah "Magang di Internet".
Btw, ramaikan juga newsletter Mas Muji disini.
Ide-ide "Magang di Internet" ini semakin kuat, karna semakin banyak saya temukan argumen yang memperkuatnya haha. Misalnya ini:
Lalu seperti apa penjabaran "Magang di Internet" yang dulu pernah aku kembangkan?
Magang di Internet.
Ibarat ngantor, bayangkan Anda sedang magang. Bedanya Anda magang di internet, kantor Anda di ruang internet. Dengan kata lain, Anda magang untuk masyarakat internet (audience).
Dan magang di internet meliputi dua hal:
- Learn in public
- Build in public
Naval bilang: “Keahlian spesifik gak dipelajari di sekolah. Tapi lewat magang.”
Belajar dari ngulik langsung, bukan nunggu disuruh. Dan magang di internet adalah cara kita untuk mendapatkan pengetahuan spesipik tersebut. Pengalaman dan ilmu yang didapat menjadi relevan karna kita langsung bereksperiment pada kasus yang nyata.
Di era internet:
Magang = bikin, ngonten, eksplor, publish, ulangi.
Naval bilang: “Anda akan jadi kaya kalau kasih masyarakat (internet) sesuatu yang mereka inginkan tapi belum tahu cara mendapatkannya.”
Disinilah kata kuncinya, magang diinternet adalah aktivitas memberi.
Kata (internet) setelah masyarakat dikuoate tersebut sebenarnya tambahan dariku sendiri.
Dua kuote Naval inilah yang sebenarnya menginspirasiku untuk mengembangkan konsep magang di internet ini.
Cari masalah audience Anda (masyarakat internet) → bikin solusi → distribusikan lewat konten.
Internet itu seperti panggung pertunjukan. Tanpa syarat (permissionless) tugas kita cuma satu: gmana supaya orang mau melihat pertunjukkan kita. Karya yang kita buat haruslah serius. Contoh, ada banyak yang membuat video dengan bantuan AI. Tapi yang membuat video dengan kualitas tinggi gak banyak.
Dua contoh berikut ini, menjadi bukti bahwa kamu pun bisa menjadi sutradara indie.
Sawit Game Series yang terinpirasi dari issue dalam negeri oleh Fahmi Solahudin.
Animasi pendek oleh Hashem Alghalili.
2. Ketika divisi bisnis ikut campur urusan produk.
Elon Musk menjelaskan ini lebih detail dalam buku The Book of Elon:
Saya khawatir jika saya tidak mempelajari bisnis, saya akan terpaksa bekerja untuk seseorang yang mempelajarinya, karena mereka akan mengetahui hal-hal khusus yang tidak saya ketahui. Saya tidak menyukai gagasan itu, jadi saya memastikan saya juga mengetahui hal-hal tersebut.
Tujuan saya adalah untuk merekayasa produk dengan memahami fisika dan untuk tidak pernah bekerja untuk seorang bos yang memiliki gelar bisnis.
. . .
Salah satu alasan SpaceX dapat bergerak begitu cepat adalah karena saya membuat keputusan teknis dan keputusan pengeluaran secara bersamaan dalam satu pikiran. Di sebagian besar perusahaan, keputusan-keputusan tersebut membutuhkan setidaknya dua orang yang berbeda.
Ada seorang ahli teknik yang mencoba meyakinkan seorang ahli keuangan bahwa uang ini harus dibelanjakan. Tapi ahli keuangan itu tidak mengerti teknik, jadi dia tidak bisa mengatakan apakah ini cara yang baik untuk menghabiskan uang atau tidak. Ditambah lagi, mereka mungkin tidak saling percaya. Saya membuat keputusan teknik dan pengeluaran bersama-sama dengan semua informasi di satu tempat. Otak saya percaya pada dirinya sendiri.
Saya adalah kepala insinyur, kepala perancang, dan CEO di SpaceX, jadi saya tidak perlu tunduk pada orang yang hanya mementingkan uang. Saya bertemu dengan para CEO yang tidak mengetahui detail teknologi mereka, dan itu sangat menggelikan bagi saya.
