Ini adalah edisi #14 dari Five Ideas Weekly, di mana saya berbagi dengan Anda 5 hal ide menarik yang saya temukan dari para makers, saintis, engineer, filsuf, hingga seniman.

Sekarang mari kita mulai.

. . . .

1. Mengubah Delusi Jadi Menjadi Kenyataan

https://x.com/AtemPsyche/status/2042335597998563450https://x.com/AtemPsyche/status/2042335597998563450
https://x.com/teslaownersSV/status/2042127986804371821https://x.com/teslaownersSV/status/2042127986804371821
https://x.com/tailopez/status/2046605792531390637https://x.com/tailopez/status/2046605792531390637
https://x.com/thedankoe/status/2046591357263982959https://x.com/thedankoe/status/2046591357263982959

Lagi, saya gak bermaksud menjadi "delusional", ingin menjadi seperti Elon. Tapi apa salahnya belajar dari orang ini.

Yang saya maksud, jadilah delusional untuk level kita sendiri. Karna setiap manusia punya level delusionalnya sendiri. Ya, meskipun apa yang saya katakan ini juga mungkin salah -- karna siapa tahu kamu beneran bisa jadi seperti Elon haha.

Bisa dibilang Elon adalah manusia paling High-Agency didunia ini. Salah satu cara mengukur level high agency adalah:
1. seberapa gak masuk akal ide tersebut terutama bagi kebanyakana orang? semakin delusional idenya, semakin besar effort yang harus diberikan. 2. apakah ia berhasil mewujudkan ide delusional itu?

Kamu juga bisa mengukurunya langsung, sederhana: dengan segala kekurangan, kelebihan dan faktor kompleks lainnya, apakah kamu bisa melakukan apa yang Elon lakukan (membangun roket)?

Karna itu aku mengajak kamu untuk mengaplikaiskan insight ini dalam kontek level mu sendiri. Karna ternyata, untuk selevel kita, ada ide yang kita kira itu delusional padahal nggak. Alias kita sebenarnya bisa mewujudkannya jika kita berusaha.

Misalnya:

  1. Membangun channel youtube 100k subscriber, mungkin bukan delusional.
  2. Keliling dunia mungkin bukan delusional.
  3. Keterima jadi karyawan BUMN mungkin bukan delusional.
  4. Belajar piano secara otodidak mungkin bukan delusional.

Atau anggap semua itu delusional, tapi masih diambang batas kemampuan kita.

Kesimpulan dari point ini: Jangan hanya sibuk memupuk dan mempertajam delusi. Jika hanya dipikirkan, ia hanya akan jadi fantasi. Satu-satunya gunung itu adala kamu, taklukkan dirimu sendiri dan mulailah mendaki.

https://x.com/Kpaxs/status/2041914963757838458https://x.com/Kpaxs/status/2041914963757838458

2. Projek Pembelajaran Mandiri

Baru-baru ini aku gak sengaja ketemu tweet ini haha.

Gak cuma sekedar mendalami teori, ia juga membangun lab praktiknya sendiri.

https://x.com/lindaxie/status/2043550135167193268https://x.com/lindaxie/status/2043550135167193268

Dan ternyata diluar sana, ada banyak simulasi praktik lab fisika, misalnya ini: https://phet.colorado.edu/en/simulations/filter?subjects=physics&type=html

Tweet diatas, membuat saya berpikir "dengan segala keberlimpahan yang kita miliki, harusnya eranya ini banyak melahirkan davinci-davinci baru".

Jika selama ini kita terbiasa menargetkan membaca buku tiap bulannya. Saatnya kita juga punya target-target pembelajaran berbasis praktik. Misalnya belajar piano, belajar bahasa baru, bangun LLM sendiri...

3. Next Bets

“Kami punya sesuatu secara internal yang disebut Next Bets. Dua kali setahun, kami punya panel di mana siapa pun di perusahaan bisa datang dan mempresentasikan dan bilang, ‘Saya pikir kita harus membangun ini.’”

....“Kekhawatiran saya berasal dari membaca hal-hal tentang Steve Wozniak di Hewlett-Packard. Dia terkenal pergi ke HP dan bilang, ‘Saya pikir kita harus membangun komputer pribadi.’ Mereka bilang tidak, dan dia pergi untuk mendirikan Apple.” - Brian Amstrong (CEO Coinbase) from Relentlest

Jika ditarik ke level personal, apa taruhan Anda selanjutnya? Kita butuh hal-hal seperti ini agar pekerjaan kita tidak monoton. Atau jika kamu merasa pekerjaan dikantor gitu-gitu aja, coba kamu buat misi sendiri.

