SukaSuka#9: Latihan 10 Ribu Jam Lalu Jadi Jago? Itu Hoaks!

Sebuah pengakuan dari mantan pelaku latihan 10 ribu jam

Apakah kamu penganut paham latihan 10.000 jam yang akan membuatmu bisa menjadi seorang ahli? Atau apakah kamu juga sangat yakin kalau usaha itu tidak akan mengkhianati hasil?

Dulu saya juga berpikir seperti itu. Saya menulis tiap hari di buku jurnal. Banyak teman-teman yang suka dengan cerita saya. Bahkan, saat masih umur 9 tahun, saya pernah menjalankan bisnis kecil-kecilan dari berjualan cerita bikinan sendiri sampai bisa membeli sepatu incaran dari tabungan jualan.

Saya mengira jika terus menulis dari sekolah sampai kuliah, maka teori 10.000 jam itu bisa membantu saya menjadi penulis profesional sukses.

Kritik Ketika Mengirim Naskah ke Media

Setelah duduk di bangku kuliah, saya ingin naik level. Sebelumnya, saya hanya menulis untuk hobi. Setelah belajar hidup mandiri di kos dekat kampus, saya punya waktu lebih sering untuk mengerjakan tugas di warnet. Dulu, saya belum punya laptop.

Dengan penuh rasa percaya diri, saya kirimkan cerpen ke sebuah majalah islami remaja. Saya cukup sering membeli majalah tersebut dan suka. Saya masih ingat beberapa catatan yang diberikan editornya, meskipun yang akan saya tulis di sini pasti tidak sama persis.

“Penulisan kalimat langsung dan dialog tag-nya masih belum tepat. Ceritanya juga masih ada bagian yang melompat-lompat.”

Saya langsung belajar lebih lanjut dari kritikan editor. Akhirnya, saya tahu bagian mana yang seharusnya diperbaiki dan mana yang perlu dihapus.

Dari sini saja sudah terbukti jika menulis sejak SD, menjuarai beberapa lomba mendongeng secara verbal, dan pernah menjadi juara umum kedua review film ketika SMP, tidak langsung membuat kualitas saya naik.

Orang yang latihan musik berjam-jam sejak kecil, pasti butuh mentor atau bimbingan guru. Kalau kamu bilang sedang belajar otodidak, minimal kamu perlu menonton Youtube dan membaca buku tutorial. Media yang kamu pelajari itu, kan, buatan orang lain juga? Bedanya mereka tidak hadir secara langsung di hadapanmu.

Yang Kamu Butuhkan Itu Feedback

Kamu butuh kritik dan saran. Feedback dari orang lain yang diberikan dengan objektif akan memberikan lebih banyak dampak positif ketimbang hanya berlatih puluhan ribu jam tanpa pernah dinilai orang lain.

Latihan bisa dilakukan mandiri, tetapi untuk tahu di mana titik buta kemampunmu, tentu kamu perlu memberanikan diri untuk menerima feedback.

Yang menjadi masalah adalah tidak semua orang berlapang dada ketika mendapatkan feedback. Nah, inilah yang perlu kamu renungi agar tidak sampai rasa sayangmu pada karyamu (tulisan, musik, kerajinan tangan dll) itu telanjur berlebihan sampai kamu merasa sedih kalau dikritik.

Lebih parah lagi, kamu defensif dan tidak mau upgrade meski sudah dapat komentar yang membangun. Mana bisa skill-mu berkembang? Manusiawi kalau kamu baper atau tersinggung ketika dikritik, tapi kamu juga harus belajar dewasa semisal kritik yang diberikan bisa membuatmu tahu blind spot yang tidak kamu tahu.

Lalu apa yang harus kamu lakukan? Inilah beberapa hal yang saya kerjakan supaya nggak cuma capek-capek berlatih puluhan ribu jam.

1. Belajar dari Ahli

Sekarang kamu bisa mencari kelas gratis hingga kelas berbayar yang harganya terjangkau. Kalau kamu ingin belajar dari seorang mentor, tapi dana belum cukup, tetap rajinlah klik ‘like’ dan simpan konten gratisnya di medsos. Ini akan mengatur algoritmamu sehingga akan mempertemukanmu dengan konten serupa.

Saya pun menemukan kelas atau produk digital yang membahas SEO serta AI jdengan harga jauh lebih terjangkau dari mentor berbeda yang juga sama berpengalamannya dari Ads.

Algoritma Ads mengantarkan saya pada konten mereka karena saya rajin menyukai kreator lain yang serupa topiknya. Bersabarlah sambil terus mengatur algoritma sesuai apa yang kamu mau.

2. Kepoin Ahli

Kamu sudah belajar dari ahlinya? Kerjakan tugasnya, bertanyalah jika diberi kesempatan. Jangan sungkan atau takut terlihat bodoh. Saya mending dianggap amatir dan bodoh karena memang aslinya belum paham, daripada sok keren tapi isinya nol.

Kepoin apa yang mentormu baca dan tonton. Tidak semua hal harus kamu ikuti, tapi kamu setidaknya bisa meraba bagaimana struktur berpikir seseorang dari hal-hal yang ia konsumsi. Kalau itu hal positif, catat, dan aplikasikan di dirimu.

3. Lakukan Review

Sudah melakukan tindakan 1 dan 2? Sekarang saaatnya kamu mengevaluasi hasil belajarmu setelah beberapa bulan. Mana yang cocok, mana yang stagnan, mana yang bagus perkembangannya. Jadikan sebagai silabus pribadi untuk metode yang tepat dan berhasil buatmu.

Ingat, bukan berarti mentormu gagal kalau ada yang tidak berhasil di dirimu. Saya saja bisa mencari dua sampai tiga mentor untuk belajar satu hal yang sama. Makanya, saya tetap bekerja di bidang yang saya sukai yaitu bahasa Jepang agar bisa membiayai proses belajar sebagai penulis profesional.

Proses kamu menjadi keren mungkin saja hanya butuh 3000 jam atau bisa jadi butuh 12 ribu jam. Kamu tidak perlu panik. Lakukan dengan bahagia dan evaluasi dengan mata serta hati terbuka. Jangan hanya latihan membabi buta tanpa tahu kalau latihannya salah arah.