Saya selalu tertawa tiap kali membaca quote "Ikuti passionmu" atau kalimat lain yang serupa.
Dulu, sih, saya yang masih belum paham jika mengikuti passion itu tidak bisa diromantisasi juga berpikir tentang hal yang sama. Bagi saya, menulis dan belajar baahsa asing adalah sebuah pilihan hidup yang tidak akan saya buang. Saya mau bekerja menggunakan passion yang saya punya sejak kecil.
Singkat cerita, saya pun bisa mencapainya.
Saya memilih kuliah jurusan Sastra Jepang meskipun nilai-nilai bagus di Kimia dan Biologi. Rasanya cukup sudah belajar dengan mengikuti tren dan sedikit harapan dari ortu. Mereka lebih suka kalau saya mengambil kelas Sains saat SMU.
Nah, saat hendak kuliah, jujur saja, saya sudah punya pilihan sebuah kampus swasta di Surabaya yang jurusan Sastra Jepang-nya sangat keren. Banyak perusahaan Jepang yang merekrut alumni kampus itu. Guru les Jepang saya saja merekemondasikan kampus itu meskipun beliau bukan seorang alumni.
Ortu, terutama Papa, kurang suka dengan pilihan saya. "Kamu kan anak IPA, kenapa nggak coba jurusan yang ada IPA-nya? Kalau mau milih bahasa, harusnya kamu milih Sastra Inggris aja."
Ketakutan Pada Hal yang Kurang Familiar
Wajar, sih, kalau Papa saya kurang setuju. Beliaulah yang akan menjadi donatur pendidikan saya sampai lulus S1. Dulu, Papa mengizinkan saya ikut les bahasa Jepang karena mengira kalau itu hanya sekadar hobi saja.
Prestasi saya di luar sekolah lebih banyak berkaitan dengan bahasa Inggris. Mulai dari SD hingga SMU, saya pernah menjuarai lomba bercerita bahasa Inggris hingga menjadi finalis kompetisi English Debate.
Jelas saja ketika saya mengutarakan hasrat untuk belajar bahasa Jepang lebih serius di level perguruan tinggi, Papa ketir-ketir. Beliau takut kena jebakan investasi bodong.
"Teman Papa bilang kalau kamu milih bahasa Jepang, rawan mrotol tengah jalan. Banyak yang masuk, sedikit yang bisa lulus tepat waktu. Buang-buang uang kalau kamu nanti nggak kuat kuliahnya."
Saya sadar dengan risiko itu karena guru les Jepang saya juga bicara hal yang sama. Namun, ada panggilan dalam hati yang tidak bisa saya abaikan. Inilah passion.
Saya akhirnya kuliah di kampus tersebut dan akhirnya paham kenapa prodi Sastra Jepang punya sebutan 'mudah masuk, susah keluar'. Tiap naik semester, matkul makin sulit. Bahasa Jepangnya saja sudah bikin pusing, belum lagi belajar bagian filsafat, sejarah, dan analisis sastranya. Banyak senior yang pindah prodi atau menjadi mahasiswa hampir abadi karena terus mengulang.
Namun, saya sudah membuat janji kepada Papa begini, "Nanti, aku bakal jadi yang terbaik di kelas. Papa tenang aja. Aku kuliah pas 4 tahun."
Saya tidak pernah mendapatkan IP di bawah 3,64 dan pernah memperoleh IP sempurna dua kali. Belajar sehari 4-5 jam di kos sampai GERD dan sinus memburuk, mempertahankan beasiswa, ikut klub Shodo untuk menambah jejaring dan uang tambahan. Pernah saya berpikir, "Ngapain dulu aku kok milih Sastra Jepang, sih? Pengin nangis."
Passion saja tidak cukup. Saya belajar tanggung jawab, berlatih, dan menyusun strategi agar tidak sampai gagal kuliah. Pernah saya patah hati dan nilai IP sedikit turun. Waduh, itu membuat otak saya masuk mode siaga.
Menulis Profesional Itu Tidak Hanya Butuh Passion
Berkaca dari pengalaman sendiri selama kuliah hingga akhirnya bisa menjadi staf Japanese Interpreter sekarang, saya paham kalau meromantisasi passion itu adalah hal yang tolol.
Ada kalanya saya muak dengan bahasa Jepang hingga tontonan saya lebih banyak drakor daripada acara berbahasa Jepang, tapi saya tetap membaca artikel Jepang dan belajar mempertahankan kemampuan berbahasa karena di kantor harus berbicara dengan atasan atau kolega dengan bahasa tersebut.
Menulis pun sama. Dulunya, saya menulis di buku diary karena suka dengan prosesnya. Setelah saya mendapatkan job sebagai freelance writer pertama kali semasa kuliah, saya paham kalau monetisasi skill untuk menulis itu penuh dengan tekanan seperti ketika saya kuliah bahasa Jepang.
Masalahnya, saya masih ingin menulis untuk kesenangan, bukan hanya untuk menyenangkan klien.
Makanya, saya pun memutuskan untuk memulai project menulis pakai bolpoin di jurnal lama yang belum terisi penuh. Isinya berupa rangkaian pendapat dan saya selipi gambar atau kliping untuk senang-senang. Project untuk klien tetap jalan, tetapi saya juga masih menumbuhkan kebiasaan menulis tanpa fokus pada nilai.
Jika ingin berhasil dengan skill, kamu butuh disiplin-tenaga-latihan-mindset bertumbuh. Passion cuma bagian awalnya saja. Yang bikin langgeng itu justru usaha dan strateginya. Sekarang, sudah siapkah kamu menekuni passion meski tidak menggairahkan dalam prosesnya?