Sejak 2018, target di bidang kepenulisan tercapai dengan akurasi 90% (sisanya pasti ada kegagalan, 100% hanya milik Tuhan).

Apa saja yang saya dapat dari karier kepenulisan ini?
-Diundang radio lokal buat ngomongin buku
-Menang kompetisi atau lolos seleksi menulis fiksi dan non-fiksi (Mizan, BIP, Koru, dan beragam penerbit indie keren
-Diundang jadi tamu gala dinner dengan para pembicara TEDx Surabaya karena blog
-Dilamar platform karena blog
-Klien menulis personal sampai lembaga karena tulisan di medsos, dll

Pencapaian itu pastinya karena rida Tuhan, tetapi juga terjadi karena usaha. Salah satu usaha saya adalah memeriksa bocor halus yang berpotensi mengganggu karier menulis sebagai side-journey, selain pekerjaan utama sebagai Japanese Interpreter.

Ketika Usaha Mulai Terasa Mentok

Kalau kamu sudah berusaha keras dan mencoba usaha macam-macam sebagai penulis, tapi merasa stuck atau malah hilang semangat, stop dulu.

Jangan langsung pivot. Bisa aja ini terjadi karena kamu belum cek bocor halus yang menggerogoti aktivitas nulismu.

Bagaimana cara ceknya?
-Cek produktivitas sudah akurat ke goal atau belum
-Cek fokus
-Cek kondisi psikologis
-Cek ego

Empat hal di atas perlu diperiksa satu per satu. Mungkin kamu berpikir kalau ini terlalu merepotkan, tetapi hal-hal kecil yang 'melubangi' kesehatan karier menulis bisa menjadi masalah kalau tidak segera ditangani.

Bocor halus tipe 1

Bocor halus tipe satu yang bikin karier nulismu pertumbuhannya seperti gitu-gitu aja atau mentok meski udah usaha macam-macam adalah
produktivitas yang kurang/belum akurat ke goal utama.

Dulu, sebagai penulis, saya merasa sangat keren ketika membaca 50-80 judul buku per tahun karena merasa inilah sumber BBM (bahan bakar menulis) yang bikin saya nggak pernah kena writer's block.

Namun, saya tetap kena komplain dari klien soal copywriting, dapat job nulis pun tidak happy.

Saya pretelin lagi masalahnya lalu menulis pertanyaan untuk membedah masalah di atas.
1. Sudah banyak baca dan belajar, kenapa skill copywriting nggak naik?
2. Sering dapat job nulis, tapi kenapa aku nggak happy?

Banyak pertanyaan yang saya tulis, tapi dua pertanyaan di atas yang bikin saya akhirnya menerapkan metode LIFE TRACKING. Ini saya lakukan di tahun 2019.

Apa yang saya lakukan?

LIFE TRACKING itu journalling selama 7 hari dari bangun tidur sampai malam hari untuk mencatat kegiatan, durasi, dan perasaan selama beraktivitas.

Gambaran contoh:
04.00-05.30: bangun pagi, salat, nulis (fresh, tapi agak kurang happy pas nulis)
06.00-06.30: siap-siap ke kantor, sarapan (terburu-buru)
07.00-07.30: sampai kantor terus scrolling medsos (niatnya di kantor mau baca buku, malah scrolling, kurang merasa produktif), dst


Di hari kedelapan akhirnya saya menemukan kesimpulan.

Kesimpulannya:
- Saya memang baca buku, tapi nggak ada kaitannya untuk peningkatan skill copywriting saya
- Saya kurang olahraga, makanya energi low
- Job nulis nggak saya kurasi jadi asal terima aja padahal saya kurang sreg
- Scroll medsos bisa bikin rencana buat belajar jadi batal

Setelah semua sisa job nulis selesai, saya mulai lebih picky ketika ada undangan jadi writing coach atau job nulis. Setiap awal bulan, saya tentukan kapan jadwal kelas dan hang out. Olahraga udah masuk jadwal.

Salah satu hal radikal yang saya lakukan adalah menurunkan jumlah target baca per tahun. Dari 50 lebih menjadi 24 judul per tahun. Tiap bulan ada satu buku yang saya baca untuk menajamkan skill sesuai goal nulis dan satu lagi bebas.

Sekarang, saya tiap hari baca manhwa dan satu buku wajib untuk menajamkan skill. Hasilnya?

Skill tajam atau meningkat, klien puas, dan saya tidak lagi menerima job yang tidak saya suka. Makanya target goal achieved jadi naik.

Bocor halus tipe dua

Fokus lemah adalah bocor halus tipe kedua. Ini tidak hanya soal fokus nulis bercabang semacam habis bikin cerpen, belum selesai udah pengin nulis artikel. Fokus yang rusak bisa juga terjadi ketika kamu tidak fokus dengan progres diri dan malah melihat keberhasilan penulis lain.

Caranya agar fokus:
-Banyak minat nulis? Tentukan mana yang diduitin dan mana yang cuma jadi hobi. Fokus harus lebih banyak kadarnya untuk yang dimonetisasi.
-Suka membandingkan diri? Bikin standar hidup menarikmu.
-Minat nulis banyak? Lakukan eksplorasi.

Berikan waktu minimal 6 bulan untuk menekuni satu bidang, publikasikan, tanya feedback pembaca, rasakan apakah kamu bersedia mengulangi proses lagi setahun ke depan? Kalau tidak, baru ganti jenis tulisan.

