
“Thalib” dalam bahasa Arab artinya penuntut ilmu atau pelajar. Islam dari awal mengajarkan kita untuk “membaca”, “iqra’”. Agama ini (Islam) secara keseluruhan adalah ilmu yang menuntut pemeluknya untuk menjadi penuntut ilmu sepanjang hayat.
Dunia secara umum juga menuntut kita untuk terus belajar. Mempelajari fenomena alam, menemukan teknologi yang mempermudah kehidupan, dan lain-lain. Maka, untuk bisa hidup dengan baik di dunia ini pun, kita perlu belajar, perlu menjadi “Thalib”.
Menjadi “Thalib” tidak mudah, perlu cara, perlu pengorbanan waktu, harta dan energi untuk belajar. Di tengah kesibukan kita masing-masing, kita tetap harus menyempatkan waktu untuk belajar, baik belajar ilmu agama maupun ilmu dunia. Tentunya untuk kesuksesan kita di dunia dan di akhirat.
Lalu apa hubungannya dengan “code” ?
Bagi saya, kata “code” memiliki banyak arti. Dari sisi IT, dari sisi research, dari sisi knowledge management dan dari sisi kehidupan.
Dari sisi IT, jelas “code” artinya ya coding, program. Membuat baris kode untuk dijalankan komputer. Nggak asing kan ? Saya mahasiswa IT, saya dosen IT, jadi wajar kalo saya membahasa tentang code. Code juga menjadi skill dasar yang dibutuhkan di era AI ini. Saya termasuk yang setuju bahwa skill code masih dibutuhkan di era AI.
Dari sisi research, nah saat saya belajar qualitative research, saya tahu istilah code ini.
Jadi gini, dalam penelitian kualitatif, “code” itu kayak label pendek atau stiker yang kamu tempel di omongan orang (dari wawancara), tulisan (catatan lapangan), atau dokumen lain.
Gunanya buat apa? Biar kamu bisa nentuin ide, konsep, atau ciri khas penting dari data itu.
Gampangnya, coding itu proses mecah-mecah data yang banyak dan berantakan jadi potongan-potongan kecil yang gampang dimengerti dan dianalisis. Mirip kayak kamu ngasih stabilo atau tanda di bagian-bagian penting dari sebuah buku, biar nanti kamu gampang nemuin pola, tema, atau teori yang tersembunyi di balik semua data itu.
Jadi, dari segunung obrolan atau tulisan, kita bisa ambil benang merahnya!
Trus dari sisi Knowledge Management ya. Pak Tiago Forte punya konsep CODE, singkatan dari Capture (tangkap idenya), Organize (atur di mana nyimpennya), Distill (saring intisarinya), dan Express (pakai buat bikin sesuatu). Ini dalam konteks Personal Knowledge Management (PKM).
Jadi, bayangin gini: Pertama, kamu Capture semua yang menarik kayak lagi nangkap kupu-kupu pakai jaring, biar enggak ada ide bagus yang lolos. Kedua, kamu Organize semua “tangkapan” itu ke tempat yang pas, biar gampang dicari dan tahu gunanya buat apa (kayak ngumpulin barang berdasarkan kategorinya di lemari). Ketiga, kamu Distill atau saring intisari dari tiap informasi, biar kalau butuh, kamu enggak perlu baca ulang dari awal, cukup lihat poin pentingnya aja. Terakhir, yang paling seru, kamu Express atau pakai semua pengetahuan itu buat bikin sesuatu, entah itu nulis, bikin presentasi, atau ngasih ide di meeting. Intinya, framework CODE ini bantu kamu punya “otak kedua” yang rapi dan produktif di luar kepala kamu!
So, hubungannya apa ?
Dari ketiga sisi makna “code” ini, nyambung buat tools kehidupan kita, terutama sebagai seorang thalib. CODE dalam makna PKM, itu tools manajemen. Code dalam research ini tentang bagaimana memaknai kehidupan. Code dalam coding, itu tentang eksekusi, tentang implementasi. Jangan bayangin code implementasinya hanya coding. Coding itu bisa jadi menyusun program kerja, menyusun roadmap, menyusun project, de el el.
Thalibcode mencoba memaknai kehidupan sebagai proses pembelajaran sepanjang hayat (long life learning). Code adalah cara menjalani kehidupan itu, baik dalam memaknai, planning maunpun eksekusi. Sehingga kehidupan dunia kita tertata rapi yang 100% nya adalah bekal kehidupan akhirat kita.
Aamiin.