SukaSuka#8: Sudahkah Produktivitasmu Tidak Sia-Sia?

Sudah merasa produktif dengan keren?

Seperti apa produktivitas yang kamu anggap bagus? Apakah ketika kamu berhasil menulis 1000 kata per hari atau mengedit video selama satu jam?

Produktivitas sering kali diartikan dari dalam waktu yang sesingkat mungkin, kita berhasil memproduksi banyak produk. Makanya, di perusahaan yang sifatnya menghasilkan barang jadi, hitungan produktivitas bisa ditentukan dengan standar pasti.

Masalahnya, ini tidak bisa disamakan dengan manusia. Apalagi kalau kamu terlahir sebagai perempuan yang mengalami PMS dan badan kurang enak dari H-7, lalu selama menstruasi pun badan tidak sesehat biasanya. Kalau kamu seorang pria, bisa jadi ada beban pikiran yang membuat tidak fokus.

Manusia itu bukan mesin. Kalau kemampuan kita dihitung dengan angka menit dan jam bisa menghasilkan seberapa banyak, apakah ketika ada fungsi tubuh dan mental yang rusak, reparasinya bisa semudah mesin?

Ketika Produktif Menjadi Tujuan Hidup

Bagi orang-orang kreatif, produktivitas menjadi sebuah tolok ukur keberhasilan dan juga penjara.

Misalnya, kamu ingin terlihat sebagai penulis produktif, maka kamu berusaha membangun kesan itu sebagai branding di medsos dengan membuat konten tentang menulis hampir setiap hari.

Oke, kamu memang terlihat aktif di medsos, kontenmu memikat dan estetik, tapi apakah tulisan yang kamu buat di balik layar itu mengalami perkembangan? (Baca Juga: 3R Buat Produktivitas Penulis)

Hasilnya, kamu terlihat produktif sebagai branding karena kontenmu terus update, tetapi sebagai penulis? Belum tentu. Beda cerita kalau kamu memang sudah menjadi penulis mapan yang punya tim sendiri sehingga hanya fokus di branding.

Produktif tidak seharusnya menjadi tujuan hidup. Ini cukup menjadi bagian penting saja. Bagaimana?

Tahu batasan membandingkan

Ketahuilah kalau kamu tidak bisa membandingkan diri dengan orang lain yang kerjaannya sepertimu.

Mungkin IRT lain bisa menjadi seorang pekerja kantoran karena memang ini sesuai kebutuhan, tapi kalau kamu seorang pebisnis online, itu tidak mengurangi nilai dirimu.

Kamu yang hanya sanggup membuat konten seminggu tiga kali dan sisanya fokus untuk dunia nyata juga sama kerennya dengan yang biasa mengunggah konten tiap hari.

Periksa apakah kamu sudah punya batasan dalam membandingkan diri? Ukuran hidup seseorang itu tidak bisa kita samakan kecuali kita berganti jiwa dengan yang bersangkutan.

Punya makna dari produktivitas

Saya selalu memberi makna tiap kali hendak menyibukkan diri dengan satu kegiatan. Misalnya, kalau mau menulis blog seminggu sekali, memang apa tujuan besarmu? Bisa saja karena kamu mau praktik membangun blog dengan metode SEO atau kamu ingin punya banyak contoh tulisan buat calon klien.

Kamu merasakan perkembangan belajar SEO setelah rajin praktik di blog pribadi. Kalau kamu rutin mengunggah proses melukis contohnya, kamu merasa bahagia karena berkenalan dengan sesama seniman pemula. Akhirnya, kamu punya alasan untuk berkarya karena ada yang mendukungmu meski hanya lima orang saja.

Kenapa kamu harus rutin melakukan sesuatu?

Sudahkah kamu membagi waktu istirahat dan produktif?

Apakah orang-orang terdekatmu tidak merasa kehilangan kamu akhir-akhir ini?

Jawab pertanyaan di atas dan temukan maknanya.

Kalau kamu bisa menemukan jawaban positif, berarti produktivitasmu sudah pada jalur yang benar. Kalau hidupmu malah hanya buang-buang waktu, tapi hati-tubuh-pikiran malah babak belur, berarti ada yang harus kamu rombak ulang dari awal.

Tidak seharusnya orang produktif itu malah menyia-nyiakan waktu terbaiknya.