Brak! Suara standar motor matik yang ditendang kasar memecah lamunan saya. Di meja sebelah, seorang bapak tua mengumpat pelan sambil mengelap tangannya yang belepotan oli gardan. Bau menyengat pelumas bekas itu menguar tebal, bercampur dengan aroma kopi hitam pekat di gelas kaca saya yang sudah mulai dingin. Mesin motornya mati total, persis seperti otak saya beberapa detik yang lalu saat menatap layar HP. Saya baru saja menyadari satu kenyataan yang sangat konyol sekaligus mengerikan. Saya hampir saja mengirim naskah esai sejarah yang isinya seratus persen kebohongan, padahal saya merasa sudah melakukan verifikasi silang tingkat dewa.

This content is for registered members only.

...