Bayangkan kamu sedang berdiri di tengah pasar tradisional yang becek. Udara di sekitarmu penuh dengan campuran bau amis ikan, sayuran layu, dan asap rokok kretek dari kuli panggul yang lalu lalang. Di depanmu ada tumpukan mangga. Warnanya merah ranum, kulitnya mulus tanpa cacat, dan wanginya manis semerbak menusuk hidung. Dulu, katakanlah sepuluh atau lima belas tahun lalu, instingmu sangat sederhana: kamu melihat mangga yang bagus, kamu langsung membungkus sekilo, membayar, dan membawanya pulang dengan perasaan senang.

This content is for registered members only.

...