Buat kamu yang suka nulis, jadi content writer, copywriter, atau mungkin penulis di konten media sosial, mungkin bertanya-tanya. Apalagi di era ketika AI sudah menjadi bagian bagi orang-orang yang sekarang berkecimpung di dunia menulis juga pakai ini.
Apakah menulis buku itu masih menjadi sesuatu yang bagus buat kita?
Cerita Dari Penulis 31 Buku
Saya menulis puluhan buku. Bentuknya pun variasi, mulai dari yang cetak hingga digital. Untuk yang cetak, saya sering sekali menerbitkan di penerbit indie yang sedang menyelenggarakan kompetisi. Ada juga beberapa judul yang terbit digital di penerbit mayor dari seleksi.
Menurut saya, dengan mengikuti banyak kompetisi menulis buku, naskahnya jadi cepat selesai, mau itu non-fiksi atau fiksi.
Sebagian besar yang terbit untuk kompetisi tersebut memang fiksi. Dan juga bentuknya mulai dari romance, thriller, sampai cerita fabel.
Buku non-fiksi saya yang terbit digital tahun lalu adalah '22 Ways to Self-Love' yang terbit di BIP Digital. Kemudian, ada buku Interpreter Journey yang juga terbit digital di Mizan.
Walaupun mungkin royalti dari menulis buku tidak sebesar kalau misalnya saya nulis untuk klien (content writing dan copywriting), bagi saya, menulis buku masih sangat worth it karena hubungannya terkait dengan branding.
Lewat Buku, Kita Membangun Bukti
Sebagai seorang penulis fiksi, orang lebih percaya saya sebagai mentor kelas novel atau novelet karena saya berhasil memenangkan kompetisi fiksi dan menerbitkan novel.
Kemudian, ketika saya menjadi mentor untuk kelas-kelas menulis, entah itu content writing atau copywriting, menurut saya ketika ada target audience atau calon murid bertanya tentang apa saja yang saya tulis, saya tunjukkan blog saya dan saya juga tunjukkan beberapa daftar buku non fiksi.
Ini menunjukkan bahwa kita punya kapabilitas atau kemampuan yang sudah diakui oleh penerbit dan juga editor.
Buku melatih komitmen
Bagi saya sendiri, sebenarnya proses menulis buku hingga terbit adalah sebuah bentuk pendidikan yang sangat penting bagi saya sebagai seorang penulis.
Memang benar, kalau kita bisa menulis atau menerbitkan buku sendiri, entah kalian punya penerbit yang bisa langsung tembus di Google Playbook atau kalian jual sendiri lewat platform seperti Tribelio, Lynk, atau Manyar.
Sekarang, kamu juga bisa mencetak buku mandiri. Sudah banyak jasa percetakan yang mau menerima pemesanan sistem PO.
Namun, kalau kamu ingin mendapatkan pendidikan paling bagus sebagai penulis, tentu kamu perlu menerima kritikan, feedback, dan review dari editor profesional. Menulis buku melatih komitmen belajar dan mengatur emosi.
Saya pernah harus merombak 80% naskah walaupun proses terbitnya lewat jalur seleksi. Penulis juga perlu rendah hati untuk melihat sekelilingnya agar tidak terjebak di lingkungan yang kurang suportif.
Value seorang penulis
Selain itu juga, buat teman-teman yang bisa tembus penerbit mayor, entah itu cetak ataupun di digital, kalian jadi punya value lebih.
Meskipun konten medsosmu belum viral, kamu bisa tetap menarik kesempatan karena buku. Inilah value yang bisa kamu bagikan sebagai branding.
Makanya saya saranin kamu juga punya blog, sehingga kamu bisa latihan nulis sedikit demi sedikit. Ketika tulisan terkumpul banyak, bisa kamu jadikan buku dalam satu tema.
Branding itu adalah proses yang panjang. Kita tidak bisa langsung kilat untuk dapat hasil yang positif. Nikmati usahamu, enjoy your writing process, dan mulailah menulis surat cinta untuk perjalanan karier menulismu.