"Penulis cuma perlu skill nulis dan bercerita. Kenapa juga harus bikin personal branding?"

Saya tidak sengaja menemukan konten di atas ketika sedang menjelajah di Threads. Sebagai sesama penulis, saya rasa ini benar juga, sih. Menulis itu sudah lumayan menguras otak dan waktu, kenapa juga masih harus ribet berpikir soal branding?

Semakin dipikir, semakin meresahkan. Saya pun akhirnya mengambil keputusan kalau komentar yang saya temukan di Threads itu sebagai wujud rasa capek juga.

Pastinya para penulis sudah sadar dengan perubahan zaman. Hanya saja, namanya manusia biasa, ada saja rasa capek yang menghantam saat melihat karier nulis jalan di tempat.



Skill yang Harus Dimiliki Selain Menulis

Karena sadar kalau skill nulis dan storytelling saja tidak cukup, sejak 2017, tanpa sadar saya sudah mempersiapkan diri. Saat masih jadi penulis pemula, saya rajin ikut seminar digital marketing meski otak ini cuma bisa memahami 20%.

Saya masih menjadi pekerja kantoran dan belum 100% menghasilkan uang dari menulis. Soal ini saya punya alasan. Karena masih lajang dan tidak ada tanggungan, tentu saya ingin melakukan hal yang saya sukai.

Pekerjaan sebagai staf berbahasa Jepang masih relate dengan passion saya apalagi tempat kerja sekarang juga sangat positif dan suportif.

1) Mengatur alur proyek

Perlakukan kegiatan menulismu seperti pekerjaan kantoran. Kamu harus punya jadwal tenggat waktu semua klien, ada jam aktif dan istirahat.

Saya sekarang menjadi penulis untuk dua klien. Karena melihat bobot kerjanya yang lumayan membludak, maka saya sadar batasan diri. Saya akhirnya mencari tim penulis baru agar alur proyek tidak terganggu.

2) Branding

Tidak perlu mencoba viral. Tulislah terus di blog atau newsletter, lalu bagikan perjalanan menulismu dengan di emdsos. Potongan tulisan di blog membuat namamu pun punya daya ungkit karena mulai masuk Google.

Konsisten, tapi tetap sesuai preferensi. Saya mengunggah konten utama sebulan pasti hanya 2 sampai 3 postingan di Indscript. Di dunia nyata, saya pun selalu menyelipkan cerita kalau saya adalah seorang blogger, hasilnya saya dapat klien dari dunia nyata.

3) Daya tahan bagus

Bakat nulis saja sama sekali tidak cukup. Kamu butuh disiplin, daya tahan (waktu gagal atau kena kritik) kuat, dan terus berdoa dalam hati.

Kalau sampai lemah hati, wah kamu harus tahu realitanya.

Menulis buku kadang royaltinya super kecil.

Rating buku rendah dan topik konten yang kamu riset sangat sulit ditemukan? Ketika menjadi penulis artikel, terkadang kamu medapat topik yang tidak kamu sukai.

Jadi, kamu harus berlatih agar daya tahan mental bisa lebih mudah terwujud. Sekarang, kamu sudah masuk tahap apa untuk impian kreatifmu?