SukaSuka#12: Agar Penulis Tidak Kalah dengan AI

Sebuah pelajaran dari pengamatan

Apakah branding kita sebagai penulis akan semakin tenggelam karena AI? Apalagi kalau sekarang kita sudah tahu nih, AI semakin berkembang, mulai dari Cloud, Grok, ChatGPT Gemini, dan lain-lainnya.

Nah, kalau kamu enggak mau brandingmu sebagai penulis itu tidak tersaingi orang-orang yang pure pakai AI, di sinilah tujuan saya menulis agar pola pikir kita sedikit terbuka.

Merenungi Pencapaian

Buat apa kita membangun personal branding di media kalau misalnya skill nulis saja bisa digantikan oleh AI?

Di kelas-kelas menulis yang saya ampu entah itu privat ataupun yang sifatnya komunitas, beberapa pertanyaan mirip saya terima. Penulis takut dengan perkembangan AI yang semakin bagus. Sekarang kita juga bisa melihat jika tulisan-tulisan yang ada di dalam konten itu diciptakan oleh AI sampai ke desain-desainnya.

Terus buat apa kita belajar menulis dan membangun branding di bidang ini kalau misalnya AI akan bisa menggantikan kita semua?

Jujur saja inilah yang sempat saya rasakan sebagai seorang penulis ketika melihat hasil generate artikel yang saya bikin di Cemini dan juga AI. Dua tahun lalu saya mulai melihat dan mengotak-ngatik dan di tahun ini hasilnya semakin bagus. Mengedit foto, membuat ilustrasi, dan menyusun konten blog pun bisa dibantu cepat pakai AI>

Namun, setelah berkubang dalam ketakutan tanpa dasar, saya melakukan perenungan.

Apakah saya takut karena sebenarnya skill nulis masih belum bagus-bagus amat? Hmm, kalau kurang bagus, kenapa klien masih ada terus?

Setiap menerima kritik dan saran pun bisa saya terima dengan terbuka lalu saya praktikkan ke dalam tulisan.

Saya menulis bidang copywriting, artikel untuk klien, novel dan buku non-fiksi juga terbit dari seleksi-seleksi atau kompetisi yang pernah saya ikuti. Makanya, saya pede dengan kemampuan sebagai penulis. Tentunya, saya harus terus belajar.

Kalau Skill-nya Kuat, Tidak Perlu Takut AI

Itulah sebabnya ketika akhirnya saya mulai terjun belajar soal AI dan mengulik prompt, saya tahu nih bahwa sebenarnya justru kalau mau pakai AI, kamu harus punya skill-nya dulu.

Skill storytelling, skill mengetahui tulisan-tulisan yang masih generik, dan masih robotik hingga memasukkan emosi itu hanya bisa kamu punya kalau sudah belajar dan menulis dengan serius. Jadi bukan sekedar hobi lagi.

Khawatir karena belum punya branding kuat

Kamu takut karena kamu belum punya branding yang kuat? Justru meskipun sekarang AI semakin bagus hasilnya, kamu tidak boleh takut untuk menunjukkan tulisanmu di media sosial serta mulai rutin membagikan opinimu lewat tulisan-tulisanmu.

Saya bisa punya klien tidak hnya dari posting rutin di halaman utama medsos, tapi justru karena para pembaca dan audience itu melihat aktivitas saya di Story.

Banyak tulisan pendek berupa rangkaian opini saya masukkan highlight Instagram. Tulisan berupa opini hingga rekomendasi menjadi penarik minat klien.

Blog menjadi kunci penulis

Bangunlah blog meski baru gratisan. AI mengolah data dari internet, sehingga dengan kamu menulis artikel di blog ini akan memperbesar visibilitas untuk menjadi orang sukses. 

Menulis blog akan mendorongmu belajar SEO tipis-tipis. Selain itu, kamu mulai lebih rajin menulis meskipun sedikit jumlah katanya demi bisa berhasil.

 Saya udah menjadi copywriter juga dan punya klien untuk membangun branding mereka. Maka ketika saya menggunakan AI untuk menyusun branding positioning dan lain-lain tetap saya otak-atik lagi karena saya tahu oh iya-iya jiwanya sih jiwanya brand ini enggak seperti ini, jadi saya harus mengedit tulisannya se

Dokumentasikan perjalanan kreatifmu dalam berkarya.

 Jadikan AI hanya sebagai kawan memecahkan ide kasar yang kurang rapi atau tokoh yang kurang detail.

Lakukan ini: 

  • Fokus di satu medsos
  • Rekam proses menulis
  • Branding sesuai karya yang dibuat
  • Bandingkan hasil tulisan sendiri dan yang dibuat AI

Sekarang, kamu akan bertindak seperti apa agar tidak kalah dengan AI?