3. Elon, Edison dan Steve Jobs tentang Seni Menghapus Proses.
Lagi, Elon Musk dalam The Book of Elon membahas lebih detail tentang topik ini, begini kutipan buku tersebut.
Selama tiga bulan saya berada di gigafactory mencoba membantu memperbaiki produksi baterai. Ada banyak hal kecil yang perlu diperhatikan. Saya melihat setiap bagian kecil dari setiap proses dan bertanya, "Apakah proses ini perlu?"
....
Bagian terbaik adalah tidak adanya bagian. Proses terbaik adalah tidak adanya proses.
......
Saya meminta semua orang di perusahaan saya untuk menerapkan proses lima langkah secara ketat untuk rekayasa perangkat lunak. Saya menyebutnya Algoritma. Saya akan mencantumkan langkah-langkahnya, lalu menjelaskannya. Urutannya sangat penting.
1. Buat persyaratan Anda tidak terlalu konyol.
2. Berusahalah sekuat tenaga untuk menghapus bagian atau proses tersebut.
3. Sederhanakan atau optimalkan.
4. Percepat.
5. Otomatiskan.
..... Kecenderungan untuk menambahkan bagian atau langkah proses ini "hanya untuk berjaga-jaga" cenderung sangat kuat . Tetapi Anda dapat membuat argumen "hanya untuk berjaga-jaga" untuk banyak sekali hal.
Orang cenderung mengingat, terkadang dengan rasa sakit yang menyakitkan, ketika mereka menghapus sesuatu yang kemudian mereka butuhkan. Mereka melakukan koreksi berlebihan, dan memasukkan terlalu banyak hal, yang membuat segalanya menjadi terlalu rumit.
Kesalahan paling umum yang dilakukan oleh para insinyur cerdas adalah mengoptimalkan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
4. Pattern Recognition -> Connecting the Dots
Sorry sebelumnya haha.. disini aku izin menggunakan ChatGPT. Aku akan minta ChatGPT untuk mencari tahu apa saja teknik yang bisa kita gunakan untuk menghubungkan berbagai topik. Anggap aja kita (saya + anda + chatgpt) lagi brainstroming bareng. Dan ini jawaban ChatGPT.
Gagasan itu intinya mendorong kita naik level: dari sekadar “melihat pola” menjadi menghubungkan pola secara bermakna (sintesis). Berikut beberapa teknik praktis untuk menghubungkan titik-titik:
1. Analogical Thinking (Berpikir Analogi)
Cari kesamaan struktur antara dua hal yang berbeda.
Tanya: “Masalah ini mirip dengan apa di domain lain?”
Contoh: sistem antrean → mirip dengan aliran air (bottleneck).
2. First Principles → Rebuild
Pecah masalah ke prinsip paling dasar, lalu bangun ulang koneksinya.
Hindari asumsi lama yang membatasi.
Ini membantu melihat hubungan yang sebelumnya “tersembunyi”.
3. Cross-Domain Learning
Ambil ide dari bidang lain (biologi, ekonomi, teknik, dll).
Inovasi sering muncul dari “tabrakan” antar bidang.
Contoh: konsep evolusi → dipakai di bisnis & teknologi.
4. Concept Mapping (Peta Konsep)
Tulis ide-ide lalu hubungkan dengan garis/relasi.
Pakai kata penghubung seperti: sebab–akibat, bagian–keseluruhan, dll.
Visualisasi membantu melihat koneksi yang tidak terlihat.
5. Cause–Effect Chains (Rantai Sebab-Akibat)
Tanyakan berulang:
Apa penyebabnya?
Lalu efek berikutnya apa?
Bangun rantai panjang → dari gejala ke akar masalah.
6. Constraint Linking
Lihat bagaimana batasan saling mempengaruhi.
Kadang solusi muncul dari hubungan antar constraint, bukan dari elemen utama.
