SukaSuka#13: Menjadi Lebih Lambat, Benar-Benar Membuat Hidup Memikat

Bukan lambat asal selamat, tapi jadi nikmat

Pernahkah kamu mendengar pepatah 'Biar lambat asal selamat'? Ini sudah menjadi sebuah jargon bagi siapapun yang tidakingin tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu.

Tapi, ketika sekolah, kita mengenal kontes cerdas cermat dan guru yang memberi soal sebelum jam pulang. Siapa yang paling cepat menjawab pertanyaan dan benar, bisa mendapat reward.

Saya pun mulai berpikir kalau berpikir dan bertindak lambat, maka saya akan kalah dengan yang lainnya. Ini pun semakin terbawa karena kebiasaan mama di rumah yang menuntut saya berpikir kritis, tanggap, dan tidak lemot.

Cepat dan efisien adalah prinsip Mama. Namun, sejak masih kanak-kanak, meskipun belajar menjadi waktu menyenangkan buat diri, saya pasti menyempatkan waktu rebahan di kasur sambil melihat langit-langit kamar. Ide menulis pun jauh lebih melimpah.

Cepat Malah Menguras Energi


Berbekal prinsip semakin cepat semakin baik, ketika saya mulai serius menjadi penulis, saya pun terus bergerak untuk mengembangkan kemampuan menulis.

Ada kompetisi menulis novel A, saya ikut, padahal di waktu bersamaan saya juga sedang mengikuti kelas menulis cerpen, dan menyelesaikan proyek artikel dari klien.

Otak saya terus berkata, "Kamu harus menulis lebih cepat, belajar lebih giat, terus tambah tantangan."

Ritme terus berjalan tanpa saya sadari hingga tubuh mengalami cedera hingga saya susah menulis selama dua bulan. Saya muak melihat laptop, tapi mau tidak mau harus menyelesaikan sisa artikel untuk klien.

Di saat waktu menulis sedang berkurang karena rasa muak itu, saya semakin banya membaca tentang psikologi perilaku dan neurosains. Saya menjadikan diri sebagai bahan analisis dari teori-teori yang saya baca.

Melambat dengan Nikmat

Saya mempraktikan praktik 'melambat' dengan penuh kesadaran sejak 2017 dan mengalami quarter life crisis.

Banyak hal yang saya lepas dan juga usaha untuk membuang hal-hal jelek yang menghambat saya untuk berkembang baik sebagai seorang manusia dan penulis.

Justru setelah saya merasakan manfaatnya dan membagikan cara saya 'melambat dengan strategis, saya mendapatkan banyak hal menakjubkan.

1. Melambatkan Baca Buku
Ketika saya tidak lagi membaca buku sebanyak 50 hingga 70-an judul demi berlomba-lomba menjadi pembaca tercepat tiap tahun, saya mempertajam skill baru.
Sejak 2022 akhir, saya hanya menargetkan 24 judul buku per tahun. Satu buku saya baca tanpa perlu dianalisis dan satu lagi buku terkait skill yang ingin saya tajamkan.
Hasilnya? Saya mulai paham cara menjadi seorang life coach dan klien privat terus bertambah.

Saya jadi tahu mana skill yang bisa dijadikan penguat fondasi wawasan.



2. Melambatkan Cara Menyikapi Sesuatu
Sejak 2023, saya semakin intens meditasi singkat, olahraga ringan, dan latihan pernapasan.

Secara perlahan, dari yang semula sangat suka aerobik dengan musik kencang, saya semakin menyukai yoga dan pilates di tahun ini.

Ketika berlatih yoga atau pilates, saya belajar dari para coach yang meminta untuk mendengarkan tubuh sambil tetap berusaha semaksimal mungkin. Dampaknya, saya jadi lebih tenang ketika salat dan tahu bagaimana cara mengubah respons panik atau marah ke tenang tidak sampai berjam-jam.

Melambat bukan berarti menjadi malas. Strateginya tetap sama untuk mencapai impian, hanya saja, saya tidak lagi berhasrat untuk ingin sampai ke tujuan lebih cepat dari yang lain. Menikmati tiap napas dan aktivitas, hasilnya diri lebih fokus untuk merasakan proses, bukannya hasil instan