Mulai niat monetisasi? Cari yang kamu nikmati prosesnya, mau buat karya gratisan dulu untuk dapat testimoni, kamu kepo, dan seperti main game aja rasanya. Gagal coba lagi.

Kalau cuma sekadar hobi, jadikan passion project saja. Money project saya adalah content writing dan copywriting. Passion project yang sesekali saya kerjakan adalah novel dan menulis buku lainnya untuk seleksi atau kompetisi.

Ada penulis yang money project-nya novel, makanya kuat mengejar target 2000 kata per hari dan tangguh di 100 ribu kata per bulan. Gajian dollar didapat di platform fiksi.

Saya sadar kalau saya kurang minat dan tidak sanggup kerja seperti itu ditambah saya juga seorang pekerja kantoran. Jadi, saya menulis novel menunggu saat ada kompetisi yang cuma 30-40 ribu kata dengan deadline 1 sampai 2 bulan.

Menulis novel tetap serius, tapi saya pilih ketika ada momen saja. Sementara itu, menulis artikel tetap berlanjut mingguan sejak 2014. Klien pun saya peroleh dari content writing dan copywriting.

Kalau kamu kreator yang paham batching konten, soal proses nulis pun harus ada batching misal seorang penulis multipassion seperti saya.
Ada yang fokusnya digaspol, ada yang ditunda saat tidak ada waktu.

Ketika sudah masuk money project, ya harus sering upgrade.

Saya dulu tidak suka SEO teknis, tapi di era AI begini, mau mautidak belajar dikit supaya dari content writer naik jadi content strategist level basic. Menulis buku saat ada seleksi, tahu-tahu udah puluhan judul lolos. Sekarang, saya mulai self-publishing.

Kalau sudah punya sistem batching target nulis. Milikilah hobi di luar nulis.
Sewaktu memiliki klien atau mulai monetisasi tulisan, pasti ada kalanya kesal dengan aktivitas menulis atau iri sama penulis lain yang kelihatannya lebih gacor.

Saatnya sekarang kamu punya kehidupan lebih menarik agar tidak ngelihat orang lain aja.

Bocor halus tipe tiga

Bocor halus ini bisa dilihat dan dirasakan dari kondisi psikologis yang gangguannya tidak disadari atau sudah dipahami.

Sejak 2021, penulis yang minta mentoring privat ke saya justru bukan untuk memperdalam skill menulis. Mereka minta diajari tentang cara membangun sistem.

Dan permasalahan mereka bukannya tidak tahu apa itu teknik Pomodoro, apa itu growth mindset. Kebanyakan, mereka datang tanpa memahami kalau punya masalah yang masuk otak bawah sadar alias unconscious.

(Baca Juga: Mengatur Nervous System untuk Personal Branding Penulis)

Saya bukan psikolog, tapi metode yang saya pakai untuk mentoring memadukan neurosains dan psikologi perilaku (teori 4 Tendensi, Mindfulness). Prinsip yang saya pelajari juga dirangkum setelah menjadi Certified CBT Life Coach di Transformation Academy.

Makanya, sebelum setuju mengisi waiting list (karena memang sangat saya batasi sesi 1-on-1), saya berbincang dulu dengan calon klien. Kalau memang saya rasa masalahnya berat banget, maka psikolog/psikiater adalah tempat mereka, bukan ke saya.

Agar karier menulis lancar, kamu harus menyusun sistem.

Sistem itu butuh:
-Mindfulness
-Produktivitas
-Goal Setting
-Critical thinking

  • Ini sistem yang saya praktikkan:
    -Mindfulness pada tendensi (dari teori 4 Tendensi saya termasuk Questioner), menyadari pola kesibukan lewat Life Tracking.
    -Produktivitas itu membutuhkan fokus, energi cukup, manajemen waktu.
    -Goal Setting maksimal 5 jenis per tahun, tapi dibuat sistem kuartal, misal kuartal 1 fokus belajar SEO, kuartal dua belajar Ads.
    -Critical thinking untuk menganalisis yang kurang dan yang bisa dilanjut.  

 Namun, sistem di atas bisa buyar ketika fobia lama saya masuk yaitu
fobia leadership🤣.

Saking parahnya, dulu saya susah networking, trust issue kalau mau delegasi tugas ke orang lain, dan setelah saya gali dengan 'inner work' dan prinsip CBT, akarnya dari pengalaman pernah dirundung saat masih SD.

Fobia itu ketahuan setelah bertahun-tahun tersimpan di nervous system.  

Kunci utamanya untuk mengetahui yang tersembunyi adalah Mindfulness. Stop gerak cepat, analisis, kritis, lalu perbaiki.  

   

Bocor halus tipe empat

Bagian keempat sekaligus terakhir dari bocor halus yang bikin karier nulismu tidak lancar ada pada ego.

Membangun karier menulis itu butuh waktu lama sampai momentumnya terasa pas.

Itulah sebabnya, saya tidak menyarankan kamu menyeriusi dunia penulis dengan 'perut lapar' alias tidak ada pekerjaan utama lainnya.

Bekerja atau berdaganglah untuk memenuhi kebutuhan utama, sambil membangun karier menulis. Terkadang, ada penulis baru yang lebih melejit darimu, ego bisa mengusik menanyakan kapasitas

Menulis hanya menyenangkan ketika hanya menjadi hobi. Ketika sudah dimonetisasi, tentu ada yang harus dikaji dan dievaluasi. Sudah siapkah kamu, wahai penulis?