7. Pattern → Exception → Insight
Lihat pola → cari pengecualian → tanya “kenapa berbeda?”
Insight sering muncul dari hal yang “tidak cocok”.
8. Socratic Questioning
Ajukan pertanyaan dalam:
Asumsi
Bukti
Perspektif lain
Ini memaksa koneksi yang lebih dalam, bukan sekadar permukaan.
9. Narrative Building (Membangun Cerita)
Rangkai fakta menjadi alur cerita.
Otak manusia lebih mudah melihat hubungan dalam bentuk narasi.
10. Iterative Synthesis (Sintesis Bertahap)
Gabungkan dua ide → evaluasi → tambah ide lain → ulangi.
Jangan tunggu sempurna—koneksi berkembang seiring iterasi.
5. Seni mengurai masalah.
Aku cukup sering menyebut Karl Popper di newsletter ini. Selain karena dia adalah filsuf favoritku, menurutku dia juga termasuk sedikit filsuf yang benar-benar berfokus pada persoalan praktis dan empiris yang kita hadapi. Berbeda dengan banyak filsuf lain yang lebih banyak membahas ranah eksistensi dan terlalu jauh pada spekulasi abstrak yang sulit diuji dalam realitas, gagasan Popper justru terasa relevan dan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kutipan di atas sebenarnya sudah cukup menunjukkan betapa pentingnya mengurai sebuah masalah. Namun, aku ingin memecahnya kedalam bentuk point-point agar bisa kita jadikan ceklis yang nanatinya kita gunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari kita.
Berdasarkan gagasan Karl Popper dalam Objective Knowledge, ketika kita membreakdown (mengurai) sebuah masalah, ada beberapa bentuk kejelasan yang bisa kita peroleh:
1. Kejelasan tentang inti masalah
Kita memahami apa sebenarnya yang sedang dipertanyakan.
Menghindari salah fokus atau menyelesaikan “masalah yang salah”.
2. Kejelasan tentang tingkat kesulitan
Kita melihat mengapa masalah itu tidak mudah.
Menyadari bagian mana yang rumit, ambigu, atau belum diketahui.
3. Kejelasan tentang kegagalan solusi awal
Dengan mencoba solusi sederhana lalu mengkritiknya, kita tahu:
Mengapa solusi itu tidak bekerja
Asumsi apa yang keliru
4. Kejelasan tentang batasan masalah
Apa saja constraint (waktu, sumber daya, aturan, dll.)
Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam solusi
5. Kejelasan tentang asumsi yang tersembunyi
Mengungkap hal-hal yang sebelumnya dianggap “sudah pasti benar”
Membuka peluang untuk mempertanyakan ulang dasar berpikir
6. Kejelasan tentang arah perbaikan
Dari kesalahan solusi sebelumnya, kita tahu:
Apa yang harus dihindari
Apa yang perlu diperbaiki
7. Kejelasan tentang alternatif solusi
Muncul lebih banyak kemungkinan solusi (dugaan baru)
Tidak terpaku pada satu pendekatan saja
8. Kejelasan tentang proses berpikir sendiri (metakognisi)
Kita sadar bagaimana kita berpikir dan mengambil keputusan
Bisa meningkatkan kualitas cara berpikir ke depan
9. Kejelasan tentang hubungan antar bagian masalah
Masalah besar dipecah menjadi sub-masalah
Kita memahami bagaimana bagian-bagian itu saling terkait
10. Kejelasan progresif (bertahap)
Pemahaman tidak datang sekaligus, tapi berkembang:
dari solusi buruk → solusi lebih baik
melalui siklus: dugaan → kritik → perbaikan
Intinya, menurut Popper, memecah masalah bukan langsung untuk menemukan jawaban benar, tetapi untuk: memahami mengapa jawaban-jawaban yang tampak jelas justru gagal. Dari situlah kualitas solusi meningkat secara bertahap.
Demikian lima ide menarik minggu ini. Terima kasih sudah meluangkan waktu, selamat menikmati akhir pekan.
. . . .
Bacaan menarik minggu ini: