
Saya selalu tertawa tiap kali membaca quote "Ikuti passionmu" atau kalimat lain yang serupa.
Dulu, sih, saya yang masih belum paham jika mengikuti passion itu tidak bisa diromantisasi juga berpikir tentang hal yang sama. Bagi saya, menulis dan belajar baahsa asing adalah sebuah pilihan hidup yang tidak akan saya buang. Saya mau bekerja menggunakan passion yang saya punya sejak kecil.
Singkat cerita, saya pun bisa mencapainya.
Saya memilih kuliah jurusan Sastra Jepang meskipun nilai-nilai bagus di Kimia dan Biologi. Rasanya cukup sudah belajar dengan mengikuti tren dan sedikit harapan dari ortu. Mereka lebih suka kalau saya mengambil kelas Sains saat SMU.
Nah, saat hendak kuliah, jujur saja, saya sudah punya pilihan sebuah kampus swasta di Surabaya yang jurusan Sastra Jepang-nya sangat keren. Banyak perusahaan Jepang yang merekrut alumni kampus itu. Guru les Jepang saya saja merekemondasikan kampus itu meskipun beliau bukan seorang alumni.
Ortu, terutama Papa, kurang suka dengan pilihan saya. "Kamu kan anak IPA, kenapa nggak coba jurusan yang ada IPA-nya? Kalau mau milih bahasa, harusnya kamu milih Sastra Inggris aja."
This content is for registered members only.
...