Ditahun 2025 kemarin aku berhasil nulis 3 ebook. Ada banyak hal menarik yang bisa kita lakukan. Ini relate dengan point sebelumnya yang kita bahas. Kita bisa membuat proyek apapun, sekedar mengikuti curiosity, belajar bahasa asing, membuat aplikasi, belajar musik dll.

4. Entrepreneurship is the ultimate game

https://x.com/brian_armstrong/status/2045597064420311523https://x.com/brian_armstrong/status/2045597064420311523

Ternyata saya pernah nulis topik ini disini:

Tobi Fonder Spotify menambahkan pengalamannya:

Video game yang bagus adalah simulasi.

Mereka adalah dunia tersendiri, dan Anda adalah aktor dengan inisiatif tinggi (high-agency), dan Anda memodifikasi hal-hal. Anda melakukan tindakan, Anda membuat keputusan, dan kemudian Anda belajar tentang konsekuensi dari tindakan Anda.

.....Itu mengajarkan saya bahwa pengelolaan sumber daya sangat penting.

.....Itu adalah sandbox kecil yang sempurna untuk mengeksplorasi bagaimana berpikir tentang kapan waktunya membangun infrastruktur, kapan waktunya berinvestasi pada sumber daya, kapan waktunya mempersiapkan diri, kapan waktunya mengungkapkan kartu Anda, kapan bukan waktunya mengungkapkan kartu Anda. Saya pikir itu adalah tempat yang sempurna untuk menghabiskan waktu bagi saya di tahun-tahun remaja, mengingat apa yang saya lakukan setelahnya.

Source: Tobi Lütke: 21 Years of Building Shopify (menit ke 01:58:54)

5. Nasim Nicholas Taleb tentang Inverse Thinking

https://x.com/TalebWisdom/status/2045566309534974260https://x.com/TalebWisdom/status/2045566309534974260

Biasanya di sekolah: pertanyaan sudah ada, kita mencari jawaban yang benar.
Dalam kehidupan nyata (menurut Taleb): seringnya justru jawaban/hasil sudah terjadi, dan tantangannya adalah: “apa sebenarnya pertanyaan yang tepat?”

Disini mari kita brainstorming bareng, kita akan minta ChatGPT untuk membreakdown parktikalnya dan ini jawabannya:

Case 1: Tidak langsung percaya “jawaban”

Misalnya:

Kamu dapat “jawaban”: seseorang sukses besar di bisnis.

Pertanyaan yang keliru: “Apa rahasia suksesnya?”

Pertanyaan yang lebih tepat:
“Dalam kondisi apa strategi itu berhasil, dan kapan itu bisa gagal?”

Ini penting karena banyak “jawaban sukses” itu sebenarnya hanya cocok di konteks tertentu (dan bisa menyesatkan kalau ditiru mentah-mentah).

Case 2: Mengganti fokus dari hasil ke struktur masalah

Contoh:

Hasil: seseorang untung besar dari kripto.

Pertanyaan dangkal: “Koin apa yang dibeli?”

Pertanyaan yang seharusnya:
“Apa risiko tersembunyi, leverage apa yang digunakan, dan apakah ini hasil keberuntungan atau repeatable?”

Kamu sedang “mencari pertanyaan yang benar”, bukan mengejar tiruan jawaban.

Case 3: Dalam keputusan hidup: jangan hanya evaluasi outcome, tapi framing

Misalnya:

Seseorang berhenti kuliah dan sukses.

Pertanyaan salah: “Haruskah aku drop out juga?”

Pertanyaan yang tepat:
“Apa kondisi spesifik yang membuat drop out itu masuk akal, dan apakah aku punya kondisi itu?”

Ini inti anti-bias Taleb: hindari meniru hasil tanpa memahami distribusi risiko dan konteks.

Case 4: “Reverse engineering” realitas

Praktik:

Lihat kejadian → hasil

Lalu “rekonstruksi” pertanyaannya: Variabel apa yang mungkin berperan?, Apa yang tidak terlihat?, Apa yang bisa kebetulan? Berpikirlah seperti detektif.

Case 5: Dalam bisnis atau karier

Daripada: “Strategi apa yang harus aku pakai?”

Ganti menjadi: “Apa jenis kesalahan yang paling sering membuat orang gagal di situasi seperti ini?”

Atau: “Apa asumsi tersembunyi yang kalau salah, semua strategi ini runtuh?”

Demikian lima ide menarik minggu ini. Terima kasih sudah meluangkan waktu, selamat menikmati akhir pekan.

. . . .

Bacaan menarik minggu ini:

  1. Ness Letters: The Busyness Trap
  2. We need to restore work to its sacred function