Ada sebuah panggung yang riuh di luar sana. Panggung di mana orang-orang berebut panggung politik, berteriak tentang nasionalisme di podium mewah, atau memamerkan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang mentereng. Namun, jauh dari lampu sorot itu, di sebuah ruang kelas dengan pendingin ruangan yang kadang mati-menyala, atau di depan laptop yang menyala hingga sepertiga malam, ada jalan lain yang dipilih oleh sebagian orang. Jalan itu bernama: menjadi dosen.

Bagi saya, dan mungkin bagi ribuan rekan sejawat lainnya, mengajar adalah cara paling sunyi untuk mencintai Republik ini.

Jika cinta diukur dari materi, maka profesi ini mungkin berada di urutan paling buncit. Menjadi dosen di negeri ini berarti harus berdamai dengan kenyataan bahwa angka di slip gaji sering kali tidak sebanding dengan beban moral dan intelektual yang dipikul. Kami dituntut untuk menjadi manusia paripurna: mengajar, meneliti, dan mengabdi—apa yang keren disebut sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Namun, alih-alih didukung dengan ekosistem yang menyejahterakan, kami justru kerap tenggelam dalam lautan administrasi. Kebijakan negara belakangan ini terasa lebih fokus pada tumpukan regulasi, borang akreditasi, dan aplikasi-aplikasi baru yang terus berganti setiap musim. Negara menuntut kami berlari menuju standar global, namun kontribusi langsung untuk meringankan beban di pundak kami sering kali terasa absen. Kami lelah, bukan karena ilmu yang kami bagikan, melainkan karena energi kami habis dikuras oleh birokrasi kertas yang kering.

Lalu, mengapa kami masih di sini? Mengapa kami tidak pergi dan mencari penghidupan yang lebih menjanjikan di luar sana?

Jawabannya sederhana: karena kami mencintai profesi ini. Kami mencintai ilmu yang kami pelajari dan bagikan. Ada kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan rupiah ketika melihat binar data di mata seorang mahasiswa yang akhirnya memahami sebuah konsep rumit setelah berjam-jam berdiskusi. Kami mencintai mahasiswa-mahasiswa kami seperti anak sendiri, dengan segala kepolosan, idealisme, dan potensi besar yang mereka miliki.

Lebih dari sekadar profesi, bagi saya, bertahan di jalan sunyi ini adalah wujud cinta tertinggi kepada Allah SWT. Di balik setiap lelah mengoreksi tugas, di balik setiap rupiah yang dicukup-cukupkan untuk kebutuhan keluarga, ada keyakinan bahwa ini adalah ibadah. Menjadi dosen adalah ikhtiar untuk menjemput salah satu dari tiga amalan yang tidak akan terputus pahalanya hingga liang lahat: ilmu yang bermanfaat. Setiap huruf yang diajarkan, setiap integritas yang ditanamkan, adalah saham akhirat yang kami titipkan pada peradaban.

Kami bertahan karena kami memiliki sebuah harapan besar. Sebuah mimpi yang kami rawat baik-baik di dalam ruang kelas.

Kami melihat realita di luar sana: sebuah generasi lama yang mengelola negara ini dengan narasi penuh kebohongan, korupsi yang merajalela, dan hilangnya etika dalam berbangsa. Kami sadar, meruntuhkan struktur yang rusak itu dari luar amatlah sulit. Maka, cara kami melawan adalah dari dalam kelas.

Kami sedang menyemai benih. Mahasiswa-mahasiswa yang duduk di hadapan kami hari ini adalah calon pemuka kebijakan, pengusaha, akademisi, dan pemimpin masa depan. Di pundak merekalah kami titipkan estafet kepemimpinan. Kami mendidik mereka bukan hanya agar pintar secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral. Kami berharap, ketika tiba saatnya generasi lama yang korup itu purna, akan muncul generasi baru yang jujur, amanah, dan takut kepada Tuhannya untuk menggantikan mereka.

Menjadi dosen memang jalan yang sunyi. Tanpa tepuk tangan riuh, tanpa karpet merah. Namun, selama ruang kelas masih menjadi tempat di mana kebenaran disuarakan dan karakter ditempa, kami akan tetap berdiri di sini. Mengajar, mendoakan, dan mencintai Indonesia dengan cara kami yang paling khidmat.